
Pagi itu Sena berangkat ke sekolah lebih pagi sebelum semuanya terbangun kecuali Bi Mina yang sudah melihatnya terbangun lebih awal.
Dirga yang mengetahui hal itu ia semakin merasa kasihan kepada Sena, apa gadis itu merasa takut untuk berhadapan langsung dengan Sarah dan yang lainnya atau dia ingin menenangkan dirinya. Bukannya takut Sena hanya ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu kejadian tadi sore benar-benar membuatnya harus menahan amarahnya, ia begitu merasakan sakit hati ketika Sarah melemparkan kalimat anak haram kepadanya.
Di sekolahannya Sena lebih memilih banyak diam berhasil membuat Flo kebingungan teman barunya itu hanya akan bicara saat di tanya dan saat ini mereka sedang duduk menikmati udara sejuk di pagi hari di taman yang di sediakan pihak sekolah.
"Hai pagi,"
"Sena itu di sapa Juan," kata Flo mengingatkan temannya yang sedang terdiam.
"Iya pagi juga,"
"Gue bolehkan gabung duduk sini bentar,"
"Enggak boleh!"
"Kenapa?"
Sena menatapnya sinis, "Kalau kamu disini yang ada nanti pacar kamu si trio angel itu bakalan marah-marah lagi sama aku, jadi please tolong ngertiin." ujarnya tegas.
"Sori gue belum punya pacar, gue paham maksud lo." katanya langsung pergi, Juan tahu harus kemana pagi ini.
Sesampainya di kelas Juan langsung menghampiri Angel bersama kedua temannya yang sedang asyik mengobrol, saat melihat Juan menghampirinya Angel langsung merasa senang ria.
"Lo jangan senang dulu, gue kesini bukan mau basa-basi sama lo."
"Maksud kamu apa sih Juan?"
"Lo enggak usah pura-pura enggak tau, gue tau kemarin lo ngelabrak Sena ya kan. Angel jujur ya gue enggak suka sama sifat dan sikap lo yang seenaknya kayak gini."
__ADS_1
"Juan aku bisa jelasin,"
"Cukup enggak perlu penjelasan, Gue itu bukan pacar lo dan perempuan mana pun itu berhak dekat sama gue termasuk Sena. Kalau sampai gue denger lo gangguin Sena lagi gue enggak akan tinggal diam!" ujarnya tegas selepasnya ia langsung keluar dari dalam kelasnya meninggalkan Angel yang merasa sakit hati karena sudah di marahi dan di oleh bentak Juan.
"Sena tunggu pembalasan gue!"
***
Saat pulang sekolah Sena yang baru saja keluar dari gerbang sekolah ia mendapati sebuah mobil hitam ferarri terparkir di depannya ia tahu betul siapa pemiliknya.
"Ayo masuk,"
Bukannya mendengarkan perintahnya Sena justru memilih terus berjalan berhasil membuat sang pemilik mobil kesal di buatnya.
Mobilnya berjalan pelan menyamakan langkah kaki Sena, demi apa Dirga begitu sabar dengan tingkah seorang bocah.
Dirga kesal terpaksa ia turun dari mobilnya dan langsung berlari menghampiri Sena yang masih berjalan tanpa memperdulikan keberadaannya.
"Berhenti, ayo pulang."
"Enggak mau! Aku pengen pulang jalan kaki aja."
Dirga kesal ia langsung menggendong paksa Sena walaupun awalnya meronta tapi akhirnya Sena terdiam saat Dirga memasukkan paksa dirinya ke dalam mobil.
Di dalam mobil hanya ada keheningan dari tadi tidak ada pembicaraan dari diantara mereka tetapi sesaat kemudian Sena kebingungan dengan jalan yang Dirga pilih pasalnya ini bukan jalan menuju komplek rumah.
"Mas Dirga kita mau kemana?"
"Kamu mau menenangkan diri ya kan, udah diem aja nanti juga kamu tau." sahutnya.
__ADS_1
Dan benar saja beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah Vila mewah milik Dirga.
"Ini.. "
"Vila pribadi punya saya," katanya seraya membuka pintu dengan passwordnya.
"Disini biasa saya nenangin diri saya, mau ke lantai atas?" Sena mengangguk, mereka ke lantai atas di sana terdapat sebuah balkon besar yang di sediakan untuk langsung melihat pemandangan indah dari taman.
"Disini kamu bakalan ngerasa tenang sambil ngeliatin pemandangan, ini.. " Dirga melemparkan kunci sebuah kamar.
"Itu kunci kamar kalau kamu mau istirahat bisa tidur di sana, pintu depan juga bisa di kunci dan orang enggak akan bisa masuk sekalipun tau kode pin nya." sambungnya kembali dan ia memutuskan untuk pergi.
"Mas mau kemana?"
"Pergi, saya enggak akan ganggu kamu sampai perasaan kamu udah tenang kabari saya nanti saya jemput tenang aja saya udah panggil pembantu yang biasa bersihin Vila ini buat nemenin kamu jadi kalau kamu butuh sesuatu tinggal panggil Bi ranti." selepas itu Dirga benar-benar pergi meninggalkan Sena di Vila miliknya.
Sena memilih duduk di sebuah sofa yang langsung ke interior kaca yang menghadap ke pemandangan dari arah jauh, ia merasa nyaman sekalipun perutnya terasa lapar dan benar saja baru beberapa menit mbok ranti membawakannya makanan pasti Dirga yang menyuruhnya.
***
Sarah mengurung dirinya di kamar keadaannya masih seperti kemarin perasaannya masih terus mengingat kalimat penolakan dari Dirga bahkan sekarang ia sedang mengamati dirinya di cermin, ia rasa dirinya begitu cantik tidak ada kurangnya tapi mengapa seorang Dirga begitu sulit untuk melihatnya.
"Harus dengan cara apalagi aku bisa memilikimu ga, kita dekat tapi kamu enggak bisa aku ikat."
Maudy yang sekarang tau situasinya beberapa hari memperhatikan sikap kakak iparnya kepada kakaknya dan terutama mereka yang tidak satu kamar semakin membuatnya paham bahwasanya Dirga sepertinya tidak mempunyai perasaan kepada kakaknya tapi yang sekarang masih Maudy bingung kan mengapa mereka bisa menikah. Ingin bertanya lebih ia takut membuat Sarah marah.
"Aku yakin ada yang di sembunyikan Mba Sarah tapi apa ya,"
TO BE CONTINUED..
__ADS_1