
"Ga jadi bagaimana, kamu setuju apa enggak dengan proyek yang di tawarkan klien kita?"
"Ya, aku setuju kamu tinggal urus aja semua dokumennya."
"Ok, nanti aku segera urus dokumen proyeknya."
Rania heran dengan sikap Dirga yang sepertinya nampak tak terlalu bersemangat, saat meeting pun terlihat Dirga lebih banyak melamun, ia bisa membedakan mana yang fokus dan yang tidak fokus.
"Setengah jam lagi, jam makan siang kita makan di restoran sebelah yuk ga,"
"Sorry Ran, aku enggak bisa sekarang aku ada urusan bentar. Maaf ya, aku mau keluar bentar nanti kamu tinggal urus aja kalau ada karyawan yang mau bertemu aku." Rania mengangguk.
"Oh, jadi kamu mau keluar. Enak ya jadi CEO bisa istirahat lebih awal daripada karyawannya." Dirga tersenyum kecil mendengar ucapan Rania yang terkesan seperti sedang mencibirnya.
"Ada urusan ran bukannya aku seenaknya keluar di jam kerja," tegas Dirga padanya.
Tak ingin berbasa-basi Dirga langsung pergi ia tidak memperdulikan ucapan Rania barusan, siang ini ia ingin bertemu Sena. Pagi tadi ia bahkan tak melihat wajahnya wanitanya sama sekali, kesalahpahaman diantara mereka harus di selesaikan.
***
Dirga menunggu tepat pada waktunya Sena keluar dari gerbang sekolahnya dan saat ia mata keduanya saling bertemu ingin rasanya Sena menghindarinya tapi karena ada genk Angel yang berdiri tak jauh darinya, mau tidak mau Dirga adalah pacarnya yang di ketahui oleh mereka jadi ia melangkah kan kakinya menuju mobil Dirga dan pria itu tengah berdiri di samping mobilnya ia tersenyum saat wanitanya menghampirinya.
"Ayo pulang," Dirga mengangguk dan Sena masuk ke dalam mobilnya.
Tapi saat di dalam mobil keheningan terjadi diantara mereka Sena tak bersuara sama sekali, ia masih fokus dengan tatapannya pada pepohonan di jalan raya.
"Kita makan dulu ya,"
"Terserah," bahkan saat mengucapkan kata itu ia tak menatap Dirga sama sekali.
Dirga tahu Sena masih marah padanya tapi ia juga sama merasa kesal karena Sena pergi bersama pria lain, tapi ia pun harus menyingkirkan egonya ia bahkan sudah meminta maaf tapi Sena masih saja mendiamkannya.
Bahkan saat mereka sampai di tempat makan pun, Sena benar-benar mendiamkannya tidak bicara sama sekali kecuali saat ia memesan makanan pada waiters tadi.
"Kamu masih marah sama mas?" Sena tak menatapnya sama sekali ia lebih memilih untuk menatap makanannya di bandingkan melihat wajah Dirga.
"Mau sampai kapan kamu diam begini terus? Hey, look at me." Sena melihatnya sesaat dan selepasnya ia fokus kembali pada makanannya.
Dirga menaruh sendok dan garpu nya ia menarik nafasnya, ingin marah tapi tak bisa ia benar-benar harus mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Mas minta maaf untuk kejadian kemarin, ya mas akui yang salah harusnya mas dengerin penjelasan dari kamu dulu." Sena masih diam enggan merespon seketika Dirga berdiri membuat Sena melihat kearahnya.
"SENA SAYANG AKU MINTA MAAF," kalimat itu begitu lantang Dirga ucapkan berhasil membuat beberapa pengunjung melihat aksinya barusan.
"Mas, kamu ngapain sih duduk enggak!" Dirga menggeleng.
"Mas enggak akan duduk sebelum kamu mau maafin mas dan berhenti bersikap cuek kayak gini," Sena mengalihkan pandangannya.
"SENA SAYANG AKU MINTA MAAF," ucapnya sekali lagi, Sena merasa malu karena di perhatikan oleh para pengunjung yang lainnya.
"Iya aku maafin, udah kan ayo sekarang duduk." Sena menarik tangan Dirga dan pria itu menurut tersenyum dan duduk kembali di kursinya.
"Jangan nunduk kayak gitu dong katanya udah maafin sekarang lihat muka mas coba," Sena geram ia menatap tajam Dirga tapi pria itu malah terkekeh.
***
Dirga terus memeluknya hal ini membuat Sena merasa risih di buatnya tapi anehnya Dirga malah mengajaknya ke Vila bukan ke kantornya.
