
"Nic, lo ngapain disini?" tanyanya yang melihat Nico yang sudah berada di depan gerbang rumah.
"Jemput lo berangkat sekolah bareng," Sena mengerutkan dahinya.
"Dari mana lo tau kalau gue tinggal disini?"
"Apa sih yang enggak gue tau tentang lo Sen, Maudy saudara lo kan." Sena mengangguk, ia sudah paham.
"Sekolah kita tuh beda Nic,"
"Iya beda tapi satu arahkan, udah ayo nanti kita kesiangan." katanya seraya menarik tangan Sena untuk naik ke jok motor belakangnya.
Sena sempat berpikir sejenak sampai akhirnya ia menerima ajakan berangkat bersama lagi pula dari semalam ia tak melihat Dirga pulang jadi ia tak perlu merasa khawatir.
Saat motornya telah melaju jauh dari gerbang rumah beberapa saat kemudian di susul dengan mobil khusus untuk mengantar Maudy dan Sena. Di dalam mobil Maudy tengah kesal pasalnya ia melihat keduanya bagaimana bisa Nico sedekat itu dengan Sena.
Sekarang Maudy paham kenapa Nico jika di sekolah sering mendekatinya padahal dulu cowok itu sangat bersikap cuek dan seketika tiba-tiba bersikap humble padanya dan sering bertanya mengenai tentang keluarganya dan bodohnya ia pernah bercerita tentang Sena bahkan sering mencemooh nama Sena di depan Nico pria yang di kagumi nya.
***
"Nanti pas pulang gue jemput ya,"
"Thanks Nic tapi kayaknya enggak perlu deh gue enggak enakan sama lo,"
"Sena.. " Sena melihat siapa yang memanggilnya ternyata Juan yang sekarang menghampiri keduanya.
"Lo ngapain sama si brengsek ini Sen!" ujarnya seraya menunjuk pada Nico yang di tunjuk tersenyum angkuh.
"Kalian saling kenal?"
"Enggak, ngapain juga gue kenal sama si bangsat." kini giliran Nico yang menatap tajam Juan.
Juan menarik kerah seragam Nico mereka saling menatap tajam, Juan sudah siap dengan kepalan tangannya.
"Jangan pernah lo deketin Sena, kalau sampai gue liat lo berani macem-macem sama Sena gue enggak akan segan buat ngehajar lo!"
"Juan udah cukup lo ngomong apaan sih, Nico mendingan lo pergi deh sana nanti lo kesiangan lagi." Juan melepas cengkraman nya dan Nico mengangguk ia menuruti permintaan Sena kalau saja tidak ada Sena diantara mereka mungkin Nico sudah menghajar lebih dulu Juan yang bersikap angkuh padanya.
__ADS_1
Nico pergi dengan motornya dan tinggallah Juan dan Sena beserta beberapa siswa yang melihat kejadian barusan.
"Ngapain lo semua huh, Bubar lo semua sana!" murka Juan membuat beberapa siswa berhamburan pergi dari area parkiran.
"Sena.. "
Sena menatapnya sebelum akhirnya ia memilih pergi tanpa berkata apapun ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan Juan pasalnya ia ingin sekolah dengan tenang tanpa di ganggu genk cabe sekelas Angel dan kawan-kawannya.
***
Di jam istirahat baik Sena dan kedua temannya mereka kini sedang berada di taman sekolah, Resti yang kepo dan terus bertanya-tanya pada Sena mengenai kejadian tadi pagi yang berhasil membuat geger satu sekolah.
"Lo tau enggak sih Sen hari ini lo lagi tranding jadi bahan pembicaraan anak sekolah tentang lo yang di perebutkan dari dua cowok tampan di sekolah kita dan cowok ter-famous di sekolah high school internasional." ujar Flo antusias.
"Emang se-famous itu ya si Nico sama Juan," tanya Resti pada Flo yang paling mengetahui tentang Nico dan Juan.
"Kalian enggak tau apa Juan itu murid pindahan dari sekolah internasional ke sekolah kita, setahu gue ya katanya sih mereka berdua itu dulu pernah satu genk tapi enggak tau kenapa bisa jadi musuhan." jawab Flo yang berhasil membuat Sena dan Resti mengangguk.
"Sen apa perasaan lo sekarang jadi satu-satunya cewek yang bisa berada di antara dua cowok famous itu?" tanya Flo.
"Biasa aja," jawabnya santai tanpa beban.
"Ya udah sih Flo yang di deketin tuh Sena kenapa jadi lo yang seheboh ini sih." Flo mencabik kan bibirnya mendengar ucapan Resti barusan dan ucapan itu berhasil membuat Sena terkekeh mendengarnya, Resti selalu asal ceplos jika bicara.
