
Sena berada di Vila milik Dirga baginya Vila ini sudah serasa seperti rumahnya. Selepas pulang dari sekolah ia memutuskan untuk pulang ke Vila ia berharap menemukan pria itu, tapi kenyataannya di Vila tak ada siapapun kecuali pembantu dan pekerja paruh waktu lainnya yang membersihkan Vila.
Sena duduk di tepi kolam renang sesekali ia melihat layar ponselnya, tak ada satupun pesan dari Dirga sejak semalam ponsel pria itu tidak bisa di hubungi sama sekali bahkan saat pagi-pagi Sarah sudah di buat cemas karena Dirga tidak pulang semalam.
"Kamu kemana sih?" gumamnya sambil melihat chat kemarin dengan Dirga.
Sena jadi ingat akan teman Dirga yang pernah bertemu dengannya di kantor Dirga ia merasa jika wanita itu bukan sekedar teman biasa, ia pun merasa ada sesuatu yang di tutupi Dirga padanya.
"Sepertinya ada yang sedang merindukan ku," suara khas bariton itu, suara yang sangat Sena kenali saat ia melihat siapa pemiliknya.
"Mas Dirga," Sena berdiri melihat dengan jelas benar-benar Dirga di hadapannya.
"Kau merindukan ku huh?" Sena menggeleng.
"Enggak, mas kali yang merindukan aku ya kan?" ucapnya beralibi, Dirga terkekeh mendengarnya.
"Iya aku merindukanmu, semalam tidak melihatmu sudah berhasil membuatku sangat-sangat merindukanmu." Dirga memeluk tubuh Sena erat sesekali menciumi puncak kepala wanitanya.
Sena menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Dirga, mendengar Dirga merindukannya berhasil membuatnya merasa bahagia karena di rindukan Dirga.
"Baru aja semalam belum satu tahun," Sena menatapnya.
"Hey jangan berbicara seperti itu ucapan adalah doa," Dirga mencium bibir wanitanya.
Sena mendorong jauh tubuh Dirga membuat sang empu mengerutkan dahinya, apa yang membuat Sena mendorong tubuhnya.
"Kenapa?"
"Mas bau belum mandi ya?" Dirga terkekeh.
Ya, benar saat memutuskan pergi dari apartemen ia memang tidak mandi sama sekali. Saat itu pula ia langsung berangkat ke kantor dan langsung melaksanakan meeting dengan kliennya dan ia hanya mencuci wajahnya.
"Mas apaan sih turunin enggak!" pintanya terkejut akan aksi Dirga.
"Ayo kita mandi bersama biar sama-sama fresh," Dirga membopong tubuh Sena membawanya masuk ke dalam.
"Enggak mau.. "
***
Dirga menyisir rambut Sena yang sekarang tengah duduk di pangkuannya, setelah melakukan aktivitas panasnya mereka langsung mandi kembali padahal tadi mereka berdua sudah mandi tapi karena ulah Dirga membuat keduanya harus mandi kembali.
"Kemarin malam Mas kemana, kok enggak pulang? mba Sarah sampai heboh sendiri tadi pagi," tanyanya pada Dirga yang masih senang menyisir rambutnya.
__ADS_1
"Ada urusan mendadak di kantor tadinya mas mau pulang tapi karena udah malam banget jadi mas putusin buat tidur di kantor saja..
" Kenapa kamu kesepian huh karena tidak ada aku yang memelukmu saat tidur?" Sena mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Dirga yang sangat percaya diri itu.
"Aku tidak kesepian sama sekali ya mas, justru semalam itu adalah tidur ter-nyenyak dalam hidupku."
"Oh jadi menurut mu aku ini hanya nyamuk yang terus mengganggu tidurmu?" Sena mengangguk membuat Dirga memeluknya erat dan menciumi seluruh wajahnya.
"Mas lepas ih, apaan sih kebiasaan deh kamu mah ah."
"Aw kamu.. " karena kesal dengan Dirga yang terus menciumnya Sena sampai tega mencubit pinggang Dirga yang tubuhnya bertelanjang dada berhasil membuat sang empu merasakan sakit.
"Minggir sana, mendingan mas pesankan makanan buat aku dari tadi aku kelaparan tau," Dirga mencium pipinya kembali.
"Uh jadi kamu kelaparan sayang, baiklah mas pesankan makanan kau ingin makan apa huh?" Sena tampak berpikir sejenak.
"Enggak jadi deh, mendingan kita keluar aja cari makanan sekalian jajan ya mas ayo." Sena melemparkan kaos ke arah Dirga menyuruhnya untuk secepatnya mengenakan bajunya.
Dan lagi Dirga menurutinya lagi pula ia juga paham pasti wanitanya merasa bosan di dalam kamar terus karena bagaimana pun usia Sena masih 18 tahun sikapnya masih seperti seorang bocah yang kerjaannya masih ingin terus bermain-main.
