
"Sam hari ini lo aja ya yang urus schedule meeting nya, hari ini gue enggak bisa datang kantor."
"Ok ga, tapi ga ada Rania tuh dari tadi pagi dia nungguin lo terus di lobby." Dirga menaikan satu alisnya, cewek siapakah dia.
"Lo bilang aja ke dia, lain kali aja ketemunya hari ini gue enggak ke kantor. Udah itu aja pesan gue thanks sam," sambungannya terputus, Dirga beralih melihat Sena yang sekarang sedang duduk lemas di ranjangnya.
"Kamu mau makan sesuatu?" Sena menggeleng, ia tidak ingin makan apapun ia hanya ingin bermalas-malasan di kamarnya.
"Bisa enggak aku minta sesuatu sama mas?"
"Bilang aja kamu mau apa?"
"Hari ini aku pengen istirahat dan lagi enggak mau di ganggu bisa kan mas Dirga keluar dulu, aku lagi pengen sendiri," Dirga mengerutkan dahinya.
Permintaan macam apa yang Sena minta padanya padahal keberadaannya di kamar ia hanya ingin memberikan bantuannya jika Sena menginginkan sesuatu tapi wanita itu malah menyuruhnya untuk keluar.
"Ya udah mas keluar, kalau ada sesuatu yang kamu mau tinggal telepon mas aja." Sena mengangguk ia memberikan senyum manisnya.
Sena merasa senang karena Dirga mau keluar dari dalam kamarnya, keberadaannya bersamanya pasti akan mengundang kecurigaan dari kedua saudaranya lagi pula Sena juga sendirian di kamarnya, sikap Dirga yang berlebihan terkadang sedikit membuat Sena merasa risih akan sikapnya.
"Bi Mina kalau Sena mau sesuatu langsung buatkan jangan banyak mikir!"
"Dan satu lagi kalau Sarah dan Maudy masuk ke kamar Sena terus dia marah-marah ke Sena bi Mina harus langsung lapor ke saya, saya ada di ruangan kerja saya." Mina mengangguk mendapat perintah dari tuannya.
Sebenarnya Dirga sedang merasa kesal ia sudah rela memberikan satu hari waktunya untuk menjaga wanitanya tapi dengan teganya Sena malah mengusirnya dari dalam kamarnya.
***
"Maaf mba hari ini pak Dirga tidak berangkat ke kantor mungkin besok mba bisa menemui pak Dirga,"
Rania sebenarnya heran kenapa Dirga tiba-tiba tidak berangkat bekerja padahal pria itu bukan termasuk pria yang malas dan satu hal lagi kemarin ia bisa dengan bebas masuknya ke ruangan Dirga tapi sekarang saat ia hendak ke ruangannya ia malah di larang masuk dan malah di suruh menunggu di lobby.
Beberapa pesan Rania kirimkan pada Dirga tapi pria itu tidak membalasnya sama sekali.
"Apa Dirga marah gara-gara kejadian kemarin tapi kayaknya enggak mungkin deh,"
"Udah gue bilang kan Dirga enggak datang ke kantor hari ini, masih aja di tungguin," Samuel terkekeh melihat wajah kesal Rania.
__ADS_1
Mereka berdua saling mengenal karena baik dari Dirga, Rania dan Samuel mereka dulunya satu kampus bersama dan pernah KKN dalam satu kelompok bersama juga jadi Samuel tahu betul tentang hubungan Rania dan Dirga dulu seperti apa.
"Thanks untuk infonya, gue mau balik. Oh iya sebelum gue balik tolong Sam kasih tau HRD di perusahaan ini untuk mengecek e-mail atas nama Rania Putri Radja,"
"Ok," Sam membentukan jarinya, ia akan menyampaikan apa yang di pesankan Rania padanya.
Rania memang mengirim email ke perusahaan D.G Enterpreneur yaitu perusahaan yang di pimpin Dirga setahu informasi yang Rania dapat jika perusahaan Dirga sedang membuka lowongan untuk bagian C.O Sekretaris, rencananya agar semakin dekat dengan Dirga ia bahkan rela meninggalkan karirnya sebagai desainer dan beralih di bidang Marketing.
***
Sarah telah mencoba belajar memasak dengan Bi Mina dan hari ini ia memasak makanan kesukaan Dirga, tadi siang pria itu sangat marah padanya dan untuk menyenangkannya ia mencoba memasak capcay udang kesukaan Dirga.
"Ini mas aku buatin kamu capcay udang kesukaan kamu, aku ambilkan ya nasinya." Sarah melayaninya selayaknya seorang suami pada istrinya.
Seketika Sena datang dan ikut duduk di samping kanan Dirga sedangkan Sarah duduk di samping kiri Dirga.
