
Rania tidak terima akan keputusan Dirga yang tiba-tiba memindahkan posisinya bukan lagi sebagai sekretarisnya tapi melainkan sebagai sekretaris Samuel dan bahkan baik Rania dan Samuel seketika mereka di pindahkan di kantor cabang Dirga yang ada di kota sebelah.
"Ga lo enggak bisa ngasih keputusan secara sepihak seperti ini, gue salah apa sampai lo pindahin gue dari kantor pusat ke kantor cabang?" ujar Samuel yang tidak terima dengan keputusan Dirga.
"Biar lo bisa deket sama Sarah,"
"Maksud lo apa ga?"
"Selama ini gue udah tahu kalau lo kan yang selalu jadi mata-mata Sarah buat selalu ngawasin gue,"
"Ok, ga masalah itu emang gue pernah jadi mata-matanya Sarah tapi setelah lo pisah gue udah enggak pernah lagi berurusan dengan Sarah,"
"Baguslah Sam kalau lo udah ngaku tapi sorry gue enggak bisa mengembalikan posisi lo di perusahaan ini, jadi silahkan lo beres-beres dan pindah di kantor sebelah," kata Dirga dan berhasil membuat Samuel tidak bisa berkutik kembali dia memutuskan untuk keluar dari ruangan Dirga, tapi saat dia keluar dia berpapasan dengan Rania juga mereka sempat saling pandang sebelum sampai akhirnya Rania mengakhirinya.
"Hei Rania, pasti kamu mau protes ya kan?" kata Dirga yang melihat Rania masuk ke dalam ruangannya.
"Aku enggak mau di pindahin ke kantor cabang sebelah Dirga,"
"Kamu harus mau tapi kalau kamu enggak mau ya silahkan cari pekerjaan lain, masih baik lho aku enggak pecat kamu."
"Kenapa kamu bersikap tega begini sama aku ga?"
"Maaf Rani aku begini hanya karena ingin menjaga rumah tangga aku, udah ya aku enggak mau semakin nyakitin perasaan kamu dan ini udah jadi keputusan aku,"
"Tega kamu ga sama aku, aku jauh-jauh dari luar negeri kesini buat kembali sama kamu tapi kamu malah campakkan aku kayak gini,"
"Maaf buat aku sesuatu yang udah aku pergi tidak akan pernah aku terima kembali kedatangan di kehidupan aku, kalau kamu kesini cuma mau marah-marah sebaiknya kamu keluar dari ruangan aku karena masih banyak pekerjaan yang harus aku urus," ujar Dirga seraya memerintahkan Kahfi untuk menyeret Rania keluar dari ruangannya.
Keputusan yang Dirga buat sudah final dan tidak bisa diubah pasalnya Dirga harus benar-benar menyingkirkan para parasit yang menganggu kenyamanan di rumah tangganya, dia hanya ingin menjalani hidup tenang dengan Sena.
***
"Tumben kamu datang tepat waktu," katanya yang sekarang tengah berada di mobil bersama Dirga.
__ADS_1
"Ya katanya mau di temani ke dokter nanti kalau aku telat ngomel lagi," Sena menatap Dirga sebal karena sudah mengklaimnya seperti ibu-ibu yang bawel.
"Maaf gitu aja cemberut, kamu jangan galak-galak banget deh nanti kalau anak kita pas lahir terus dia gede ikutan galak kayak kamu lagi gimana coba,"
"Biarin dia galak.. Biar dia tegas nanti jangan kayak bapaknya labil," kata Sena seraya tersenyum manis.
"Kamu sekarang udah berani ya mencibir suami sendiri nanti keenakan lho,"
"Kok keenakan sih?"
"Ya kalau nanti aku mengumpat yang enggak baik nanti jadi kenyataan lho ucapan suami itu," Sena mengangguk mengiyakan saja apa yang di katakan Dirga.
Dirga rela mempercepat jadwal meeting nya demi karena untuk mengantarkan Sena periksa ke dokter kandungannya, dia pun sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin anak mereka berdua. Dan sesampainya di rumah sakit mereka langsung masuk ke ruangan dokter tanpa mengantri apalagi menunggu karena Sena sudah di daftarkan menjadi member VVIP di dokter Raisa sepupu Dirga.
"Kita lihat jenis kelaminnya ya," kata dokter Raisa.
Mata Dirga terus memperhatikan layar monitor yang menampilkan si jabang bayi di sana.
"Belum lahir aja hidungnya sudah mancung lho ga kayak ibunya," kata Raisa.
"Jadi jenis kelaminnya apa dokter?" tanya Sena yang ikut penasaran.
