
Setelah sampai dirumah kara, raka langsung pulang kerumahnya karena besok ia harus berangkat pagi. Keesokan harinya, ya seperti biasa kara terlambat dan saat turun dari mobil dan menyuruh sopir untuk pulang kara melihat ada seorang gadis yang berdiri di depan gerbang, kara heran siapa yang terlambat selain dirinya, kara mendekat dan seketika terkejut
"sasa! kamu ngapain disini?" tanya kara pada sasa, ya gadis yang juga terlambat itu adalah sasa adik dari tunanganya ya walaupun terpaksa bertunangan.
"hay kak kara, aku disini ya karna juga sekolah disini!" sahut sasa enteng
"kamu murid pindahan?" tanya kara dan dijawab gelengan oleh sasa
"bukan kak, aku itu memang daftar disini tapi aku diluar negeri, jadi gak sempet ikut MPLS, ini baru pertama sekolah tapi terlambat" sahut sasa sedikit cemberut, dan kara hanya manggut manggutkan kepala
"ayo ikut aku" suruh kara dan menarik tangan sasa
"kemana kak?" tanya sasa heran
"kalau kamu masuk lewat sana, nanti kamu kena hukuman!" suruh sasa dan berhenti di belakang sekolah
"ouhhh aku ngerti, aku juga sering ngelakuin ini waktu SMP" jawab sasa sambil tersenyum
"kamu tunggu disini aku naik duluan jaga jaga" jawab kara dan naik melewati tumpukan batu yang terdapat disana
"hati hati kak"
"iya santai aja, aku udah sering" ucap sasa dan sampai di atas tembok
"ekhem" deheman dari seseorang membuat kara melihat ke sumber suara dan terlihatlah raka sang ketos, kara memejamkan matanya kesal karena ketahuan, dan memberi kode ke sasa agar jangan naik dulu dan kode itu terlihat oleh raka
"jadi dia gak sendiri" batin raka
"eh ketos udah lama ya disitu?" tanya kara basa basi
"udah cepet turun!" suruh raka datar
"bantuin dong pogi ya" pinta kara dengan wajah yang selalu membuat raka gemas, raka memejamkan matanya sebentar agar tidak terpesona dengan wajah imut kara
"cepetan" ujar raka dan membantu kara untuk turun, kara berhasil turun dengan selamat, kara langsung menarik tangan raka pergi dari sana
"kemana" tanya raka yang heran seharusnya dia menarik kara tapi ini berbeda
"ke istana kitalah udah ditunggu sama pelayan iyakan" ujar kara agar raka cepat pergi dari sana supaya sasa bisa naik dan masuk kesekolah tanpa di hukum, raka semakin curiga dengan kara yang aneh.
"bar lo awasi disini ya, gue kira masih ada yang bakal lewat sini" ucap raka pada bara sang waketos
"oke kak" sahut bara
"ehh gak usah bar tadi gue yang terakhir kok beneran" ucap kara dan semakin membuat raka percaya bahwa ada yang bersama kara. Raka langsung menarik tangan kara pergi dari sana dan menuju ruang osis
"aduh ini gue udah boleh naik apa belum ya" ucap sasa, "naik aja deh" sambungnya lagi, sasa naik seperti cara kara tadi saat sampai di atas tembok sasa dikejutkan oleh seseorang yang memandang dengan tajam
__ADS_1
"astaga ganteng banget" ucap sasa spontan saat melihat bara
"lo siapa gue gak pernah liat lo deh di sekolah ini" tanya bara pada sasa
"gue murid disini" jawab sasa enteng dan mengayun ayunkan kakinya
"murid baru?" tanya bara lagi
"iya in aja mungkin ya biar cepet males jelasinya" batin sasa
"jawab!!" sentak bara
"iya jangan galak galak napa nanti gantengnya ilang baru tau rasa" ucap sasa
"turun!" suruh bara
"gimana ya gue gak bisa turun lo liatkan ini tinggi banget,,, kalau gitu tolong ambilin tangga boleh biar gue bisa turun" kata sasa dengan sedikit memelas, bara pun pergi mengambil tangga