***
Mobilnya terparkir di tempat parkiran umum suasana sore hari lumayan tak sepanas pada saat siang hari.
"Orang kaya enggak biasa ya ke tempat umum kayak gini," cibir Sena.
Sena langsung berlari ke salah satu pedagang kaki lima yang menjual berbagai gorengan.
"Kamu jangan beli makanan sembarangan kalau mau corndog kita bisa beli di restoran," Sena menggeleng.
"Ini tuh bukan corndog tapi ini tuh cilor, enggak tau cilor ya?"
"Enggak!" Dirga bukannya tidak tahu ia sebenarnya tahu hanya saja ia ingin berpura-pura bodoh di depan wanitanya.
"Bang cilornya 10 ribu ya," pesannya dengan suara manisnya.
"Siap neng," abang cilor mulai membuat pesanan Sena sambil menunggu Sena menghampiri penjual jasuke.
Dirga yang sedari tadi hanya bisa diam dan mengikuti ke penjual mana lagi yang akan Sena hampiri. Hampir semua penjual jajanan kaki lima Sena beli jualan mereka.
"Uang, uangnya mana sekarang giliran kita bayar." Dirga mengeluarkan kartu ATM memberikannya ke Sena.
"Mas yang bener aja sih masa iya bayar pakai kartu ginian, uang cash mana?" Dirga memberikan dompetnya pada Sena.
__ADS_1
"Tinggal segini uang cash nya?" Dirga mengangguk ia memang jarang menggunakan uang cash ia lebih suka menggunakan kartu black card nya.
"Emang cukup segitu?" Sena tersenyum manis.
"Cukup sangat cukup bahkan ini masih bisa ada kembaliannya," Dirga tak percaya dengan uang tiga ratus ribu bisa membayar semua jajanan yang di beli Sena.
Selesai membayar mereka kembali ke dalam mobil dan sekarang tinggal menuruti kemana keinginan Dirga.
***
Meja nomor 28 penuh dengan makanan dari jajanan yang terdiri dari cilor, cakue, seblak kwetiau, bakso ikan dan juga martabak ketan tak lupa Sena juga memesan Sushi dan juga corndog mozarella dan juga dua minuman boba rasa coklat dan tiramisu.
"Kamu yakin bakalan habis ini semua makanan?" Sena mengangguk.
"Kan bukan cuma aku aja yang makan, mas juga harus ikutan makan." Dirga menggeleng ia tidak mau makan makanan jajanan kaki lima yang menurutnya sudah tidak fresh.
"Kok gitu sih, aku pesan segini banyak tuh biar bisa di makan bareng-bareng kalau tau kayak gini mending aku enggak makan sekalian."
"Lho kok kamu jadi marah sih, aku akan cuman enggak mau makan jajanan itu aja kecuali Sushi nya aku mau." Sena berdiri membuat Dirga bingung dengan sikap bocah nya itu.
"Kita pulang aja, makanannya enggak usah di makan kasih aja ke orang rumah." katanya dengan wajah juteknya.
"Ya udah iya ok-ok kita makan bareng-bareng ya, udah ya jangan ngambek." Dirga menyuruhnya untuk duduk kembali dan senyum sumringah Sena tunjukkan di bibirnya.
Dan benar saja Dirga mau memakan jajanan yang di beli Sena ternyata rasanya tak seburuk yang Dirga pikirkan ia bahkan sangat menyukai cilor yang berisikan sosis itu dan Sena yang melihat Dirga ikut makan, ia merasa senang karena berhasil membuat pria itu mau menuruti keinginannya.
"Eum.. Ini enak banget lho mas cobain deh," Sena memberikan satu suapan Sushi ke mulut Dirga membuat sang empu membuka lebar mulutnya.
Sena mengocok minuman boba rasa tiramisu yang di pesannya, ia meminumnya sampai belepotan di bibirnya.
"Cobain deh ini enak tau," Dirga memajukan tubuhnya dan seketika mengecup ringan bibir Sena yang berhasil membuatnya membulatkan matanya sempurna.
"Mas!"
"Eum.. Rasanya manis sayang," katanya seraya memainkan lidahnya di bibirnya.
"Ck! Modus banget sih,"
Dirga suka melihat Sena kesal, ia juga suka melihat Sena yang menunjukkan sikap ke kanak-kanakan nya hal-hal yang di lalui bersamanya membuat Dirga merasakan hidupnya yang dulu mati terasa hidup kembali, itulah sebabnya ia pasti akan menuruti apapun yang diinginkan Sena asalkan wanitanya selalu tetap ada di sisinya.
TO BE CONTINUED..
Minta Vote, Like dan Komentarnya ya prend karena dukungan kalian sangat membantu semangat author kembali membara :)
__ADS_1