
Dirga mengunci pintu ruang kerjanya setelah itu ia mencium bibir Sena dengan ganasnya sampai membuat tas selempang milik Sena jatuh ke lantai.
"Mas,"
"Tenang aja pintunya udah aku kunci, kita bisa have fun disini." ujarnya seraya menyambar bibir wanitanya kembali.
Lidah mereka saling bertautan, Sena sudah terbiasa dengan ciuman ganas Dirga ia bahkan memberikan kebebasan pada lidah pria itu untuk mengekspor dalam rongga mulutnya. Dirga menggesekkan kepemilikannya yang masih terbungkus di dalam sana pada croup Sena.
"Kamu merasakannya.. "
Dirga sudah sangat bergairah pasalnya semalam mereka tidak bercinta karena saat Dirga mandi wanitanya sudah tidur lebih dulu, bahkan saat kemarin aktivitas panas mereka terganggu karena kedatangan resepsionis memasuki ruangannya dan saat inilah waktunya.
Mereka bercumbu kembali Sena mengalungkan kedua tangannya pada leher Dirga dan tangan nakal Dirga mulai meremas kedua bukit kembar wanitanya yang masih terbungkus. Tangannya berpindah ke bawah menyingkap rok abu-abu Sena merasakan pants ketat milik Sena.
"Mas.. " Sena mengerang kenikmatan merasakan elusan dan sekarang jari Dirga bermain di dalam miliknya.
Dirga merasa senang hanya karena permainan tangannya berhasil membuat Sena mencapai pelepasannya. Ia kini menurunkan tubuhnya ke bawah, Sena menempelkan tubuhnya pada dinding tembok ia pasrah saat Dirga di bawah sana melepaskan pants ketat dan cdnya menampilkan kepemilikannya yang sudah basah.
"Mas.. " Sena mengigit bibirnya saat merasakan benda basah memainkan kepemilikannya. Dirga benar-benar tidak memberikan jeda untuknya bernafas dan sekarang bibir liar milik pria itu terus mengekspornya.
***
Dirga membuka tiga kancing atas seragam putih Sena menampakkan bra hitamnya.
Suara kecupan terdengar jelas di ruangan itu apalagi dengan posisi Sena berada di atas pangkuan Dirga membuat kedua kepemilikannya mereka terasa bergesekan meskipun kepemilikan Dirga masih terbungkus tapi dengan bergesekan saja membuat keduanya merasa nikmat.
Tangan nakal masuk ke dalam seragam putih itu dan meremas kedua bukit kembar yang masih terbungkus dengan bra hitam.
Sena terus mengimbangi ciuman Dirga pada bibirnya. Terasa tangan Dirga melepas kaitan branya dan mengeluarkan satu bukit kembarnya, seketika bibirnya langsung berpindah menciumi dan juga mengulum niplenya layaknya seorang bayi yang sedang menyusu.
__ADS_1
Dirga membuka satu persatu kancing seragamnya dan melepaskannya, ia juga menyingkirkan bra hitamnya terlihat jelas kedua bukit kembar kenyal milik Sena menggantung sempurna di hadapannya.
"Sayang lihatlah dulu aku pernah menyentuhnya untuk pertama kalinya tapi ukurannya tak sebesar ini sekarang, apa karena aku yang terus menyentuhnya." ujar seraya memainkan dan menekan niplenya.
"Kamu menyukainya?" Sena mengangguk.
Sena mencoba melepaskan sabuk pinggang Dirga dan melorotkan celana panjang itu hanya setengahnya tapi sudah berhasil menampakan kepemilikan Dirga yang gagah siap untuk menerjang.
***
Mereka berciuman dengan penyatuan mereka yang menyatu dengan sempurna Dirga sengaja tidak langsung memainkannya ia ingin merasakan hangatnya wanitanya.
"Mas," Sena mulai menaikan pinggulnya secara beraturan.
Membuat keduanya sama-sama merasakan kenikmatan yang tak bisa di gambarkan dengan kata.
Dirga melepas jasnya yang membuatnya merasa gerah padahal ruangannya terdapat AC ia juga melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya sedang Sena terus bermain di atasnya.
Dirga mengangkat tubuh wanitanya merebahkan tubuh wanitanya di sofa ia bersiap memasukkannya yang besar kembali di dalam sana.
