Love Toxic

Love Toxic
Bab 90 - Enlarged Problems


__ADS_3

Saat ini keduanya sama-sama lebih memilih saling diam meskipun saling duduk berduaan tidak ada satupun yang mau membuka suara dan hal itu semakin membuat Dirga merasa jengah apalagi sekarang Sena yang sedang kearah dapur ia lupa belum meminum susu ibu hamil yang setiap hari harus di konsumsinya. Sena kesulitan mengambil kotak susunya yang ada di atas laci dapur tingginya yang kurang dan badannya yang mulai terasa berat berhasil membuatnya kesulitan untuk menggapainya sampai akhirnya Dirga membantu mengambilkan untuknya.


"Kamu tuh kalau mau buat susu bilang aja sama aku nanti aku buatkan," Sena mengambil alih kotak susunya.


"Makasih, enggak perlu aku bisa buat sendiri udah sana mendingan kamu istirahat gih sana nanti kecapean lagi," ujar Sena.


"Ya udah kalau emang kamu bisa sendiri," kata Dirga yang melenggang pergi begitu saja aksinya barusan itu berhasil membuat Sena kesal bukannya membujuknya malah mengiyakan dan pergi begitu saja.


Bukannya Dirga tidak ingin membujuknya tapi wanita itu jika terus-terusan di ladenin jadi tambah parah sifat kekanak-kanakan nya jadi sekarang ia hanya bisa mengikuti keinginan Sena maunya bagaimana.


"Kamu enggak mau keluar?" Sena menggeleng saat mendapatkan pertanyaan Dirga barusan itu.


"Padahal aku udah pulang lebih awal lho tapi kamu malah enggak mau keluar, kemarin minta keluar sekarang enggak," ujar Dirga.


"Ya kalau kamu mau keluar, ya keluar aja sendiri atau kalau mau keluar bareng aja sama Rania sana dia kan pasti mau kalau diajak sama kamu," kata Sena dengan entengnya.


Dirga mengusap wajahnya dia kesal, "Kamu kenapa sih bawa-bawa Rania terus, aku sama dia itu enggak ada hubungan apapun! Kejadian tadi siang iya ok aku emang cerita sama dia tapi aku enggak pernah merasa terbebani apapun sama kamu," ujar Dirga dengan lantang.


"Aku enggak pernah bilang kamu sama dia ada hubungan, ya kalau pun ada hubungan juga itu hak kamu terserah lagian juga bukannya Rania itu lebih dewasa, lebih cantik, pintar dan yang pasti berpendidikan ya kan makannya kamu terus pertahankan dia jadi sekretaris kamu," ujar Sena yang menahan emosinya.


Ya, Rania memang sempurna tidak seperti dirinya hanya wanita yang mungkin sedang mendapatkan keberuntungan saja bisa di cintai pria seperti Dirga.


"Kamu maunya apa sih?" kata Dirga


"Mas nanya aku maunya apa? Mau aku kamu pecat Rania dari kantor kamu mas bisa? enggak bisa kan!"


"Ya kamu aneh minta aku pecat Rania dengan alasan apa coba? Kamu cemburu please jangan sangkut pautkan rasa kecemburuan kamu dengan pekerjaannya," ujar Dirga.


Sena terdiam ia sudah semakin kesal kepadanya dan ia sudah malas untuk berbicara dengan Dirga karena pada akhirnya pria itu memang tidak akan pernah mengerti akan dirinya. Jadi, ia putuskan untuk masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Dirga sendirian dengan emosinya di bawah sana.

__ADS_1


***


Dirga tahu Sena sedang marah kepadanya dan sekarang wanita itu mengurung dirinya di dalam kamarnya sendirian, jika tahu akan seperti ini lebih baik Dirga tidak pulang lebih awal Sena memang sangat keras kepala sulit sekali untuk mendengarkannya.


"Kamu kalau emang masih cinta sama dia kenapa nikahnya sama aku sih," kata Sena sendiri matanya sembab karena terus-terusan menangis.


Dan karena terus-terusan menangis kepalanya jadi terasa pusing ia sendiri kesal pada dirinya kenapa harus bersikap seperti ini pada dirinya sendiri harusnya ia tak perlu menangis segala.


"Sena sayang buka pintunya aku mau masuk," mendengar suara Dirga ia langsung masuk ke dalam toilet membasuh wajahnya karena bagaimana pun ia tidak ingin terlihat seperti orang yang baru saja menangis.


Dia membuka kunci pintu kamarnya, "Masuk aja enggak di kunci," katanya yang sudah berada di ranjang kasurnya.


