
Di dalam kelas Keira terlihat banyak diam. Bukan diam karena dia memperhatikan pelajaran yang di sampaikan sang guru. Namun Keira diam karena gugup saat Devan sang mantan duduk di sebarangnya. Bahkan terkadang dengan sengaja Devan menoleh kearah Keira yang gugup.
"Kei, lo kenapa sih?"tanya Alya berbisik.
"Hah, gue, gue nggak apa apa, cuma mau ijin ke toilet bentar"elak Keira. Keira langsung beranjak dari duduknya dan segera ke toilet setelah mendapat ijin dari gurunya.
"Ya Devan?"tanya sang guru saat Devan mengangkat tangan.
"Saya ijin ke toilet bu"ijin Devan.
"Silahkan"jawab sang guru. Dengan cepat Devan keluar kelas dan toilet. Bukan toilet cowok, namun dia bersandar di depan toilet cewek menunggu Keira. Ya, Devan sengaja ijin ke toilet karena ingin menyusul Keira.
Sedangkan di dalam toilet Keira memandang wajahnya di depan kaca besar. Berulang kali dia menarik nafas dan menghembuskannya pelan agar merasa sedikit tenang.
"Huftt, tenang Kei, tenang, lo pasti bisa"ucap Keira menyemangati dirinya. Dirasa lebih tenang, Keira membasuh wajahnya dengan air mengalir dan segera mengelapnya dengan tisu yang dia bawa di dalam saku.
"Lo pasti bisa"semangat Keira. Dengan langkah pasti Keira keluar dari toilet. Namun saat sampai di depan toilet, ada yang menarik tangannya.
Deg
Jantung Keira seakan berhenti berdetak saat Devan menggenggam tangannya. Namun saat dia sadar dari lamunannya, Keira berusaha melepaskan cekalan tangan Devan. Devan menghentikan langkahnya saat Keira memberontak. Dia memandang Keira dengan dahi berkerut seakan bertanya, ada apa.
"Lepas"ucap Keira tegas. Namun Devan tak bergeming. Dia malah kembali menarik Keira.
"Aku bilang LEPAS"teriak Keira. Devan langsung melepaskan cekalan tangannya saat Keira berteriak.
Dengan menahan kesal, Keira berbalik hendak meninggalkan Devan. Namun dengan segera Devan menyekal kembali tangan Keira.
"Lepas"ucap Keira.
"Nggak. Nggak bakal aku lepasin kalau kita belum bicara"ucap Devan tegas tak terbantah.
"Apa lagi yang mau di bicarain? Kita udah selesai 3 tahun lalu"jawab Keira tak kalah tegas.
"Aku minta maaf soal itu, aku terpaksa lakuin itu karena_"ucap Devan terpotong.
"Terpaksa? 3 tahun kita udah bubar, 3 kita nggak pernah ketemu, bahkan lo nggak pernah nemuin gue sekalipun, dan sekarang lo kembali dan bilang kejadian 3 tahun lalu itu terpaksa?"potong Keira dengan mata memerah.
"Perlu gue ingetin, dari awal lo yang deketin gue duluan, lo nyatain perasaan lo duluan, dan lo juga yang mengakhiri hubungan. Apa lagi yang perlu gue denger? Nggak ada, nggak ada yang perlu diperjelas, semuanya udah jelas, jadi jangan pernah sekalipun lo berharap gue bakal kembali"ucap Keira marah dan segera berbalik meninggalkan Devan.
"Apa semua itu karena Kevin?" ucap Devan yang membuat Keira menghentikan langkahnya.
"Apa yang Kevin kasih sampai sampai kamu nggak mau ninggalin dia?"ucap Devan.
"Kevin lebih dari segalanya buat gue, dan sampai kapanpun gue nggak bakal ninggalin dia"jawab Keira tegas dan segera meninggalkan Devan.