"Laki-laki itu kamu bisa lihat kan," Sena mengangguk seraya tersenyum senang.
"Ok, pemeriksaannya sudah selesai kalau perutnya masih sering keram nanti aku buatkan resep penguat kandungan ya buat kamu, dijaga pola makannya jangan semuanya di turutin terus apalagi yang pedas-pedas." ujar Raisa mengingatkan.
"Tuh dengerin apa kata Raisa,"
"Kamu juga ga harus telaten jadi suami,"
"Bukannya enggak telaten Sa, tapi kalau enggak di turutin ngambek aw!" Sena mencubit pinggang Dirga yang mulutnya lemes sekali dalam bicara.
Tapi sekarang baik Dirga dan Sena merasa bahagia karena hasil USG nya menunjukkan jika bayi yang sedang di kandungnya berjenis kelamin laki-laki kabar baik itu pasti akan jadi kabar bahagia bagi Renata dan Bastian.
__ADS_1
"Ini resep obatnya, di ingat ya pesan aku tadi di jaga pola makannya dan jangan terlalu mengikuti emosional enggak baik untuk si dede bayi nantinya, apa masih ada yang ingin di tanyakan?"
"Oh iya dok aku mau nanya katanya kalau perempuan hamil di bawah usia 20 tahun itu sedikit yang kuat menjalani proses melahirkan secara normal apa itu benar? Sedangkan aku maunya melahirkan secara normal,"
"Justru menurut pandangan aku sih kebanyakan pasien yang melahirkan diusia di bawah 20 tahun banyak kok yang melahirkan secara normal itupun kalau dalam kondisi si ibu memang dalam keadaan stabil, kalau nanti pas mau melahirkan ternyata si ibu dalam keadaan tidak stabil seperti dalam keadaan nervous karena untuk pertama kalinya mau melahirkan dan tekanan darah sedang naik itu tidak baik melahirkan dalam keadaan normal." tutur Raisa menjelaskan sebaik mungkin.
"Makanya saran aku kalau kamu emang mau melahirkan secara normal harus menjaga pola makan, minum obat penguat kandungan yang aku beri ya dan ingat jangan terlalu banyak stress memikirkan sesuatu yang memicu mood kamu tidak baik,"
Setelah selesai periksa ke dokter dan setelah mendapatkan saran dari Raisa sepertinya Sena memang harus sering menenangkan pikirannya dan meminta Dirga untuk tidak membuatnya sering emosi.
"Kamu denger kan apa kata Raisa tadi jangan banyak pikiran apalagi sampai stress," ujar Dirga yang fokus menyetir.
"Aku enggak akan banyak pikiran kalau kamu nya enggak banyak tingkah," sahut Sena.
"Iya udah enggak, permintaan kamu buat menyingkirkan Rania dari kantor udah aku turutin udah sekarang kamu fokus aja sama kehamilan kamu, fokus nyenengin suami di rumah, santai-santai di rumah kalau mau sesuatu ya tinggal bilang sama aku. Udah gitu aja, jangan banyak pikiran."
"Iya iya bawel deh kamu,"
"Bukannya bawel tapi ini tuh artinya tanda aku sayang sama kamu dan anak kita," kata Dirga
"Iya makasih suamiku tersayang," katanya yang berhasil membuat Dirga tersenyum senang mendengarnya.
"Oh iya mas, Papa minta aku buat pulang Aceh kayaknya mba Sarah sama Maudy belum cerita apapun ke Papa tentang kita,"
"Terus kamu mau pulang Aceh?" Sena mengangguk, "Iya pulang tapi nanti juga balik lagi ke Jakarta," jawabnya.
"Ya sudah sekalian aja ikut ke sana biar memperjelas semuanya, kamu tenang aja kalau ada aku enggak akan ada yang berani macam-macam nanti aku minta Kahfi buat gantiin aku sebentar di kantor untuk beberapa hari karena kita kan pasti di sana menginap ya kan, " ujarnya dengan santai.
"Tapi nanti kamu di sana jangan sampai emosi ya nanti tambah runyam lagi masalahnya," Dirga mengangguk.
Sebenarnya Sena khawatir jika nanti dia dan Dirga datang langsung berdua di sana pasti akan membuat kegaduhan, Sena khawatir Fahri--Ayahnya akan mengamuk besar jika tahu dirinya hamil dan menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuannya ia benar-benar tidak bisa membayangkan kejadian itu bila sampai terjadi.
TBC.
__ADS_1
Di harap memberikan Like, Vote dan Komentarnya ya prend memberikan keempat poin itu sangat gratis. :)