Melihat Dirga yang sudah masuk ke dalam kamar ia langsung merebahkan tubuhnya dan menyelimuti dirinya sendiri ia tak ingin Dirga melihat wajahnya yang terlihat sembab. Tapi sayangnya Dirga sudah melihatnya dengan jelas Sena menangis dan ia tahu itu matanya sembab melihat Sena yang menangis pasti karena dirinya entah mengapa Dirga jadi merasa sangat bersalah seharusnya tadi ia tidak perlu mengatakan kalimat itu pada Sena.


"Kamu enggak mau makan sesuatu?" tanya Dirga yang sekarang ikut bergabung di ranjang kasur mereka.


"Enggak, aku ngantuk pengen tidur." kata Sena yang menutupi wajahnya dengan selimut tebalnya.


"Kamu belum tidur?" mendengar suara Dirga yang sepertinya sama belum tidurnya juga seketika Sena langsung memejamkan matanya berpura-pura untuk tidur.


"Kamu kalau mau sesuatu bilang aja sama nanti aku beliin," kata Dirga tapi tak ada respon balik dari Sena.


Sepertinya Sena benar-benar sudah tidak ingin merepotkan Dirga jadi sekarang apapun yang Sena inginkan ia harus menahannya sendiri ataupun Sena harus melakukannya sendiri tanpa harus merepotkan Dirga kembali bukankah dari dulu ia sudah terbiasa mandiri jadi untuk apa ia sekarang merepotkan orang lain, tapi Dirga bukan orang lain.


***


Keesokan harinya Dirga kembali pulang lebih awal tapi sampai di rumahnya ia tak mendapati Sena bahkan saat ia memutari seisi rumahnya ia pun tak melihat keberadaan wanitanya itu.


"Bibi lihat Sena enggak?" tanya Dirga khawatir pada pembantunya itu.

__ADS_1


"Tadi nyonya keluar sendirian tuan, di temenin saya enggak mau katanya mau keluar sendiri,"


"Iya keluar kemana?" tanya Dirga yang sekarang semakin khawatir.


"Katanya mau beli sate yang ada di depan komplek tuan,"


"Sendirian?" bi Ratih mengangguk dan secepatnya Dirga langsung mengeluarkan motornya yang jarang dia pakai.


Dirga benar-benar tidak habis dengan pikiran Sena sepertinya Sena benar-benar tidak berpikir tidak ingin membuat Dirga merasa terbebani sampai berani keluar sendiri pantas saja dari kemarin Sena sudah tidak lagi merecokinya meminta ini dan itu padanya dan benar saja Dirga sekarang melihat Sena yang sedang berdiri mengantri membeli sate di depan komplek mereka.


"Mas Dirga? Mas ngapain kesini,"


"Kamu yang ngapain disini harusnya kamu bilang sama aku kalau mau minta di belikan sate biar kamu enggak perlu jalan kaki ke sampai depan komplek segala," tutur Dirga.


Sena menarik Dirga menjauhi sedikit dari beberapa orang yang sedang ikut mengantri ia malu jika sampai orang lain mendengar pertikaian mereka berdua.


"Aku cuma enggak mau ngerepotin kamu lagi aku juga enggak masalah kok kalau harus jalan kaki, udah mending mas balik duluan aja ke rumah aku masih harus ngantri dulu." Sena bisa melihat dengan jelas pakaian Dirga yang masih lengkap bahkan pria itu masih belum mengganti pakaian kerjanya.


"Kamu kan bisa suruh bi Ratih atau pak Rizal buat beliin sate kemana harus beli sendiri sih?"


"Aku pengennya beli sendiri, udah ya mas jangan bawel ini di luar rumah malu di lihatin banyak orang mending kamu pulang sana kamu belum bersih-bersih kan. Aku nanti menyusul," Dirga menggeleng.


"Enggak aku enggak akan pulang, aku tungguin kamu disini mana mungkin aku ninggalin kamu sendirian disini."


"Terserah kamulah,"


Ya, Sena hanya tidak ingin merepotkan Dirga jadi dia putuskan untuk melakukan segala sesuatu dengan sendiri dan sekarang Dirga bersikukuh untuk menemaninya mengantri. Bahkan sekarang Dirga sedang merasa kesal pada Sena karena wanita itu sangat keras kepala bisa-bisanya berpikir jika ia tidak ingin merepotkan nya, ini semua gara-gara ucapan Rania menjadikan Sena bersikap seperti ini kepadanya.


TBC.

__ADS_1


Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)


__ADS_2