Sena benar-benar tidak perduli dengan apa yang sedang trending sekarang lagi pula antara ia dan Nico dengan Juan tidak ada hubungan apa-apa mereka berdua hanya dua pria yang selalu mencoba mendekatinya dengan berbagai cara, taktik yang mereka lakukan sudah sering di gunakan para cowok yang mendekatinya saat ia di sekolahan yang dulu jadi Sena sudah bisa menebaknya.
***
Hembusan nafasnya begitu sangat terasa dekat ia menyentuh wajah pria yang di cintai nya yang masih tengah tertidur pulas.
"Ga..," ucapnya seraya mengelus pipi Dirga.
"Eugh! Ran kamu udah bangun, aw kepala aku pusing banget." Dirga mencoba duduk dan Rania langsung menyodorkan air putih untuknya.
Dirga melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi semalam ia tidak pulang ke rumahnya dan semalam ia justru menginap di apartemennya dan malam itu juga ia menahan gejolak di dadanya.
Dirga masih ingat betul ketika Rania menggodanya tapi pikirannya masih ingat akan Sena--wanitanya saat itu pula ia langsung memutuskan keluar dari kamar Rania dan memilih tidur di sofa yang ada di ruang tengah.
__ADS_1
Keduanya sama-sama mabuk berat bahkan Rania merasa malu saat ia mengingat tindakannya tapi semalam tubuhnya benar-benar sangat lemas sampai Dirga memilih keluar dari kamarnya ia bahkan tidak mampu untuk bergerak mengejarnya.
"Aku harus pulang, aku udah telat berangkat kantor." Dirga bangkit dari duduknya.
"Kamu enggak mau sarapan dulu ga?" Dirga menggeleng ia buru-buru mengenakan jasnya dan berpamitan pulang pada Rania.
Dirga bisa melihat dengan jelas raut wajah kekecewaan pada wajah Rania tapi mau bagaimana pun ia juga dulu pernah merasa kecewa karena Rania meninggalkannya dan memilih karirnya di banding hidup bersama dengannya dan sekarang wanita itu kembali ia masih dengan baik hatinya memberikannya tempat tinggal, ia juga berusaha untuk tidak mencoba menyakitinya tapi jika untuk bersikap seperti dulu.
Maaf ia tak bisa melakukannya perasaannya yang sekarang pada Rania sudah tak seperti dulu dan perasaannya yang sekarang hanya untuk wanitanya.
***
"Ayo pulang Sen," katanya seraya menepuk-nepuk jok belakang motornya mempersilahkan Sena untuk duduk tapi sang empu hanya berdiam diri.
"Sena pulang bareng gue," Juan tiba-tiba menghampiri keduanya.
Sungguh! Sena benar-benar di buat pusing dengan kedua manusia ini. Jika ia harus memilih lebih baik ia tidak mengenal keduanya sama sekali.
"Juan, Nico please kalian udah ya jangan bertengkar lagi. Juan sorry gue enggak bisa pulang bareng lo," ucapannya berhasil membuat Nico merasa senang.
"Sorry juga Nic gue enggak bisa pulang bareng lo tapi thanks lo udah jauh-jauh kesini buat jemput gue tapi gue bener-bener enggak bisa pulang bareng lo," dan sekarang giliran Juan yang merasa senang karena Sena juga menolak ajakan Nico.
Beruntung Resti dan Flo datang menghampiri ketiganya, Resti langsung merangkul pundak Sena.
"Sorry ya cogan-cogan Sena yang paling cantik ini pulangnya bareng kita," ujar Resti membuat Sena merasa lega.
"Yup betul, Sena pulang bareng kita." tambah Flo dan saat bus tiba mereka segera berlari ke halte busway meninggalkan Juan dan Nico yang sekarang saling membuang muka.
Di dalam bus Flo terus berbicara ia tengah berandai-andai jika dirinya yang di perebutkan ia juga pasti akan merasa kelimpungan, bagaimana tidak kelimpungan baik Juan dan Nico mereka sama-sama tampan dan menawan.
"Gue jadi penasaran sama pacar lo itu Sen kayaknya cuman dia seorang yang paling menawan sampai ngebuat lo enggak berminat sama sekali dengan dua cogan Nico dan Juan," Sena mengangguk menjawabnya.
Ya, Sena tidak berminat sama sekali pada Nico ataupun Juan tapi tentang Dirga yang paling menawan entahlah ia tidak pernah berpikir seperti itu, lagi pula ia juga bingung dengan perasaannya.
Apakah ia memiliki perasaan lebih pada pria yang sudah beberapa kali ini tidur dengannya atau tidak ada perasaan sama sekali? ia belum mengerti dengan keadaannya yang jelas Sena sekarang hanya merasakan kenyamanan saat bersama Dirga. Ya, walaupun terkadang pria itu bersikap menyebalkan.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Vote dan Komentarnya ya prend.