Sena sudah sangat kelaparan sejak tadi pagi sampai siang hari ini belum ada satupun makanan yang masuk ke dalam perutnya kecuali air putih dan pil obat yang ia minum tadi, ia langsung mengambil nasi ke piringnya tanpa memikirkan mereka yang lainnya bahkan sekarang ia mengambil satu sendok capcay udang.
"Sena kamu itu.. " Sarah menepis tangan Sena yang mengambil capcay udang buatannya.
"Apa sih mba?"
"Lagian ya mba sama Maudy aja belum ngambil nasi sama sekali kamu udah comot sana-sini kamu tau.. "
"Udah cukup ngomongnya! Ini kamu makan semuanya juga enggak apa-apa," Dirga mendorong satu mangkuk capcay udang itu ke arah Sena.
"Mas ini tuh aku buat khusus untuk kamu.. "
"Sarah kamu jangan kebiasaan pelit lagian disini yang lagi sakit itu Sena jadi dia harus banyak makan sayur, udah saya bisa makan pakai lauk yang lainnya." Sarah di buat kesal dengan keputusan Dirga sedangkan Sena sedang menunjukkan wajah senangnya karena Dirga memihak nya.
"Udah ayo pada makan kenapa jadi pada diem sih!" dan sekali lagi Dirga menggebrak meja makan membuat yang lainnya bergidik ngeri melihatnya.
***
"Wah ini enak banget lho mba, aku baru tau ternyata mba Sarah jago masak," Sena tidak bohong capcay buatan Sarah memang enak hanya saja sedikit keasinan tapi beruntung masih bisa di makan.
"Iya emang enak makannya mas Dirga suka banget sama capcay buatan mba," cibir Sarah.
__ADS_1
Bi Mina menaruh segelas susu hangat di samping Sena seketika Maudy dan Sarah langsung melihatnya dengan tatapan tak sukanya.
"Makasih bi," Sena tersenyum ramah.
"Kamu jangan kebiasaan nyuruh-nyuruh bi Mina bisa kan buat sendiri!" cercah Sarah.
"Saya yang nyuruh bi Mina buat bikinin susu untuk Sena,"
"APA! Kamu mas yang nyuruh," Sarah di buat skakmat dengan pernyataan Dirga barusan, sikap Dirga sekarang benar-benar mengundang kecurigaan nya.
Sarah sepertinya harus mengikuti saran dari Maudy untuk menyelidiki Dirga yang selama ini sikapnya sudah mulai berubah. Sarah tahu betul selama dia tinggal satu atap dengan Dirga pria itu tidak pernah bersikap se-perhatian itu padanya.
Mereka telah selesai makan dan Sena yang hendak naik ke atas kembali langkahnya terhenti karena perintah dari Sarah.
"Sena kamu jangan naik ke atas dulu bantuin bi Mina beresin ini meja makan sekalian bantu-bantu cuci piring,"
"Kenapa harus aku sih mba, kenapa enggak Maudy aja."
"Lo nyuruh gue Sen?" Maudy tak terima namanya di bawa-bawa sedari tadi ia hanya diam.
"Hey kalian ini! Enggak lihat apa disini masih ada saya, setiap kali saya perhatikan kalian selalu ribut bisa enggak sehari aja enggak ribut?" Dirga berdiri diantara mereka.
"Maaf mas aku cuma pengen menerapkan kedisiplinan aja sama mereka," Sarah beralibi.
What! Mereka sudah jelas-jelas Sarah hanya memerintah pada Sena seorang diri, lalu dimana kata mereka itu rasanya Sena ingin sekali beradu argumen dengan kakak tertuanya itu.
"Ok Fine! Aku akan beresin semuanya dan bantu bi Mina di dapur," Sena hendak beranjak tapi Dirga menghentikan aksinya.
"Udah cukup! biar Sarah dan Maudy yang beresin ini semua mendingan kamu masuk ke kamar kamu istirahat lagi aja sana," Sarah membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan Dirga barusan.
"Mas.. "
"Sarah kamu taukan Sena itu lagi sakit, apa kamu enggak kasihan udah kamu aja sama Maudy yang beresin."
Sena tersenyum senang sedangkan Sarah dan Maudy mengutuk senyum dari bibir Sena barusan baginya senyumnya itu ialah senyum tanda Sena tengah mengejeknya.
Dirga selalu membawa embel-embel Sena yang sedang sakit padahal mereka juga perempuan, mereka juga tahu rasanya sakit menstruasi itu seperti apa tapi sikap Dirga sangat berlebihan seakan-akan Sena adalah benda rapuh yang tidak boleh sampai terjatuh dan selalu di jaga olehnya.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..
Minta Vote, Like dan Komentarnya ya prend karena dukungan dari kalian sangat membantu agar semangat author kembali membara :)