
Setelah raka keluar bara langsung melajukan mobilnya menuju kerumah sakit, ia sangat cemas melihat sasa yang lemah, biasanya sasa adalah gadis yang sangat ceria tapi saat ini bara membenci sasa yang tidak cerewet
"kak, calon pacar sasa, makasi ya udah mau nolongin sasa" ucap lirih sasa melihat bara yang berada disampingnya, bara melihat sasa disaat seperti ini dia masih bisa memanggil panggilan itu
"sa lo harus kuat ya, sebentar lagi kita sampai" kata bara sedikit lembut dan mempercepat laju mobilnya
"kak bara lucu deh, kalau panik kayak gitu, aku makin suka" ucap lirih sasa melihat wajah bara dan perlahan menutup matanya, bara semakin mempercepat laju mobilnya, dan sampailah ia di rumah sakit terdekat. Bara menggendong sasa dan langsung membawanya masuk agar mendapat penanganan dari dokter.
###
Ditempat rumah kosong itu raka mengedakan pandanganya mencari keberadaan kara, dengan cahaya hp raka melihat tiap sudut ruangan itu.
DEGG
"kara!" seru raka dan menghampiri kara yang tergeletak tak sadarkan diri
"kara, kara lo harus kuat gue akan bawa lo kerumah sakit" raka menggendong kara dan membawanya keluar dengan perlahan, karena keadaan rumah itu sangat gelap, sebelum itu ia telah memesan taksi untuk menjemputnya, dan langsung membawa kara pergi kerumah sakit terdekat
"kara lo harus kuat, lo gak boleh ninggalin gue, lo itu berarti buat gue" batin raka menatap wajah cantik kara yang banyak luka lebam, dan darah di sekitar pelipis dan bibir, raka seketika melotot tak percaya pergelangan tangan kara mengeluarkan darah, raka segera melepas dasinya dan mengikat di pergelangan tangan kara.
"lo kuat kara, lo cewek kuat yang pernah gue temui" ucap raka sambil memeluk erat tubuh kara, akhirnya sampai di rumah sakit, raka langsung menggedong kara dan membawanya masuk. Beberapa dokter memasuki ruangan yang dimasuki oleh raka dan kara,
"mas bisa tunggu diluar biarkan kami yang menjalankan tugas kami" ucap salah satu dokter
"enggak dok saya mau disini saya mau nemenin dia" ucap panik raka dia tak akan meninggalkan kara
"maaf mas kami harus memeriksanya karna pasien kehilangan banyak darah" ucapnya lagi dan raka pun memilih keluar dan berdiri di luar ruang pemeriksaan kara
"kak gimana?" tanya seseorang dari belakang raka, bara dia adalah bara
"bar sasa, gimana keadaanya?" tanya raka yang baru teringat bahwa sasa juga terluka
"tenang aja kak, sasa gak apa–apa, sekarang dia lagi istirahat, dokter sudah memeriksanya" jawab bara menenangkan raka. Raka menghembuskan nafas berat, dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga 2 wanita yang sangat berarti di hidupnya, raka terduduk di lantai, memegang kepalanya
"arghhh, ini salah gue" teriak raka terdengar sangat sedih, dia meneteskan air matanya, bara duduk di samping raka
"kak raka harus kuat kak, sabar" ucap bara sambil menepuk bahu raka
"keluarga pasien" suara itu terdengar dari arah ruangan kara, raka langsung berdiri dan menghampirinya
"saya dok, saya tunanganya" ucap raka dan bara terkejut mendengar bahwa raka mengaku tunanganya kara
"pasien sudah ditangani dan tidak ada yang terlalu serius, hanya saja sepertinya pasien memiliki trauma, jadi biarkan dia istirahat dulu" ucap dokter dan pergi meninggalkan raka dan bara
"trauma" gumam raka
"kak, kak raka emang tunanganya kara?" tanya bara pada raka
"iya kenapa?" tanya raka menatap bara heran
"gak apa–apa kak" jawab bara sambil menggelengkan kepala, raka mengangguk setelah itu ia menghubungin orang tuanya dan orang tua kara, memberitahu bahwa kara dan sasa berada dirumah sakit.
__ADS_1
"kak raka" bara dan raka melihat kesumber suara, ternyata itu dari sasa raka langsung berlari menghampiri adik kecinya itu
"sasa kamu gak apa–apa kan?" tanya raka hawatir, melihat keadaan sasa
"tenang aja kak, aku adik kakak, tidak akan lemah karna gadis itu" sahut sasa terseyum agar kakaknya tidak hawatir lagi, raka terseyum melihat adiknya yang sangat kuat.
