
Nico baru saja pulang dari kontrakan Sena seketika tiba-tiba ia di hadang oleh dua orang suruhan Dirga mereka tanpa pikir panjang langsung memukuli Nico sampai pingsan dan menyekap Nico di gudang yang sudah tidak terpakai.
"Hei bocah bangun!" ujar Dudung seraya mengguyur wajah Nico dengan air berhasil membuat sang empu terbangun.
"Kalian siapa! Gue enggak ada urusannya sama kalian berdua," ujar Nico dengan lantang kedua tangannya di ikat ke belakang, ia meronta tapi sayang tenaganya sudah sangat lemas.
"Kita emang enggak ada urusannya sama lo tapi pak bos kita yang punya urusan sama lo," jawab mereka.
"Mana bos kalian, pengecut beraninya keroyokan." umpat Nico
"Eh lo tuh ya bocah masih untung bos kita itu masih baik ngelarang kita buat ngebunuh lo, di baikin malah tambah banyak ngebacot! dung udah tutupi aja mulutnya pakai lakban," mereka menutup mulut Nico dengan lakban sambil menunggu kedatangan Dirga yang sedang menuju ke lokasi gudang.
Setengah jam kemudian Dirga datang sebenarnya dia tak percaya jika dua orang suruhannya berhasil menangkap Nico tapi karena penasaran jadi sore ini dia datang ke gudang.
"Mana orang nya?"
"Di dalam pak bos,"
"Awas ya kalian berdua kalau bohongin saya lagi,"
"Kali ini beneran Nico bos," Dirga berjalan memasuki gudang dan benar saja dia menemukan Nico yang tak berdaya duduk di kursi seraya kedua tangannya diikat kuat.
Melihat Dirga menghampirinya Nico langsung memberikan tatapan tajam kearah dan seketika Dirga langsung menarik paksa lakban hitam di mulut Nico membuat sang empu merasakan kesakitan di bibirnya.
"Ba*ngsat lo! Lepasin gue kalau lo berani hadapi gue," Dirga menggelengkan kepalanya.
"Ck! Bocah satu ini masih aja banyak tingkah, Dung cari dan ambil HP dia sakunya." perintah Dirga yang langsung dijalankan dua orang suruhannya dan mereka menemukan ponsel Nico.
"Hei ba*ngsat balikin hp gue!"
__ADS_1
"Tegakkan muka dia," Dirga langsung menyodorkan layar ponsel Nico kearah wajah Nico yang mencoba meronta dan berhasil dia membuka kunci ponsel Nico dengan sidik wajahnya.
Sambungan terhubung ke nomor baru Sena di sana Dirga mendapati bekas chat Nico dengan Sena.
"Halo lo udah sampai rumah belum?" suara itu, suara yang sangat Dirga rindukan.
"Hay sayang.. "
"Mas Dirga? Kenapa HP nya Nico sama kamu,"
"SENA JANGAN LO DENGERIN OMONGAN SI BANGSAT ITU," ujarnya tapi langsung di hentikan dudung mulutnya di lakban kembali.
"Mas kamu apain Nico?" kata Sena dengan nada kekhawatirannya.
"Enggak aku apa-apain sayang, kalau kamu mau ketemu sama dia nanti aku sherlock tempatnya sama kamu atau mau aku jemput?"
"Enggak perlu aku bisa ke sana sendiri, cepat kamu kirim alamatnya." sambungan telepon terputus dan Dirga segera mengirimkan alamat lokasinya lewat nomor Nico dan seketika ia merasa kesal melihat chat antara Nico dengan Sena.
***
Tidak butuh waktu lama untuk menunggu kedatangan Sena, wanitanya itu telah sampai di depan gudang dan sore ini adalah pertemuan antara Dirga dengan wanita yang sangat dia rindukan.
"Dimana Nico?" tanya Sena tanpa melihat wajah Dirga.
"Santai dong kita kan baru aja ketemu, kamu enggak mau peluk aku dulu gitu." ujar Dirga yang hendak menyentuh pundak Sena tapi langsung di tepis oleh Sena.
"Aku kesini mau ketemu sama Nico jadi aku enggak ada waktu buat basa-basi sama kamu," Dirga mengangguk sebenarnya ia sangat kesal dengan sikap acuh Sena kepadanya.
"Ok, ayo masuk ke dalam.. Dia ada di dalam," ujar Dirga membawa Sena masuk ke dalam gudang dan di sana Sena melihat dengan jelas Nico yang di sekap.
__ADS_1
Sena yang baru saja hendak mendekat kearah Nico tapi tangannya langsung di tarik Dirga untuk tak mendekati Nico.
"Mas lepas! Kamu apain Nico sampai kayak gini?"
"Aku enggak apa-apain dia, kamu enggak lihat ada makanan dan juga minuman di sampingnya tapi dianya aja yang enggak mau makan," jawab Dirga seraya menunjuk minuman dan makanan yang ada di samping Nico.
"Lepasin Nico mas," Dirga menggeleng
"Kenapa? Kenapa kamu enggak mau lepasin Nico mas!" teriak Sena.
"Aku bakalan lepasin dia, kalau kamu ikut pulang ke rumah sama aku," Sena menggeleng.
"Enggak! Aku enggak mau pulang ke rumah kamu,"
"Ok, kalau kamu emang enggak mau pulang sama aku." Dirga mengisyaratkan kepada kedua orang suruhannya untuk menghajar Nico di hadapan Sena.
Sudah gila memang Dirga melakukan cara licik hanya untuk mendapatkan kembali wanitanya, Sena yang melihat Nico di pukuli ia sampai berteriak frustasi meminta Dirga untuk menghentikan orang suruhannya.
"Mas hentikan semua ini mas, kamu udah enggak waras!"
"Iya, aku emang enggak waras! Ini semua karena aku cinta sama kamu jadi sekarang pilihannya ada di kamu pulang sama aku atau kamu bakalan ngeliat teman baik kamu itu merenggang nyawanya disini?" Sena gusar dia bingung dengan pilihannya.
Tapi di sana di bisa melihat mata Nico yang memintanya untuk tidak mendengarkan perkataan Dirga tapi Sena mana tega melihat Nico yang tidak ada sangkut pautnya dalam masalahnya di jadikan korban akan keegoisannya.
"Ok! Aku mau pulang ke rumah sama kamu," kata Sena dengan lantang yang langsung membuat kedua orang suruhan Dirga berhenti mengajar Nico.
"Nah gitu gitu dong sayang," Dirga memeluk Sena sedangkan wanitanya seperti enggan di peluknya.
"Kalian lepasin dia! Ayo kita pulang."
__ADS_1
Sena masih berdiam diri melihat Nico sejenak sampai akhirnya dia ikut pulang bersama Dirga, mau tidak mau dia harus mengalah dengan egonya demi kebaikan orang lain.
TBC