Devan mengacak rambutnya frustasi. Niat hati ingin mengajak Keira bicara baik baik, namun malah dia juga terbawa emosi. Dengan langkah gontai Devan segera kembali kekelas karena takut dicari sang guru karena terlalu lama.
.
.
.
__ADS_1
Jam istirahat tiba, Keira dan teman temanya segera ke kantin. Namun saat mereka sedang membereskan buku buku sisa pelajaran tadi.
"Lo tadi kemana Kei? masa ke toilet lama banget?"tanya Lily.
"Biasa, udah nggak tahan"bohong Keira. Lily hanya manggut manggut mendengar jawaban Keira. Berbeda dengan Alya yang memicingkan matanya. Alya seakan tidak percaya dengan jawaban Keira.
"Kok lo tadi masuk kelasnya bisa hampir barengan sama Devan? lo lagi nggak sembunyiin sesuatukan?"selidik Alya.
"Hahh, mana ada gue semunyiin sesuatu"elak Keira. Mata Alya memicing melihat Keira yang salah tingkah.
"Ishh, apaan sih liatin gue gitu banget, udah ayo kantin, udah di tungguin tuhh"ucap Keira mengalihkan pembicaraan. Keira segera bangkit dan menghampiri Kevin yang sudah menunggunya di depan kelas. Sedangkan Alya, Lily dan Vivy segera menyusul. Namun Alya menangkap gelagat Devan yang terang terangan menatap Keira dari jauh.
"Sayang, itu Devankan?"tanya Kevin.
"Ehh, iya yang, aku nggak tau kalau dia bakal pindah sekolah disini"ucap Kiera lirih.
"Ya udah, makan dulu yuk, udah laperkan"ajak Kevin. Keira mengangguk dan segera mengikuti Kevin yang menarik tangannya. Begitupun dengan yang lain. Mereka saling bergandengan tangan menuju kantin.
Didalam kelas Devan yang melihat kepergiaan Keira bersama Kevin. Dia menatap betapa bahagianya Keira. Dia mengusap wajahnya kasar.
"Apa mungkin lo balik lagi sama gue?"gumam Devan. Devan beranjak dan segera keluar kelas. Tujuannya sama dengan siswa lainnya, kantin.
Sampai di kantin suasana ramai yang mendomisili. Devan ikut mengantri di antara kerumunan siswa lain untuk membeli makan dan minum. Namun siapa sangka, karena kebanyakan yang mengantri makanan adalah siswa perempuan, mereka semua terang terangan mempersilahkan Devan untuk memesan terlebih dahulu.
"Ehh ada siswa baru yang ganteng, mau pesan makan ya? duluan aja deh, aku mah ngalah sama yang ganteng"
"Kamu duluan aja ganteng"
Begitulah para siswa yang mempersilahkan Devan memesan terlebih dahulu. Tanpa menjawab celotehan siswa siswa tersebut, Devan segera memesan siomay dan es jeruk dan segera membayarnya. Dengan membawa nampan, dia mencari kursi kosong. Cukup lama dia berdiri dan celingak celinguk mencari kursi. Hingga pandangannya tertuju pada meja kosong yang tempati oleh seorang siswa perempuan.
"Boleh duduk sini?tanya Devan. Siswa tsrsebut melirik Devan sebentar. Lalu dia mengedarkan pandangannya. Dan ternyata benar tidak ada lagi kursi kosong. Dia hanya mengangguk mengiyakan Devan. Dengan senyum Devan segera duduk.
"Lo anak baru kan?"tanyanya.
"Iya, kenalin, gue Devan"ucap Devan.
"Zoya"jawab Zoya singkat. Mereka sama sama diam menyantap makanan masing masing. Hingga Devan yang selesai lebih dulu masih memilih duduk dan memainkan ponselnya.
"Lo kok sendirian aja? temen lo mana?"tanya Devan.
