
"Mas hari ini kan kamu weekend, kita keluar yuk," Sarah yang tiba-tiba duduk di samping Dirga yang sedang fokus pada ponselnya.
"Kamu aja sana, saya sibuk." katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
Sarah mencoba bersabar dengan sikap cuek Dirga yang bahkan sekarang berbicara tanpa melihatnya.
"Ayo dong mas sekali aja, kita keluar ke Mall belanja, cari makan atau ke suatu tempat gitu." ujarnya namun sekarang Dirga tidak meresponnya sama sekali.
"Kita keluar bukan cuma berdua aja kok ada Maudy juga, Bertiga."
"Sena enggak di ajak?" tanya Dirga yang sekarang menatap Sarah membuat sang empu merasa gugup melihat wajah Dirga dengan jarak yang begitu sangat dekat.
"Mm.. Ya kita ajak Sena juga jadi biar Maudy juga enggak jadi nyamuk diantara kita." Dirga mengangguk dan membuat Sarah merasa senang.
"Ok, ayo kita keluar."
"Saya mau ganti baju dulu. Oh iya jangan lupa kasih tau Sena sama Maudy untuk siap-siap. Kamu tau kan saya paling enggak suka kalau ada yang lambat," Sarah mengangguk.
Dirga bersiap mengganti pakaiannya, kalau bukan karena ada Sena ia tidak akan ikut bahkan sekalipun ada Maudy diantara keduanya Dirga hanya akan mau ikut pergi karena ada wanitanya.
***
Maudy terus menggedor pintu kamar Sena pasalnya sudah berapa kali tidak kunjung di buka.
"Sena! Dasar kebo udah budeg kali ya dia.. " pintu terbuka menampakkan Sena dengan wajah kantuk nya.
"Apa sih dy enggak ada sopan-sopan nya banget," ujar Sena kesal karena merasa tidurnya terganggu.
"Lo gila ya jam segini tidur, mendingan lo cepetan sana mandi terus siap-siap mba Sarah sama mas Dirga ngajak kita keluar,"
"Males ah, lo aja sana gue enggak ikut."
"Lo harus ikut! Sekarang juga lo sana cepetan mandi jangan sampai mas Dirga sama mba Sarah kesel cuma gara-gara nungguin lo," ujarnya dengan penuh penekanan di setiap katanya.
"Ok iya gue ikut bisa kan enggak usah ngegas terus ngomongnya ini tuh masih pagi banget," Maudy mengerutkan dahinya mendengar kata pagi sudah jelas sekarang jam 10 siang.
"15 menit gue nyusul ke bawah lo duluan aja,"
Sena menutup pintunya dengan keras ia kesal tidurnya di ganggu pasalnya semalam ia baru tidur di jam 2 pagi dan ia merasa sekarang ia kurang tidur, ini semua karena ulah Dirga yang terus menganggu malamnya.
Sena bergegas bersiap diri sebenarnya ia sangat malas keluar rumah jika di suruh memilih ia lebih memilih menghabiskan waktunya dengan rebahan di kamar sambil menonton drama korea kesukaannya.
***
"Sena mana sih ini udah setengah jam sendiri lho kita nungguin dia,"
Sarah kesal ia sudah menunggu selama itu tapi ia merasa aneh karena tumben sekali Dirga tidak marah pria itu duduk tenang dan diam fokus pada ponselnya. Padahal bukannya baru saja pria itu bilang jia ia tidak suka ada yang terlambat dan membuatnya lama menunggu.
"Jangan-jangan dia tidur lagi," kata Maudy.
"Kalau sampai 10 menit dia belum muncul juga mba seret dia kesini," ucapan Sarah barusan berhasil membuat Dirga kesal pasalnya ia tidak suka akan kalimat Sarah barusan, berani sekali Sarah ingin bersikap kasar pada wanitanya.
"Sorry lama ya," Sena datang dengan senyum kudanya.
__ADS_1
"Sen lo tuh ya.. "
"Enggak.. Enggak lama kok, udah siap semua kan ayo kita berangkat." Maudy beserta Sarah di buat diam mendengar ucapan Dirga barusan.
