
Saat ini sepasang suami-istri tengah menikmati udara sejuk di sore hari, di gazebo dekat kolam renang rumah mereka. Dirga yang terus memeluk Sena dari belakang seraya mengelus perut besar istrinya.
"Maafkan aku ya sayang," kata Dirga.
"Maaf untuk apa?" Sena mendongakkan kepalanya menatap Dirga yang sekarang menatapnya jua.
"Maaf untuk semua yang perbuatan aku yang pernah buat kamu kecewa," ujarnya Sena yang mendengar ia langsung mencium bibir Dirga pelan.
"Sudahlah mas semuanya sudah berlalu bukannya kamu bilang ingin memulai segalanya denganku," Dirga mengangguk dan langsung menyambar bibir Sena.
Mereka berciuman dengan pelan sebelum sampai akhirnya perut Sena terasa keram, hal itu berhasil membuat Sena kesakitan.
"Perutku.. "
"Kenapa? Perut kamu kenapa sayang?" tanyanya seraya ikut menyentuh perutnya.
"Keram.. Perut aku keram mas,"
"Kita ke rumah sakit ya sayang," Sena menggeleng.
"Jangan, ini udah biasa kok di istirahatkan sebentar juga Langsung mendingan," jawabnya.
"Ya udah ayo kita ke dalam, kamu istirahat di kamar aja." Dirga membawa tubuh Sena masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam kamar Sena langsung rebahan di kasurnya Dirga yang masih khawatir karena melihat wajah Sena yang sedikit pucat ia lebih memilih menghubungi ibunya untuk datang ke rumahnya.
"Kamu panggilkan dokter dong ga,"
"Aku udah nyaranin buat panggil dokter tapi Sena enggak mau ma," kata Dirga dari balik ponselnya.
"Ya udah Mama sama Papa secepatnya bakalan ke rumah kamu dan kamu panggil Wiliam atau dokter Raisa yang biasa tanganin ibu hamil," ujar Renata yang sama khawatirnya.
"Iya-iya Dirga bakalan telepon Raisa suruh ke rumah,"
Dirga secepatnya memanggil Raisa salah satu dokter kandungan kepercayaan di keluarganya, setelah menunggu setengah jam Raisa datang ke rumah Dirga.
"Ga, dimana istri kamu?"
"Ada di dalam kamar,"
Raisa mengikuti Dirga masuk ke dalam kamarnya dan mereka mendapati Sena yang masih gelisah karena rasa sakit keram di perutnya. Melihat Dirga bersama wanita lain, Sena langsung memicingkan satu alisnya sampai akhirnya Dirga menjelaskan siapa Raisa.
"Mas ini siapa?"
"Sayang.. Ini Raisa dokter kandungan kepercayaan di keluarga Sebastian," Sena ber-oh-ria mendengarnya.
"Halo salam kenal ya, Saya periksa dulu ya," Raisa langsung melaksanakan tugasnya sebagai dokter spesialis kandungan.
Sepanjang pemeriksaan Dirga senantiasa terus menemani Sena di sampingnya sampai Raisa selesai memeriksanya.
"Kamu dulu sering beraktivitas ya seperti bekerja saat kamu sedang hamil begini?" Sena mengangguk.
__ADS_1
"Nah itulah sebabnya kamu sering keram jangan diulangi lagi ya, ibu hamil tidak dianjurkan untuk bekerja seperti wanita pada umumnya, kamu harus lebih sering istirahat nanti saya akan berikan resep obat untuk meringankan sakit keram nya. Nanti kalau perut kamu keram lagi minum obat yang saya berikan ya untuk meringankan sakitnya," ujar Raisa.
Raisa berusaha sebisa mungkin menjelaskannya dengan baik pada Sena, ia bisa melihat jika Sena masih di bawah usia dengannya bahkan sekarang Raisa masih tidak percaya jika Dirga akan menikahi seorang bocah.
"DIRGA.. SENA BAGAIMANA KEADAANNYA?" ujar Renata yang seketika masuk ke dalam kamar dengan Bastian.
"Mama, Sena udah di periksa sama Raisa dia bilang nanti rasa sakit keram nya akan hilang kalau Sena sudah meminum obat yang di sarankan Raisa,"
"Ya udah kamu suruh pak Rizal untuk segera tebus obatnya di apotek," Dirga mengangguk mendengarkan kata Bastian.
Sekarang melihat kekhawatiran dari kedua mertuanya berhasil membuat Sena merasa di perhatikan oleh mereka tapi sayangnya sampai sekarang Sena belum juga bercerita pada kedua orang tuanya yang ada di Aceh, ia masih belum siap untuk menceritakan segalanya ia takut penyakit ayahnya kambuh ketika mendengar kabar ini darinya.
***
"Mama dan Papa mau menginap disini untuk beberapa hari takut nanti Sena kenapa-kenapa lagi," kata Renata.
"Mama sama Papa pulang aja, Dirga bisa kok jagain Sena." jawab Dirga yang merasa bisa menjaga istrinya sendirian.
"Enggak! Mama tetap mau disini, kalau seandainya besok pagi kamu kerja siapa yang jagain istri kamu nanti, pokoknya mama mau menginap disini."
"Udahlah Ma kita pulang saja biar Dirga menjaga istrinya sendirian," ujar Bastian.