TRINGGGGG
Hp raka berdering menandakan ada panggilan masuk, raka mengangkatnya dengan cepat
"HALLO, GIMANA?"
"..."
"APA, TERUS KEADAANYA?"
"..."
"OKE BAIKLAH" raka menghembuskan nafas panjang dan menutup matanya sebentar
"kenapa kak?" tanya bara
"gina mengalami kecelakaan, mobilnya jatuh ke jurang" sahut raka, sasa dan bara terkejut mendengar itu
"terus gina keadaanya?" tanya bara
"belum ditemukan" jawab raka. Beberapa menit kemudian datanglah kedua orang tua raka dan kara dengan wajah paniknya.
"raka gimana ini bisa terjadi?" tanya mama nana hawatir
"raka jelaskan sama papi apa yang terjadi siapa yang berani melakukan ini" ucap papi beni
"iya biar papa yang menghukumnya" sambung papa doni yang kesal
"ma, mi, pa, pi, raka akan menceritakan semuanya" raka menceritakan kejadianya yang terjadi dan ditambah lagi oleh sasa, raka juga menceritakan kecelakaan yang dialami oleh gina
"apa, jadi ini ulah anak keluarga gunanta?" tanya papa doni, dan diangguki oleh raka, "lihat saja apa yang akan aku lakukan" sambunya lagi.
###
APAAA
teriak dari ina dan sinta mengetahui bahwa sahabatnya kara berada dirumah sakit, dan lebih terkejutnya lagi yang melakukanya adalah gina, si nenek lampir musuh mereka.
"dasar nenek lampir, gue bakal cincang dia sekarang juga" ucap kesal ina
"mau cincang gimana, gina mengalami kecelakaan" ucap bara pada kedua sahabatnya kara
APAAA
Lagi teriakan terkejut kedua orang itu menggema di seluruh sekolah
__ADS_1
"apa kecelakaan, terus gimana sekarang?" tanya sinta
"mobilnya masuk jurang, dan belum ditemukan sampai sekarang" sahut bara lagi
"na nanti kita jenguk kara gimana?" tanya sinta dan diangguki oleh ina
"gue ikut ya" ucap bara
"aku bisa ikutkan sayang" suara itu berasal dari salah satu siswa yang berada di pintu
"boleh kok, nanti pulang sekolah ya" jawab sinta, dia adalah rama pacar sinta
"lo ikut kak?" tanya bara pada dimas
"ikutlah kara itukan tunanganya sahabat gue, gue juga mau jenguk sasa" ucap dimas, dan akhirnya mereka berangkat kerumah sakit bersama sama. Yang mengemudi rama disampingya sinta, di belakang dimas dan ina, sedangkan bara dia memilih pulang dulu untuk urusan yang penting.
"aduh nyet lo geser napa, gue sesek nih" ucap ina
"eh kun, lo udah banyak gitu dapat tempat masih kurang?" ketus dimas
"iya gue sesek liat muka lo yang kayak monyet" kesal ina menatap tajam dimas
"gue juga muak liat muka lo yang serem kayak kunti"
"gue bukan kunti"
"gue bukan monyet" mereka saling melemparkan tatapan tajamnya
"udah, masih mau bertengkar, gak masuk nih udah sampai loh" lerai sinta dan akhirnya mereka menuju ruangan kara, sampai disana cuma ada raka yang masih menunggu sedangkan orang tua mereka telah pulang untuk istirahat
"ka" panggil rama dan mendekat kearah raka, raka menoleh dan mendapati teman–temanya dan kara datang, semua masuk ke ruangan kara
"ya ampun kara, lo kok bisa kayak gini sih" hawatir ina melihat keadaan sahabatnya
"kar maaf ya kita baru kesini" ucap sinta dan ingin menangis
"gimana keadaan kara?" tanya dimas pada raka
"masih belum sadar," ucap raka sambil geleng geleng kepala
"raka, kara membuka matanya" antusias ina, semua temanya mendekati kara
"kara, gimana keadaan lo?" tanya raka yang sudah dengan sigap mendekati kara, kara melihat sekelilingya
"kalian siapa?"
🌸🌸🌸
HAI HAI HAI, MAAF YA SEMUANYA KALAU CERITA INI GAK NYAMBUNG ATAU GAK JELAS TAPI BUAT YANG MASIH SETIA DENGAN CERITA INI AKU UCAPIN TERIMAKASI BANYAK, SEMOGA KALIAN ENGGAK BOSAN DENGAN CERITA GAJE AKU INI😂
OH IYA JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, DUKUNG, TAMBAH KE FAVORITE JUGA YA KALAU BISA FOLLOW JUGA😂
__ADS_1
THANK YOU🙏
LOVE YOU😘