Apanya yang enggak lama, jelas-jelas mereka sudah menunggu sampai setengah jam lebih dan Dirga dengan santainya bilang jika ia merasa tidak lama menunggu Sena muncul. Tapi, Dirga benar-benar mengatakan itu dengan jujur ia tidak akan merasa keberatan jika harus menunggu Sena sampai sore juga asalkan yang di tunggu adalah wanitanya.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil dengan posisi Sarah duduk di jok depan sedangkan Sena dan Maudy duduk di jok belakang.
Di dalam perjalanan sesekali Dirga melihat Sena dari balik cermin di depannya, awalnya Sena tersenyum saat ia juga tak sengaja melihat wajah Dirga yang sedang melihat ke arahnya tapi setelah beberapa menit Dirga merasa kesal karena sekarang Sena sibuk dengan ponselnya berbalas chat dengan seseorang.
"Mas kita ke PI aja ya,"
"Iya emang itu tujuan kita kan ke Mall PI emang mau ke Mall mana lagi," jawabnya jutek yang membuat Sarah langsung menekuk bibirnya.
Mall PI (Plaza Indonesia) salah satu mall terkenal di ibu kota.
Mood Dirga sedang tidak baik seperti sekarang ia membawa mobil dengan kecepatan cepat bahkan sesekali ia menekankan klakson mobilnya.
"Mas jangan ngebut-ngebut,"
"Kamu enggak lihat ini jalan macet kayak gini," suara klakson mobilnya terus ia tekan membuat kegaduhan di jalan.
Mereka yang di dalam mobil merasa aneh dengan sikap Dirga sekarang, sudah jelas macet untuk apa bawa mobil dengan kecepatan seperti ini membuat yang di dalam merasa sedang senam jantung.
"Mas Dirga pelan aja bawa mobilnya nanti nabrak lagi," Sena bersuara.
"Udah enggak usah bawel kalian bisa kan diam aja!" Sena terkejut dengan nada suara Dirga yang naik satu oktaf yang artinya pria itu baru saja membentak nya.
Dirga yang melihat perubahan raut wajah Sena dari cermin kecil itu ia merasa bersalah karena sudah membentaknya, ia menurunkan kecepatannya, ia juga berhenti membunyikan klakson mobilnya.
***
"Kamu enggak ikut belanja?" Sena menggeleng.
Sena tidak punya uang untuk berbelanja lagi pula mana mungkin kakaknya itu mau membayarkan pakaian yang nanti ia beli.
"Kamu marah karena tadi mas bentak kamu pas di mobil?" Sena menggeleng.
"Kamu jangan geleng-geleng kepala aja, kalau marah bilang." Dirga merasa kesal dengan jawaban Sena yang tidak bersuara.
"Apaan sih mas siapa juga yang marah, ya lagian kalau aku geleng-geleng kepala ya terserah aku dong."
"Itu artinya kamu marah," Sena menaikan satu alisnya.
"Sumpah ih enggak jelas banget udah bilang enggak juga," Sena mencabik kan bibirnya.
"Ya udah, aku minta maaf. Maaf karena udah buat kamu kesel kayak gini," Dirga memeluknya bahkan sesekali mengelus kepala Sena berhasil membuat sang empu langsung mendorong jauh tubuh Dirga.
"Kenapa?"
"Ini di tempat umum ada mba Sarah sama Maudy juga nanti kalau mereka bisa lihat," ujarnya Seraya melihat ke sembarang arah.
Dirga menahannya kalau bukan di tempat umum ini sekali rasanya ia langsung memeluk dan mencium bibir wanitanya.
__ADS_1
Tiba-tiba Sarah dan Maudy datang membawa belanjaan mereka, Sarah tersenyum pada Dirga namun pria itu tidak bergeming sama sekali.
"Maaf lama ya mas,"
"Iya lama, kaki saya sampai keram disini nungguin kalian berdua!" Maudy menelan saliva nya mendengar bentakan Dirga.
