
Sena meminta izin kepada Dirga karena ia ingin setelah pulang sekolah beristirahat di Vila milik Dirga dan ia mendapatkan izinnya bahkan Dirga memberikan kartu akses tak lupa beserta kode pinnya. Dan sekarang, Sena sedang berada di atas gedung sekolah menemani Resti.
Resti menatap sekelilingnya ia juga melihat kebawah begitu indah pemandangan jalanan di sana, ia juga melihat beberapa murid-murid di bawah sana, suasana tenang terasa di atas sini begitu juga dengan Sena ia pun merasakan hal yang sama.
"Disini tempat paling nyaman buat gue menyendiri, tenang rasanya kalau disini telinga gue enggak bakalan denger lagi cacian dari mereka yang di sana," ujarnya seraya memperhatikan beberapa murid di bawah sana.
"Sorry, sebenarnya apa masalah lo sama mereka Res. Sampai-sampai mereka semua ngegosipin lo dan.. "
"Ngatain gue *****,"
"Gue enggak bermaksud mau ikut campur urusan lo Res tapi jujur gue penasaran apa yang ngebuat mereka bisa setega itu ngatain lo,"
"Dan kenapa lo enggak pernah marah atas apa yang mereka semua ucapin ke lo?" sambung Sena kembali.
"Ngapain gue harus marah, habis pulang sekolah lo enggak sibukkan Sen?"
"Enggak kenapa?"
"Lo penasaran kan nanti pas pulang sekolah gue kasih tau semua,"
Sena mengangguk ia benar-benar di buat penasaran.
Dan benar saja selepas pulang sekolah saat di depan gerbang Flo berpamitan lebih dulu pulang karena ia tidak bisa ikut dengan mereka tapi saat hendak menuju ke halte busway ternyata Dirga sudah menunggu Sena di dalam mobilnya.
"Res lo tungguin gue bentar di halte ya, gue ada urusan bentar enggak lama kok."
"Ok,"
Sena yang melihat mobil Dirga ia langsung berlari ke arah mobil dan melihat sang pemilik mobil tengah duduk di jok mobilnya dengan santai.
"Masuk cepetan,"
"Mas hari ini aku kayaknya enggak bisa pulang bareng mas Dirga, aku mau pulang bareng sama temen aku."
"Apa! Pulang bareng sama temen kamu,"
"Iya," Sena bisa melihat jelas raut wajah kesal Dirga.
Dirga langsung keluar dari dalam mobilnya menyamakan tingginya dengan Sena ternyata hanya sebahu tingginya dengannya.
__ADS_1
"Kamu tau saya udah capek-capek nungguin kamu dan sekarang kamu malah mau pulang bareng sama temen kamu,"
"Maaf mas, tapi besok-besok aku nanti pulang sama mas Dirga kok untuk hari ini aku enggak bisa,"
"Sena,"
"Iya bentar Res," Sena melihat kearah Resti ternyata busway telah menunggu mereka.
"Mas maaf ya aku buru-buru, jangan marah ya dah.. " Sena langsung berlari ke arah halte ia langsung ikut bersama Resti memasuki busway.
Dan Dirga ia tinggalkan dengan penuh rasa kesalnya dengan tingkah laku Sena hari ini.
***
Sena bingung tujuan mereka sebenarnya mau kemana, sampai mereka tiba di suatu tempat dimana mereka hanya berdiri menatap tempat itu. Sena yang masih kebingungan.
"Sen ini tempat apa sih?"
"Ini klub namanya disini tempat gue kerja,"
"Klub?"
"Melayani,"
"Waiters maksud lo?"
"Menurut lo,"
Sena langsung menepuk pelan kepalanya pikirannya terus berpikir yang tidak baik tentang Resti, "Sorri pikiran gue bener-bener di buat travelling sendiri, jangan bilang yang lo maksud melayani itu.. " Sena tidak melanjutkan ucapannya tapi Resti sudah menganggukkan kepalanya berhasil membuat Sena tidak percaya.
"Flo tau?"
"Iya, Flo orang pertama yang tau.. "
"Jadi gosip itu beneran," Resti kembali mengiyakan pertanyaan Sena.
