
Saat ini Sena tengah menuntut Dirga untuk memberitahu kebenaran pernikahan mereka kepada kedua orang tua Dirga tapi Dirga menolaknya.
"Aku enggak bisa kalau harus ngasih tau sekarang,"
"Kenapa enggak bisa mas, harusnya kau bisa! Kamu bilang cinta sama aku nyatanya apa kamu bahkan enggak mau memperjuangkan aku di hadapan kedua orang tua kamu,"
"Kamu kenapa sih selalu nuntut sesuatu yang enggak bisa aku lakuin," ujar Dirga seraya memukul meja di rias di hadapannya.
"Mas kamu sadar enggak sih enggak ada satupun wanita yang tidak ingin di perjuangkan dan aku termasuk wanita yang ingin di perjuangkan, kalau kamu emang enggak bisa memperjuangkan aku.. Aku rasa lebih baik kamu ceraikan aku," sarkas Sena yang berhasil membuat Dirga menggelengkan kepalanya.
"Jangan harap kamu bisa pergi begitu aja dari kehidupan aku," Dirga menatapnya tajam.
"Lebih baik kamu keluar mas dari kamar aku,"
"Aku enggak mau,"
"Ok, kalau emang kamu enggak mau keluar biar aku yang keluar dari sini!"
"SENA, OK AKU YANG KELUAR!" Dirga memilih mengalah dari pada terus berdebat dengan Sena tak akan ada kunjung nya.
Saat Dirga sudah keluar dari kamarnya Sena merasa lega keberadaan Dirga hanya selalu membuatnya merasa kesal, pria itu tidak pernah mau mengerti akan dirinya tapi dia selalu ingin di mengerti akan keadaan yang menurutnya tidak mengkondisikan.
***
Siang itu saat Maudy sudah pergi untuk mengikuti kegiatan ospek di kampusnya dan Dirga pun telah berangkat ke kantornya tinggallah Sarah dan Kedua orang tua Dirga di rumahnya, dan semalam Sena telah mengemasi seluruh pakaiannya keputusan untuk pergi dari kehidupan Dirga dan keluarganya itu adalah jalan yang terbaik menurutnya.
"Tumben kamu kesini mau ikut kumpul bareng kita, Lho kamu ngapain bawa koper segala?" tanya ketus Sarah yang melihat Sena menghampiri mereka seraya menyeret kopernya.
"Om, tante dan mba Sarah aku kesini mau minta izin untuk pamit hidup mandiri," ucapannya barusan berhasil membuat Renata shock.
"Sena kamu mau pergi kemana, kamu ini sedang hamil bagaimana mungkin kamu mau pergi dan hidup sendiri," ujar Bastian.
"Om aku bisa kok hidup mandiri lagi pula aku juga enggak mungkin terus-terusan disini membebani mba Sarah dan mas Dirga," jawabnya berharap mereka mau menerima keputusannya.
"Kamu yakin mau hidup mandiri tanpa suami?" tanya Sarah berpura-pura antusias padanya.
__ADS_1
"Mba aku benar-benar minta izin sama mba Sarah, om sama tante itu aja. Aku mohon lagi pula dengan aku hidup mandiri seperti ini kali saja Nico muncul di kehidupan aku," ucapnya.
Seketika Sarah tersenyum sini ia tahu betul Sena sedang berakting, dia yakin pasti Sena ingin pergi karena ingin tinggal bersama Dirga tanpa harus balik ke rumah ini lagi.
"Kalau emang kamu mau pergi dari sini, apakah kamu udah ada tempat tinggal Sena?" tanya Renata.
"Iya Sena kalau kamu belum ada biar om bantuin carikan tempat tinggal untuk kamu," Sena menggeleng.
"Enggak perlu om, aku tadi udah sewa kontrakan yang tempatnya enggak jauh dari tempat aku kerja," jawabnya.
"Kamu yakin Sena?" Sena mengangguk tapi Renata merasa tak yakin dengan keputusan Sena.
"Kamu lebih baik minta izin sama kakak kamu Sena karena keputusan ada pada kakak kamu," ujar Bastian.
"Aku mengizinkan kok Pa, Ma lagi pula ini juga demi kebaikan Sena yang ingin hidup mandiri," ujar Sarah dengan gamblangnya.