***
Sarah sudah meminta izin untuk dirinya dan Maudy agar di perbolehkan belanja kembali di salah satu toko yang lainnya, awalnya Dirga sudah ingin sekali pulang tapi Sena tiba-tiba mengirimkan pesan untuknya ia minta di temani Dirga ke suatu tempat jadilah Sarah dan Maudy mereka berdua di berikan waktu bebas untuk berbelanja dan Dirga akan berpura-pura menunggu mereka di tempat tunggu yang di sediakan pihak Mall.
"Kita mau kemana sih?"
"Udah ikut aja mas tuh bawel deh,"
Merasa sudah jauh dari tempat toko pakaian Sarah dan Maudy belanja, Dirga seketika menarik pinggang Sena untuk berjalan lebih dekat dengannya.
"Enggak ada kenal kita juga kan, udah santai aja lagian aku udah baik lho nurutin keinginan kamu buat ngasih waktu mereka lagi buat belanja." Sena pasrah mendengar ucapan Dirga barusan.
Ya, dia terlalu berkuasa dan aku selalu pasrah di buatnya.
Sena mengunjungi toko Make Up pasalnya saat di dalam mobil tadi ia sibuk dengan ponselnya karena ia tadi sibuk stalking salah satu akun official brand Make Up yang di sukai nya.
"Wah beneran diskon," matanya berbinar saat ia melihat tanda diskon di rak Lipstick, ternyata info dari instagram yang ia lihat benar-benar asli.
"Menurut mas bagus yang mana, yang nude brown atau pink nude?" Dirga menunjuk lipstik berwarna pink nude.
Sena langsung berdiri di salah satu cermin yang di sediakan untuk mencoba produk yang akan di beli, ia mengoleskan lipstiknya pada bibirnya.
"Cocok enggak di bibir aku?" tanyanya kembali seraya tersenyum pada Dirga.
"Cocok tapi.. " Dirga melihat bibirnya secara seksama.
"Kenapa enggak cocok ya mas?" Dirga menggeleng, seketika ia menarik dagu wanitanya dan langsung mencium bibirnya membuat Sena terkejut.
"Ih dasar modus," Sena memukul dada Dirga bukannya merasa sakit ia malah tertawa karena sudah berhasil membuat Sena kesal.
***
"Udah kamu beli itu aja?" Sena mengangguk, uang bulanan yang di berikan Sarah untuknya tinggal sedikit, jadi ia harus menghemat.
Sebenarnya Dirga merasa aneh pasalnya setiap bulan ia selalu memberikan uang jatah lebih baik untuk Maudy ataupun Sena. Tapi anehnya wanitanya itu selalu berusaha menghemat segalanya.
Andai jika Dirga tahu pasalnya uang yang di titipkan pada Sarah sudah Sarah potong uang bulanan untuk Sena dan setengah uang jatah bulanan Sena di berikan semuanya pada Maudy. Sarah sengaja melakukan itu semua ia tidak ingin Sena merasakan kenikmatan karena bisa tinggal bersamanya di rumah Dirga bahkan dengan beberapa fasilitas yang di berikan Dirga untuk keduanya.
"Kamu enggak pengen beli ini, kalau kamu nanti mas belikan." Sena menggeleng sebenernya satu paket Make Up itu yang ingin sekali Sena beli tapi ia tidak ingin terlihat seperti memanfaatkan keberadaan Dirga dengannya.
"Enggak mas, di rumah masih ada kok Make Up sama Skincare aku." katanya beralibi kenyataannya Make Up miliknya dan juga Skincare nya sudah sangat menipis mungkin nanti tunggu uang jajan yang dia kumpulkan terkumpul.
"Kamu tuh kalau mau sesuatu bilang aja sama mas, nanti mas beliin."
"Dih sombong, enggak makasih aku bisa beli sendiri apa yang aku mau nanti, udah ayo kita balik ke sana nanti keburu mereka selesai lagi belanjanya."
Dirga tidak main-main dengan ucapannya bahkan jika Sena meminta mobil sekalipun Dirga pasti akan kabulkan tapi sayangnya wanitanya itu bukan wanita pengincar uangnya.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..
PLEASE BANTU LIKE DAN VOTENYA YA PREND :)