"Nggak ada"jawab Zoya. Benar memang, setelah kejadian berita kehamilan Keira gang tersebar dan dalang di balik semua itu adalah Zoya, teman temannya menjauhinya. Bahkan tak jarang pula dia mendapat sindiran pedas dari teman temannya.
"Lo sendiri? temen lo mana?"tanya Zoya.
"Gue anak baru, wajarlah belum punya temen"jawab Devan.
"Kelas berapa lo?"tanya Devan.
"Kelas X"jawab Zoya.
Dan obrolan pun berlanjut sampai bel masuk berbunyi. Bahkan Devan dan Zoya pun barengan keluar dari kantin.
.
__ADS_1
.
.
Bell pulang sekolah adalah hak yang di nanti oleh semua siswa. Tak terkecuali Keira. Keira mati matian menahan rasa kesal dan gugup setelah kehadiran Devan. Dengan segera Keira mengemasi buku dan akat tulisnya saat sang guru keluar dari kelas.
"Lo kenapa sih Kei buru buru banget?"tanya Alya.
"Gue ada janji sama Kevin"jawab Keira tersenyum.
"Iya deh iyaa,, yang udah resmi"goda Alya.
"Apaan sihh lo"kesal Keira.
"Gue duluan ya"pamit Keira pada ketiga temannya. Dan ketiganya menjawab dengan mengancungkan jempol mereka.
Keira berjalan melewati Devan tanpa melirik sama sekali. Dia segera keluar kelas dan menghampiri Kevin.
"Yuk pulang"ajak Keira.
"Eitt, bentar dong Kei, pacar pacar kita mana nihh?? tumben lo keluar duluan?"tanya Nathan.
"Pacar lo lo pada masih di dalem, gue sama Kevin duluan, mau ngedate"pamit Keira.
"Ahh elahh yang udah sah gini amat yaa"goda Nathan.
"Sirik aja lo"gerutu Keira.
"Udah sayang, yuk pulang"ajak Kevin. Keira mengangguk. Kevin dan Keira pun berlalu meninggalkan teman temannya.
Di dalam mobil Keira terlihat diam memejamkan matanya. Dia terlihat sedikit risau setelah kehadiran Devan dalam lingkungannya.
"Sayang, kenapa?"tanya Kevin.
"Nggak apa apa yang"jawab Keira menatap Kevin dengan senyum.
"Beneran?"tanya Kevin.
"Nggak ada hubungannya sama Devan?"tanya Kevin lagi.
"Maaf"ucap Keira lirih. Kevin menepikan mobilnya sejenak.
"Sayang, bilang sama aku, apa yang buat kamu kayak gini?"tanya Kevin.
"Nggak ada. Aku_aku hanya takut Devan ganggu hubungan kita"jawab Keira menunduk.
"Apa yang membuat kamu beranggapan kalau Devan bakal ganggu hubungan kita?"tanya Kevin. Terdengar Keira menghela nafas berat. Setelah itu dia menceritakan kejadian di sekolah tadi saat Devan menunggunya di depan toilet dan mengajaknya ke lorong sepi untuk mengajaknya bicara. Keira menceritakan semuanya pada Kevin dan Kevin pun mendengarkan tanpa menyela sedikit pun.
"Sekarang aku tanya sama kamu, waktu kamu putus sama dia, ada nggak dia bilang alasannya?"tanya Kevin. Keira menggeleng sebagai jawaban.
"Dan sekarang kamu penasaran dengan alasan itu?"tanya Kevin lagi. Dan lagi lagi Keira pun menggeleng sebagai jawaban.
"Kalau kamu nggak penasaran, lupakan, jangan di pikirkan. Mending sekarang kita pulang, dan jangan lupa dandan yang cantik nanti malam"pungkas Kevin dengan senyuman. Keira ikut tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Makasih sayang"ucap Keira dan mencium pipi Kevin singkat. Kevin pun tersenyum dan menarik Keira ke dalam pelukanya.
TBC