"Sekarang kamu ceritakan sama mas, kemarin kamu kemana?" Sena berdecak lagi-lagi Dirga membahas tentang hal kemarin.
"Kemarin aku pergi sama Nico ke toko khusus alat-alat kimia, kamu kan sibuk jadi aku minta tolong Nico buat anterin lagian aku juga kan enggak terlalu hapal daerah sini." Dirga mengangguk ia sebisa mungkin menerima penjelasan Sena setidaknya Sena sudah mau bercerita padanya.
"Kamu jangan marah lagi ya, kalau kamu marah aku jadi frustasi sendiri." ujarnya seraya memainkan anak rambut Sena.
"Iya tapi orang gila ini kan cuma cintanya sama kamu," Dirga memeluk erat pinggang wanitanya.
Sena mau memaafkan Dirga karena bagaimana pun juga ia pun sama tidak bisa berlama-lama bertengkar dengan Dirga sepertinya Sena sudah benar-benar jatuh hati pada Dirga yang selama ini selalu memberikan perhatian dan kasih sayang lebih padanya.
"Mashh.. " Dirga mencium bibirnya, mereka berciuman dengan Sena yang berada di pangkuannya.
Dan siang ini Sena kembali memberikan kepuasan untuk Dirga dengan memainkan kepemilikan prianya.
***
Dirga mendapatkan telepon dari Rania dan saat itu pula mereka bergegas menyelesaikan aktivitas panasnya.
Sena yang langsung diantarkan pulang berhasil hal itu berhasil membuat Sena merasa curiga dengan sikap Dirga yang aneh tidak biasanya.
Bahkan sore ini Dirga pulang membawa seorang yang sudah Sena kenali siapa lagi kalau bukan Rania.
__ADS_1
"Malam ini Rania akan menginap disini,"
Sarah yang mendengar ia benar-benar merasa tak suka dengan kedatangan Rania tapi ia berpura-pura seakan ia menerima kedatangan Rania.
"Rania kerja di kantor kamu mas?" Sarah bertanya seperti itu karena ia bisa melihat kartu nama yang di gantungkan di lehernya bertuliskan perusahaan milik Dirga.
"Iya Sarah sekarang aku kerja bareng suami kamu jadi sekretarisnya, ya kan ga?" Dirga mengangguk.
Dirga sebenarnya tak ingin membawa Rania ke rumahnya tapi wanita itu bilang, jika ia merasa kesepian di apartemen sendirian daripada ia harus menemaninya di apartemen lebih baik Dirga ajak untuk menginap di rumahnya.
"Maaf ya Sar kalau kedatangan ku menganggu kalian tapi aku benar-benar enggak berani tinggal di apartemen sendirian,"
"Kalau enggak berani kenapa enggak tinggal di panti jompo aja situ rame lho," ujar Sena berhasil membuat mereka terbengong mendengarnya kecuali Maudy yang menahan tawanya mendengar ucapan Sena yang menurutnya itu lucu asal ceplos.
"Sena kamu yang sopan kalau bicara," Dirga menatapnya.
"Emang aku enggak sopan dimana nya sih? Aku kan cuma ngasih saran,"
"Saran kamu itu yang kurang ajar," Sarah bersuara.
Sena merasa aneh dengan mereka ia rasa ucapannya tidak ada yang salah, dan dimana letak tidak sopan nya.
"Lagi pulan kan aku masih muda Sena belum tua jadi untuk apa aku tinggal di panti jompo,"
"Ya kali aja minat,"
"Sena sudah cukup! Kamu ini.. " Dirga menatapnya dan Sena pun menatapnya balik seakan ia tak takut dengan tatapan Dirga barusan.
Dirga tak melanjutkan kalimatnya, ia hanya tak suka melihat tingkah Sena yang bersikap kurang ajar pada Rania karena bagaimana pun Rania adalah tamu di rumahnya.
"Kenapa sih pada sensi banget lagi pada PMS?"
"Sena!" Sarah membentaknya.
"Ok iya sorry mba, bercanda dikit aja pada serius banget." Sena memilih pergi dari ruang living room itu.
Dari pada ia terus-terusan di salahkan lebih baik ia menghindar, sejujurnya ia hanya sedang merasa tak suka karena kedatangan Rania di rumah ini. Apalagi saat ia mendengar Rania bekerja dan menjadi sekretaris Dirga di kantornya pantas saja pria itu sudah tidak lagi mengajaknya ke kantor.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1
Bantu Vote, Like dan Komentarnya ya prend karena dukungan dari kalian sangat membantu agar semangat author kembali membara :)
SEMAKIN BANYAK LIKE, VOTE DAN KOMENTAR DARI KALIAN AUTHOR BAKALAN CRAZY UP!