Kecurigaan Sena ternyata benar pekerjaan Resti sebagai perempuan bayaran tapi Sena tidak bertanya hanya sampai itu ia kembali bertanya mengenai alasan Resti mau bekerja di klub malam.
Resti mengajak Sena masuk ke dalam hanya untuk sekedar melihat-melihat karena Sena pun penasaran seperti apa isi dalam klub malam. Pertama kali memasuki klub Sena langsung di buat takjub tempat yang begitu luas, hawa AC dingin langsung menyejukkan kulitnya. Nampak masih begitu sepi hanya ada beberapa karyawan yang sedang bertugas membersihkan dan menyiapkan ruangan sebesar itu untuk di gunakan saat malam hari.
__ADS_1
"Kok sepi ya Res,"
"Klub ini mulainya jam 5 sore sampai jam 1 malam,"
"Oh pantesan sepi, Btw lo belum jawab pertanyaan gue tadi lho kenapa lo mau kerja di tempat seperti ini,"
"Tuntutan ekonomi, gue lahir bukan dari keluarga berada." ujarnya seraya memperhatikan dari jauh beberapa orang yang sedang mengelap meja-meja besar.
Sena terdiam setiap kali ia mendengar cerita yang keluar dari dalam mulut Resti teman barunya itu benar-benar harus berjuang untuk dirinya dan juga keluarganya yang lebih parahnya lagi kedua orang tuanya tidak ada yang mengetahui jika Resti bekerja di klub malam sebagai kupu-kupu malam bukan seperti bartender pada umumnya.
***
Selesai sekedar melihat-melihat mereka berdua keluar dari dalam namun seketika tangan Sena ada yang menarik ia tarik paksa berhasil membuat Resti yang melihatnya langsung mengejar keduanya.
Sena yang meringis kesakitan akan cengkraman tangan seseorang di lengannya.
"Aww lepas sakit, aduh sakit mas Dirga," katanya seraya melepaskan paksa dan benar saja orang tersebut adalah Dirga.
"Sena," Resti menghampiri keduanya melihat sorot tatapan tajam dari Dirga berhasil membuat bulu kuduknya merinding.
"Res lo balik duluan aja, gue pulang sama kakak ipar gue."
"Ok, ya udah gue balik duluan ya Sen." katanya yang di balas senyuman oleh Sena.
Dirga menatap tajam Sena kembali ia kesal pasalnya saat Sena menolak jemputan nya ia pikir Sena akan pulang ke rumah atau ke Vila seperti permintaan izin tadi tapi kenyataannya yang Dirga lihat saat ia mengikuti Sena ternyata Sena berkunjung ke sebuah klub malam.
"Hebat ya kamu! Saya jemput tapi kamu tolak dan bilang mau pulang bareng teman kamu dan sekarang kamu malah klub,"
"Aku tuh mas ke klub karena,"
"Karena mau cari cowok iya.. terus mau kamu ajak ke Vila saya ya, pantesan ya tadi pagi kamu minta izin mau pulang ke Vila ternyata.. Saya enggak menyangka sama kamu keliatan polos tapi mainnya ke klub,"
Plak.. Tamparan keras mengenai wajah tampan Dirga. Sena benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi dengan tuduhan Dirga benar-benar membuatnya sakit hati.
"Kalau enggak tau apa-apa dengan kenyataan jangan so belagu tau segalanya." katanya selepas itu ia langsung berlari pergi meninggalkan Dirga yang masih berdiam diri.
Dirga menatap punggung Sena yang sekarang semakin menjauh bahkan sudah tak nampak di penglihatannya sedangkan ia sedang menyesali ucapannya barusan, Dirga benar-benar tidak menyadari apa yang dirinya ucap sudah jelas-jelas itu pasti akan menyakiti hati Sena.
Dirga pantas di tampar harusnya jika Sena memukulinya sekalipun pasti Dirga tidak akan melawannya karena ia memang salah harusnya tidak seharusnya Dirga melakukan tindakan semuanya sendiri, bahkan melayangkan ucapan yang tidak seharusnya di katakan, harusnya ia mendengarkan terlebih dahulu. Sekarang bagaimana caranya ia berhadapan dengan Sena nanti.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...