
Satu bulan kemudian..
Dirga bersama kedua orang tuanya dan juga beserta dan Maudy mereka tengah makan malam di sebuah restoran di ruang VIP, mungkin yang lainnya menikmati makan malam kali ini tapi tidak dengan Dirga yang tampak tak menikmati makan malamnya, pikirannya selalu memikirkan dimana keberadaan wanitanya sekarang Dirga merasakan bagaimana hidup tanpa Senna walaupun dia baru saja di tinggal satu bulan lebih tanpa wanitanya.
"Mas kamu enggak mau nambah?"
Mendengar Sarah yang bertanya seperti itu membuatnya semakin kesal, ingin sekali dia melempar piring ke arah Sarah sudah tau makannya saja belum habis masih bisa-bisanya bertanya ingin menambahkan makanannya.
"Dirga itu kamu di tanyain sama istri kamu malah diam aja," ujar Renata.
Andai Renata tahu jika Sarah bukanlah istrinya dan andai Dirga berani mengungkapkan apa yang selama ini dia sembunyikan.
"Aku mau ke toilet dulu," katanya seraya melenggang pergi begitu saja.
Dia membasuh wajahnya dengan air, dia kesal karena satu bulan ini terus-terusan terpuruk dalam keadaan yang tak dia inginkan.
"Sena tungguin gue di luar bentar ya," kalimat itu berhasil membuat Dirga langsung mencari sumber suara, siapa Sena yang di maksud tapi pria itu telah masuk ke dalam toilet. Sial! Dirga tak sempat melihat wajar pria barusan.
Seseorang diluar toilet pria dia tengah berdiri dari segi perawakannya persis seperti Sena, ia langsung menyentuh pundak wanita itu.
"Sena?"
__ADS_1
"Maaf saya bukan Sena,"
"Oh, maaf saya salah orang." Dirga memutari sekitar toilet tapi ia tak menemukan keberadaan siapapun.
"Mas,"
"Sarah?"
"Kamu ngapain aja sih di toilet lama banget, ayo kamu di tanyain tuh sama Mama."
"Iya-iya enggak sabar banget sih," jawabnya yang pandangan ke sembarang arah, dia masih penasaran dengan suara pria yang menyebut nama Sena.
Dirga menyingkirkan pikirannya tengah Sena dia harus kembali ke meja makan, mereka telah menunggunya dan beberapa menit kemudian pria yang di maksud Dirga keluar dari dalam toilet.
"Eh lo udah nungguin lama?"
"Enggak sih tadi aku juga ke toilet bentar,"
"Oh, ya udah ayo pulang udah malem enggak baik juga buat ibu hamil pulang malam-malam,"
Ya, pria itu Nico dan yang di panggil Sena itu memanglah Sena yang kini sedang bersama Nico mereka habis makan di restoran itu juga tapi bukan di ruang VIP.
__ADS_1
***
"Tadi aku barusan kayak ngeliat Sena deh mba," ucap Maudy keceplosan saat mereka sedang berada di dalam mobil.
Maudy langsung bungkam saat melihat tatapan tajam dari Sarah yang duduk di jok depan dengan Dirga.
"Kamu lihat dimana Sena? Kenapa tadi enggak kamu samperin ajak dia ikut makan bareng kita," ujar Renata.
"Kayaknya aku salah ngeliat deh tante,"
"Yakin salah lihat?" Dirga bersuara membuat bulu kuduk Maudy merinding.
"Iya mas aku salah lihat," jawabnya beralibi padahal Maudy jelas-jelas melihat Sena saat di parkiran dan bukan hanya Sena tapi juga Nico yang sedang membukakan pintu mobilnya untuk Sena.
Maudy menggerutuki dirinya sendiri kesal karena bisa-bisanya dia keceplosan mungkin efek terlalu banyak makan jadi tolol seperti ini.
Ya, bukan Maudy yang merasa melihat Sena di restoran tadi tapi Dirga pun merasakan hal yang sama dia merasa seperti keberadaan dirinya dan Sena begitu sangat dekat tapi memang mungkin takdir belum merestui pertemuan mereka berdua.
"Aku salah Sena harusnya aku bisa ngertiin keinginan kamu, harusnya aku mau berkata jujur." batinnya berbicara ia merasa bersalah karena dirinya wanita yang dicintainya pergi meninggalkannya.
Andaikan saat itu Dirga mau berterus terang dan mau memperjuangkan wanitanya mungkin keadaannya tidak akan serumit ini, mungkin saat ini dia masih bisa melihat wajah dan senyum manis wanita, ia juga mungkin masih bisa menemani Sena pergi ke dokter untuk cek kandungannya tapi terakhir kali sebelum Sena memutuskan untuk pergi, ia bahkan tidak menemani wanitanya pernah ke dokter.
__ADS_1
Suami macam apa dirinya ini, hanya memikirkan dirinya sendiri tapi tak memikirkan perasaan istrinya.
TBC.