"Ya sudah kita mau bagaimana lagi jika memang ini keputusan kamu Sena, tapi kalau seandainya kamu merasa perut kamu kram atau kenapa hubungi tante ataupun mba kamu ya," Bastian menyerah menasehati Sena, padahal dia sudah menganggap Sena seperti anaknya sendiri.
"Makasih om tante, mba Sarah, aku pamit pergi,"
"Udah tante tadi aku udah telepon mas Dirga dan kata mas Dirga kalau aku mau pergi, aku harus izin juga kepada tante, om dan mba Sarah juga." Renata mengangguk, kebohongan apalagi yang Sena katakan.
Sena pamit dan menyeret kopernya keluar Bastian sempat menawarkan untuk mengantar Sena ke kontrakannya tapi Sena menolaknya, dia ingin pergi dengan sendirinya mengikuti langkah kakinya pergi kemana.
Keputusannya ini mungkin pasti akan membuat Dirga murka jika pria itu mengetahuinya tapi Sena sudah benar-benar memutuskan untuk pergi.
***
Sore kemudian..
Dirga pulang lebih awal lagi pula hari ini pun setahu Dirga wanitanya itu mendapatkan jatah libur kerjanya jadi dia putuskan untuk pulang lebih awal.
"Mas kamu udah pulang tumben cepat," kata Sarah yang menghampiri Dirga dan membantu melepaskan dasinya tapi di tepis tangannya oleh Dirga.
"Apaan sih kamu," katanya ketus.
__ADS_1
"Dirga ayo sini makan mama sudah buatkan capcay udang kesukaan kamu," ujar Renata dari arah dapur.
Mendengar kata capcay Dirga jadi teringat jika Sena pun sangat menyukai capcay udang seperti dirinya.
"Wah keliatannya enak nih, mama tau aja kalau anaknya lagi kelaparan," ujarnya yang ikut duduk di kursi meja makan.
Saat mereka semua satu persatu menempati kursinya, Dirga tak melihat keberadaan Sena diantara mereka.
"Maudy panggil Sena turun kebawah untuk ikut makan," perintah Dirga.
"Kamu ini lupa apa gimana sih ga, Sena kan tadi siang udah pamit pergi sama kita-kita," ujar Renata seraya menaruh nasi di piring suaminya.
"Apa! Pergi kemana keluar kerja atau kemana maksud mama?" tanyanya dengan wajah gusarnya.
"Sena kan pamit pergi dia katanya mau hidup mandiri, enggak mau nyusahin kamu sama Sarah," jawab Bastian.
"KALIAN ENGGAK NGELARANG DIA BUAT PERGI APA?"
"Udah mas aku sama mama dan papa udah coba larang tapi Sena tetap kekeh mau pergi ya kita izinkan apalagi pas waktu di tanya dia udah izin sama kamu belum jawabnya udah di izinin sama kamu katanya," ujar Sarah.
"Mengizinkan apa! Aku sama sekali enggak dapat kabar apapun dari Sena kalian gimana sih udah tau dia lagi hamil malah diizinkan buat pergi!" ujar Dirga kesal seraya meninggalkan meja makan.
"MAS DIRGA KAMU MAU KEMANA?"
"Anak itu kenapa sih kok tiba-tiba marah, dan Sena berarti dia berbohong dong sama kita." kata Renata yang melihat punggung Dirga yang kini tak terlihat.
Sarah tak yakin Dirga benar-benar marah, di pikirannya Dirga dan Sena sedang berakting yang satu mengatakan ingin hidup mandiri dan satunya lagi pura-pura tidak mengetahui apapun.
Sedangkan Dirga dia benar marah sampai ia buru-buru keluar membawa mobilnya ponselnya terus menelepon nomor wanitanya tapi sayang nomornya sudah tidak aktif bahkan saat dia mencoba menelepon dengan aplikasi hijaunya nomor Dirga sudah di blokir Sena.
"SIAL KENAPA BISA KECOLONGAN KAYAK GINI SIH!" ujarnya kesal seraya memukul setir mobilnya.
Dirga mencari Sena di vila nya di sana ia tak temukan keberadaan Sena bahkan kata satpam yang menjaga vila nya mereka bilang seharian tidak melihat wanitanya, bahkan Dirga mencari Sena di tempat kerjaan dan beberapa karyawan mengatakan Sena sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Dan sekarang dia bingung kemana lagi harus mencari wanitanya.
__ADS_1
TBC