
"Mas apaan sih dari tadi marah-marah mulu, lagian aku yang jalan kaki aja enggak kenapa-napa kok kamu malah ngomel mulu," ujar Sena yang sekarang bersama Dirga telah sampai di rumah mereka.
"Kamu enggak mikir apa kalau seandainya di luar sana kamu kenapa-napa gimana, kalau tiba-tiba ada orang yang berniat jahat sama kamu gimana?" Sena menggeleng heran.
Padahal Sena baru saja keluar berapa menit tapi Dirga sudah berbicara panjang lebar bahkan berpikiran yang tidak baik tentang di luar sana.
"Terserah kamulah mas lagi enggak mood aku buat debat sama kamu," katanya yang melenggang pergi masuk ke dalam kamarnya.
Dia geram melihat tingkah Sena yang sekarang setiap hari selalu ada saja membuatnya merasa jengkel, di tambah sekarang Sena sudah tidak mau lagi merepotkan nya, sudah jelas-jelas wanita itu lebih mengikuti egonya dia tidak pernah berpikir akan resikonya.
"Sena,"
"Apalagi sih?" katanya yang sekarang menatap Dirga.
"Kenapa?" yang di tanya tetap terdiam tak bergeming setelah itu ia langsung mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi, hal itu berhasil membuat Sena ingin sekali menabok wajah Dirga yang menyebalkan itu.
"Ck! Dasar suami aneh," katanya seraya memakan kembali sate yang barusan dia beli.
Sena sepertinya memang sedang berada di fase mengidam jadi wajar saja jika dia terkadang meminta sesuatu yang tidak melihat kondisinya terlebih dahulu. Ya, seperti sekarang rela berjalan kaki demi membeli sate yang dia inginkan.
***
Dirga yang sedang duduk di sofa dengan pahanya menjadi tumpuan laptopnya yang sekarang sedang dia mainkan, pekerjaannya masih begitu sangat padat jadi seperti inilah dia sekarang meskipun di rumah fokusnya akan ke pekerjaannya lagi pula Sena juga sudah tidak mau mengandalkannya lagi.
"Ck! Sibuk terus, kerja terus," cibir Sena seraya berdiri berjalan keluar dari kamarnya, ia bosan terus-terusan melihat pemandangan Dirga yang sibuk dengan laptopnya.
Sena yang sedang berjalan turun dari anak tangga ia tak sengaja melihat bi Ratih yang sedang membuka pintu depan seperti ada seseorang di luar pintu sana.
"Siapa bi?" kata Sena seraya berjalan kearah pintu depan.
"Ini nyonya ada karyawannya pak Dirga," Sena melongok melihat ke depan ia mendekati Rania yang sedang tersenyum manis kearahnya, dari mana Rania tahu kediamannya.
__ADS_1
"Ada perlu apa kamu kesini?" kata Sena yang tidak suka melihat keberadaan Rania.
"Selamat sore maaf menganggu tapi aku kesini di suruh Dirga untuk memberikan dokumen penting," ujar Rania.
"Oh, ya sudah mana dokumennya biar aku yang kasih ke mas Dirga," Rania menggeleng.
"Maaf tapi ini berkas penting dan aku harus kasih langsung ke Dirga dan aku inikan ingin bertamu ya di rumah kamu seharusnya kamu kasih izin aku masuk untuk duduk dulu gitu," Sena jengkel mendengarnya, bilang saja jika dia ingin bertemu dengan Dirga.
"Ya, silahkan masuk bi buatkan dia minuman," kata Sena seraya mempersilakan Rania masuk ke dalam rumahnya.
Tanpa sungkan Rania langsung masuk dan melihat-lihat pernak-pernik di rumah besar ini, dan Sena langsung mengingatkan Rania akan dimana ruang tamu mereka.
"Ruang tamunya di sebelah sini, bukan di sana! gimana sih katanya tamu tapi enggak ada sopan nya sama sekali lagi," ujarnya tapi Rania yang bermuka tebal itu ia sudah tidak malu dengan umpatan Sena untuknya.