"maaf ya gue tau lo ganteng, tapi kalau gue dihukum saat pertama masuk gak baik, apalagi ada kak raka disini nanti gue disuruh keluar negeri lagi" kata sasa dan loncat turun
"nanti gue cari lo, kayaknya lo pantes buat gue gebet" ujarnya lagi dan berlari meninggalkan tembok belakang sekolah, "untung gue cerdik"
Bara kembali kesana dan membawa tangga saat sampai disana bara kesal karena cewek itu sudah pergi dari sana
"awas aja ya lo gue bakal bales apa yang lo lakuin" ucap bara kesal
"pogi lo bisa pelankan narik gue nanti kalau gue jatuh gimana?" kara sedikit berlari menjajarkan langkah raka
"jatuh ya kebawah" sahut raka datar
"kalau gue jatuh ke hati lo pasti gak sakitkan" goda kara
"mana gue tau, gak ada yang pernah jatuh kehati gue" sahut raka enteng
"ish gue mau gombal tapi lo malah gitu" kesal kara
"kalau mau gombal itu yang beda dikit dong" sahut raka, kara cemberut dan meninggalkan raka
"tunanganku" ucap raka, kara berhenti dan berbalik menghadap raka untuk tidak ada orang yang mendengar itu, raka mendekat ke arah kara
"jangan cemberut lo gemesin tau gue karungin baru tau rasa lo" ucap raka dan pergi meninggalkan kara yang sedang terseyum dengan wajah merah
"idih gue kenapa sih baru digituin aja jantung gue udah lari" batin kara, dan meyusul raka. Sampai diruang osis raka dan kara disambut
"tumben pangeran dan tuan putri dateng barengan ada apa ni" tanya dimas
"pangeran, pangeran kodok iya" gumam kara dan sedikit terseyum
__ADS_1
"lo gila?" tanya raka
"waraslah, emang lo, aneh galak nyebelin" ucap kara dan memilih duduk di tempat biasa, raka juga duduk di meja kebesaranya. Tiba tiba bara datang dengan keadaan yang kesal
"lo napa bar?" tanya dimas
"gue lagi kesel" jawab bara
"gue tau lo kesel" jawab dimas
"kalau tau napa nanya kak" sahut raka semakin kesal
"lo kok ngegas" tanya dimas
"udah!! kenapa?" sekarang raka yang bertanya
"lo bener kak, tadi ada yang terlambat dan naik tembok kayak kara" ucap bara "dia malah bohongin gue, dia katanya gak bisa turun dan nyuruh gue buat ambil tangga, saat udah gue ambil tu tangga cewek itu udah pergi entah kemana" sambung bara
"hahhhhhaahaha, kasihan kena tipu ya hahhhaa" tawa dimas pecah, kara hanya diam saja mendengar itu
"ketawa lo kak liat gue di tipu" ketus bara
"jelaslah gue selalu senang diatas penderitaan orang" sahut dimas, dan bara hanya menatap malas ke arah dimas
"untung tu anak cerdik kayak gue, kalau gak pasti dia ada disini" batin kara
"siapa dia?" tanya raka
"gak tau kak kayaknya dia murid baru" jawab bara
"udah gue ngapain disini?" tanya kara agar permasalahan itu tidak dilanjutkan
Raka melihat ke arah kara dan menatap gadis itu lekat, sepertinya dia benar ini ada hubunganya dengan kara, tapi siapa yang ditolong oleh kara
"nanti pulang sekolah lo bersihin ruang osis" jawab raka
"males gue terus ruang osis gak ada yang lain?" tanya kara
"enggak gue tunggu lo nanti disini" jawab raka, kara pergi meninggalkan ruang osis dengan kesal,
"untung lo itu tunangan gue kalau bukan udah gue buang lo ke antartika" sambung kara kesal.
Disisi lain sasa berjalan tanpa arah karena dia belum mengenal sekolah ini, dia sembari melihat ke kanan dan ke kiri berharap bisa melihat ruang kepala sekolah, dan bertanya dimana kelasnya, saat kurang fokus sasa menabrak seseorang.
BRUGGGG
"AAAWWW"
__ADS_1
"SORRY"