"Mas enggak pakai ******?"
Dirga menggeleng ia memasukannya perlahan, ia tak membutuhkan pengaman karena Dirga pernah bermain dengan Sena menggunakan pengaman dan menurutnya rasanya aneh ia tak menyukainya, Dirga lebih suka ketika miliknya masuk sempurna tanpa pengaman dengan begitu bisa merasakan hangat dan sempitnya milik wanitanya.
Dan sekarang Dirga baru tau bercinta di Kantornya ternyata sangat ekstrim dan juga menyenangkan, nikmatnya masih sama ia jadi ingin mencobanya saat mereka di dalam mobil.
Mereka terus bercinta di atas sofa itu, lagi dan lagi sampai Dirga melupakan jadwal meetingnya demi memuaskan libidonya yang sudah sangat tak terbendung dan ia merasa senang wanitanya selalu mau melayaninya kapanpun itu.
***
__ADS_1
Tubuh Sena terasa pegal-pegal setelah percintaan panas mereka, Sena langsung mandi di kamar mandi khusus yang ada di ruangan Dirga.
"Kamu pasti capek ya," Sena mengangguk dengan pertanyaan bodoh Dirga barusan, bagaimana ia tidak lelah meladeni nafsu Dirga yang terus-terusan tak puas hanya satu atau dua ronde saja.
Dirga memeluknya mesra ia mengecup puncak kepala Sena merasa senang karena sudah di puaskan oleh wanitanya. Mereka berciuman kembali cukup lama sampai akhirnya Sena melepaskan ciumannya.
"Mas udah ah!" Dirga terkekeh mendengarnya ia tahu Sena sebenarnya sudah sangat kelelahan dan mengantuk.
"Udah jam 4 sore aku ada meeting yang tertunda tadi, kamu bisa tiduran dulu di sini nanti kamu tinggal kunci aja pintunya dari dalam." Sena mengangguk, Dirga mencium dahinya sebelum ia benar-benar keluar dari ruangannya.
Saat Sena baru saja memejamkan matanya suara pintu terbuka membuatnya berhasil membuka matanya ia lupa mengunci pintunya. Seseorang sama terkejutnya saat keduanya saling pandang.
"Maaf kamu siapa ya?" Sena gelagapan atas pertanyaannya.
"Ku rasa aku tidak salah ruangan, ini benar ruangan CEO kan?" Sena mengangguk.
"Oh iya benar ini ruangan CEO, pasti ada perlu sama mas Dirga kan. Bentar lagi juga mas Dirga selesai dari meetingnya.. " Sena hendak keluar tapi langkahnya terhenti.
"Tapi ngomong-ngomong kamu siapa ya kok bisa ada di ruangannya Dirga?"
"Aku adik iparnya tadi mba Sarah nyuruh aku buat menyampaikan sesuatu sama mas Dirga tapi sampai sini mas Dirga nya lagi meeting jadi aku tungguin sampai ketiduran," ujarnya panjang lebar seraya terkekeh.
"Oh gitu, Sarah itu istrinya Dirga kan?" Sena mengangguk, Sena benar-benar harus berakting se-profesional mungkin ia tidak ingin semua orang mengetahui hubungannya dengan Dirga.
"Sekarang kamu pulang? Dirga nya kan belum kelar dari meeting nya." Sena menghentikan kembali langkahnya, bisakah ia keluar dengan mudah.
"Ini udah sore lagi pula udah lama juga nungguin, aku duluan sampaikan saja jika ada adik iparnya tadi menunggunya." Rania mengangguk. Ya, wanita itu Rania yang berani masuk ke ruangan Dirga tanpa mengetuk pintu ruangannya.
Dan akhirnya Sena bisa keluar dari ruangan itu beberapa karyawan lain menatapnya ia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu, mereka mungkin pasti akan mengira jika dirinya adalah simpanan bosnya. Bagaimana tidak di cap simpanan seorang perempuan berseragam SMA sering diajak masuk keluar dengan bebas oleh CEO di kantor mereka itu sudah sangat jelas mereka pasti menganggapnya seorang simpanan.
__ADS_1
Tapi memang itu benar kenyataannya ia memang perempuan simpanan jadi untuk apa Sena harus membenci tatapan yang di layangkan padanya.
TO BE CONTINUED..