Rania duduk di sofa yang ada di ruang tamu dan seketika Sena langsung menelpon Dirga yang ada di atas jika pria itu kedatangan tamu spesial. Dirga yang penasaran siapa tamunya ia langsung turun ke bawah dan saat melihat ia menggelengkan kepalanya bisa-bisanya Sena mengatakan jika Rania adalah tamu spesialnya.
"Rania? Kamu bawakan berkasnya," tanya Dirga seraya duduk di samping Sena.
"Kamu apaan sih Sena, berkas ini harus diambil Dirga langsung ga kamu lihat kan sekarang istri kamu ini enggak ada sopan santunnya sama sekali,"
"Ck! Kamu banyak omong deh apa bedanya sih diambil sama aku atau mas Dirga," Sena mengambilnya paksa dan karena Rania yang lebih kuat pegangannya berkasnya tak sengaja Sena tarik sampai robek jadi dua.
"Ga bukan aku ya, kamu lihat sendiri kan Sena yang ambil paksa berkasnya sampai sobek kayak gini,"
"SENA KAMU BISA ENGGAK SEHARI AJA JANGAN BUAT AKU KESAL, INI BERKAS PENTING." ujarnya seraya mengambil alih berkasnya yang sudah sobek.
"Maaf mas aku enggak sengaja," katanya yang merasa bersalah.
"Rani makasih karena udah anterin berkasnya, dan maaf untuk sikap Sena tapi sebaiknya kamu pulang," Rania mengangguk dan bahkan sebelum Rania keluar dari rumah mereka, Dirga sudah terlebih dahulu naik keatas membawa berkasnya meninggalkan keduanya yang sedang saling tatap.
"Makasih bu Sena untuk minumannya, aku permisi dan oh iya aku kagum dengan besarnya rumah kamu ini lebih luas dibandingkan apartemen yang Dirga berikan untukku," ujarnya dan selepasnya ia langsung keluar dari dalam rumah itu.
__ADS_1
Sena masih tidak habis pikir dengan ucapan Rania barusan, jadi Dirga memberikan Rania sebuah apartemen kenapa Sena baru tahu sekarang. Apa yang sedang di sembunyikan Dirga kepadanya.
***
"Mas," Dirga menatap Sena yang memanggilnya saat pintu kamar mereka telah tertutup.
"Kenapa?" katanya cuek.
"Kamu mau nanya sama kamu, apa bener kamu kasih Rania apartemen kamu?" tanya Sena tanpa berbasa-basi.
"Iya," jawabnya yang berhasil membuat Sena marah.
"Kamu kasih dia apartemen kamu kenapa kamu enggak bilang dulu sama aku, aku ini istri kamu apa bukan sih mas?" Dirga menatapnya dia melihat mata Sena yang memerah.
"Ck! Kamu kenapa lagi sih marah karena aku kasih Rania apartemen aku, lagian aku kasih dia apartemen itu sebelum kita menikah," tuturnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
"Oh jadi waktu itu kamu enggak pernah anggap aku sama sekali iya begitu," kata Sena kembali tapi Dirga seperti orang yang mengacuhkannya.
"Mas aku ini lagi ngomong sama kamu, harusnya kamu dengerin aku dong!"
"Terserah kamulah, aku lagi capek kayak gini juga kamu marah-marah mulu." katanya yang menatap sekilas selepasnya fokus kembali pada laptopnya.
Sena yang sudah semakin naik pitam dia mengambil laptop Dirga dan membantingnya ke lantai, dia paling tidak suka diacuhkan apalagi hanya karena sebuah pekerjaan melihat aksi Sena yang berani membanting laptopnya Dirga pun sama dibuat marahnya, dia menatap Sena tajam.
"KAMU INI KENAPA SIH TADI NGERUSAK BERKAS PENTING AKU, SEKARANG KAMU BANTING LAPTOP AKU, KAMU INI.. "
"Apa! Kamu mau tampar aku kayak dulu tampar aja,"
Sena menatap Dirga yang kini tengah menahan emosinya dan selepasnya ia memungut laptopnya dan melenggang pergi keluar dari kamar mereka, Dirga akan kewalahan jika terus meladeni perdebatan dengan Sena.
TBC.
__ADS_1
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)