Melihat keduanya saling bersikukuh Sena mencoba melerai perseteruan anak dan ibu itu.
"Mas kalau emang mama mau menginap disini, izinkan saja lagian apa kata mama itu ada benarnya kok besok pagi kan kamu pasti kerja nanti aku sama siapa? Bosan juga sendirian,"
"Nah sekarang kamu dengarkan istri kamu aja dibolehin," Dirga menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
"Kamu ini bisa-bisanya mikir berduaan, istri lagi kesakitan kayak gini juga." kata Bastian seraya menggelengkan kepalanya.
Bisa-bisanya Dirga tidak mengizinkan ibunya sendiri untuk menginap di rumahnya hanya karena dia tidak ingin di ganggu saat berduaan dengan Sena.
***
Malamnya Sena belum juga tertidur dia masih melihat langit-langit putih, matanya sulit terpejam sedangkan Dirga sudah tertidur sangat pulas di sampingnya.
"Mas.. Mas Dirga bangun," Sena tega membangunkan suaminya yang sedang tertidur pulas.
"Hmm.. Apa sih sayang ini udah malam,"
"Mas! Bangun dulu,"
"Kenapa? Perut kamu keram lagi?" Sena menggeleng, Dirga di buatnya bingung.
"Terus kenapa kamu bangunin aku, mau di pijitin?"
"Aku lapar," kata Sena.
Dirga mengusap wajahnya dia kira Sena kenapa tiba-tiba membangunkannya dari tidurnya.
"Ya ampun.. jadi kamu lapar kirain apa, ya udah kamu tunggu disini aku ke bawah ambilkan makanan dulu,"
__ADS_1
"Aku mau makan yang lain," Dirga mengurungkan niatnya untuk berdiri.
"Terus kamu mau makan apa?" tanyanya dengan mata yang masih mengantuk.
"Mie Yamin, mie yang dulu pernah kita makan di tempat tuh aku mau makan itu mas," ujarnya seraya menunjukkan puppy eyes-nya.
"Kamu jangan mengada-ngada deh ini udah malam, lagian tempatnya juga jauh banget makan yang lain aja ya," Sena menggeleng.
"Enggak mau, aku maunya makan mie yamin. Ya udah deh kalau emang kamu enggak bisa nurutin maunya aku apa, aku tahan aja laparnya nanti juga di bawa tidur hilang laparnya," ujarnya seraya menutupi kembali wajahnya dengan selimut.
"Ya udah iya-iya aku usahain semoga aja masih ada tukang antar makanan yang belum tidur," ujar Dirga mendengar ucapan Dirga Sena langsung membuka selimutnya dan tersenyum manis kearah suaminya.
"Beneran ya di usahain dan harus dapat pokoknya,"
"Iya-iya, tunggu aku pesankan." katanya yang bersandar di kasurnya.
Dirga langsung mencari lewat aplikasi pesan makanan yang ada di ponselnya, kebetulan warungnya masih buka tapi yang menyebalkan nya adalah susah mendapatkan tukang antar makanan di jam pukul 11 malam ini.
"Ayo dapat.. dapat.. Ah ****! Masa iya sih jam segini enggak ada yang mau anterin makanan,"
"Kamu datang langsung aja ke tempatnya," celetuk Sena.
"Jauh banget sayang tempatnya, kita pesan lewat online aja," ujar Dirga.
Dia memulai ulang kembali dan pada akhirnya usaha Dirga membuahkan hasil masih ada go food yang mau mengantarkan pesanannya.
"Akhirnya.. Udah tinggal tunggu setengah jam lagi juga datang makanannya," katanya seraya memeluk Sena yang di sampingnya.
"Kamu pesannya sekalian dua kan," Dirga mengangguk.
"Aku pesan lima sekalian biar kamu kenyang," katanya bercanda.
Sena terkekeh mendengarnya, meskipun bukan Dirga langsung yang membelinya setidaknya apa yang Sena mau terpenuhi. Lagi pula, ia juga harus mengerti keadaannya memang sudah sangat larut malam di malam hari seperti ini sangat rawan akan bahaya.
***
Setengah jam kemudian mie yamin yang di pesan tiba seketika Dirga sendiri yang turun kebawah mengambilnya dan tidak lupa ia pun memberikan tip lebih untuk kurir pengantar makanannya.
"Sayang ini mie yamin yang kamu mau, ayo bangun keburu nanti mienya mengembang," ujar seraya menyibak selimut yang menutupi istrinya.
"Apaan sih mas aku ngantuk ih," sahutnya yang menarik kembali selimutnya.
"Ngantuk, di makan dulu mienya ini pesanan kamu lho," Sena kesal ia menatap Dirga.
"Kamu aja yang makan aku ngantuk, ingat dilarang marah-marah sama ibu hamil." ujarnya seraya menyelimuti kembali tubuhnya dengan selimut.
Dirga terdiam di tempat Sena membuatnya kesal, dia sudah rela bangun dari tidurnya bahkan menunggu setengah jam sendiri untuk makanan itu tiba dan sekarang wanita itu memintanya untuk memakannya sendiri.
Beruntung Sena adalah wanita yang dicintainya, jikalau bukan mungkin Dirga akan marah besar karena sudah di permainkan.
TBC.
__ADS_1
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)