
Sena yang tertidur pulas di sofa Dirga menggeleng kan kepalanya melihat di bawah sofa begitu banyak sampah bekas cemilan Sena, gadis ini benar-benar bocah di matanya. Tapi sesaat kemudian ia berjongkok memperhatikannya begitu lekat wajah Sena. Ia menatapnya dengan lekat sesekali menyisipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Sena ini pertama kalinya Dirga berani menatap seseorang dengan begitu dekatnya apalagi saat seseorang itu tengah tertidur pulas.
"Hoams.. " Sena menggeliat Dirga langsung refleks menghindar jauh sebelum akhirnya Sena terbangun dari tidurnya.
"Udah bangun?" Sena terkejut melihat keberadaan Dirga di hadapannya.
"Udah,"
"Ayo pulang.. "
Sena melihat awan dari atas balkon yang kini memperlihatkan senjanya ia terkagum ternyata hanya dari atas balkon ia bisa menikmati indahnya senja yang sebenarnya sudah memulai memudar.
"Kamu lihatin apa?"
"Senja," ternyata Dirga juga baru mengetahui di vilanya ternyata ia bisa menikmati keindahan senja di sore hari.
"Udah ayo pulang,"
"Ih nanggung mas." ia tidak membutuhkan sebuah penolakan Dirga langsung menyeret Sena ikut keluar dengannya.
Sena masih bingung dengan sikap Dirga yang terkadang bersikap tidak perduli tapi disisi lain Dirga memberikan sikap keperduliannya padanya, sikap Dirga yang seperti ini membuat Sena penasaran sebenarnya seperti apa sikap Dirga yang sebenarnya.
"Ngapain kamu ngeliatin saya kayak gitu?" Sena langsung membuang muka berpura-pura melihat pepohonan lewat kaca mobil, Dirga memergokinya.
Tidak butuh waktu lama mereka sampai di rumah saat itu juga Sarah dan Maudy yang menemaninya menunggu kepulangan Dirga. Saat mobil sudah terparkir Sena buru-buru keluar dan ia hendak masuk lewat pintu belakang tingkahnya berhasil membuat Dirga menggelengkan kepalanya.
***
__ADS_1
Sena yang kini sedang berada di dalam kamarnya ia bersyukur hari ini Sarah tidak memarahinya tapi terkadang apa tidak ada yang perduli dengannya, tidak ada yang menemuinya sekedar mengajaknya makan malam padahal ini sudah waktunya jam makan malam tapi tidak ada satupun yang memanggilnya untuk keluar.
Tanpa Sena sadari mereka sudah menikmati makan malam tanpa Sena di meja makan itu dan entah mengapa Dirga tidak menyuruh salah satu dari mereka untuk memanggil Sena entah mengapa sikapnya selalu berubah jika sedang berada di rumah.
Sarah yang senang karena Dirga tidak memperdulikan Sena bahkan ia berfikir mungkin Dirga tidak menyukai sifat Sena setelah mengetahui tentang Sena yang berkelahi di sekolahnya mungkin menjadikannya ilfil di pikirannya seperti itu.
Malam semakin larut dan Sena masih belum juga tidur matanya masih terbuka lebar mungkin efek karena ia kelaparan padahal tadi saat di Villa ia sudah makan bahkan nyemil beberapa snack tapi masi saja membuatnya lapar.
Tok.. Tok.. Ketukan pintu membuyarkan lamunannya saat ia membuka pintunya Bi Mina sudah berada di depannya seraya membawa satu box di tangannya.
"Ada bi?"
"Ini non pesanan makanan neng Sena,"
"Pesanan saya?" Sena masih kebingungan ia rasa tidak memesan apa pun.
"Makasih bi,"
Sena menutup kembali pintunya ia menaruh box besar itu kembali ia masih memikirkan siapa yang memesankan makanan untuknya karena keadaannya yang sedang kelaparan ia memutuskan membuka box nya di dalam terdapat makanan kesukaannya steak beserta jus apel sesegera mungkin ia menyantapnya.
"Siapa pun yang nge-order makanan ini buat aku, aku benar-benar berterimakasih banyak." katanya seraya mengunyah daging steak yang menurutnya tak asing rasanya seperti ia pernah memakannya tapi ia lupa dimana, bodoamat dengan dimana ia pernah memakan yang terpenting perutnya tidak terserang penyakit.
***
Pagi hari di sekolah Sena kembali di hampiri Juan pria satu itu bagi Sena benar-benar sudah membuatnya sangat merasa risih pasalnya dia tidak pernah berhenti terus menganggu nya.
"Flo tadi pagi aku dapat sms dari Juan, kamu yang ngasih nomor aku ke Juan ya?"
__ADS_1
"Sori sen, semalam tadi aku udah nolak permintaan Juan tapi dia terus maksa minta nomor kamu mau enggak mau ya aku kasih aja karena aku juga risih di teror terus," ujar Flo memberikan penjelasan.
"Oh gitu ya, ya udah enggak apa-apa kok aku ngerti."
Sena yang sedari tadi masih kebingungan dengan penjelasan dari guru yang menjelaskan materi akuntansi di kelasnya benar-benar membuatnya kelimpungan, pasalnya ia paling bodoh dalam hitung menghitung.
Bukannya mengerjakan tugas ia justru memilih terus melamun memikirkan siapa yang memesankan makanan untuknya semalam, pulpennya terus ia ketukan di meja berhasil mengeluarkan bunyi di keheningan kelasnya.
"Sena Kathsura," berkali-kali pak ridwan memanggil namanya tapi Sena masih dalam lamunannya.
"Sena!"
"Iya mas," semua murid di dalam kelas tertawa mendengar ucapan Sena barusan.
"Mas?saya ini bukan mas kamu,"
Sena celingukan merasa malu karena keceplosan, "Maaf pak,"
"Besok kamu harus kumpulkan tugas di halaman 32," Sena mengangguk.
Sena benar-benar menggerutuki dirinya sendiri bisa-bisanya ia melamun bahkan sampai keceplosan memanggil gurunya dengan sebutan Mas.
Bagaimana mungkin ia memikirkan Dirga di saat jam sekolah pasalnya ia menyakini bahwa orang yang memesankan makanan semalam untuknya pasti Dirga, bahkan sekarang ia berfikir apa sepertinya Dirga menyukai dirinya tapi enggan mengungkapkannya.
"Tapi masa iya sih mas Dirga suka sama aku dia kan udah punya istri," batinnya berbicara.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1