
"hah beneran?" kaget raka
"sayang selamat" ucap mami ida dan memeluk kara, menantu kesayanganya
"selamat ya kara" ucap papi beni, " boy selamat ya, kamu bakal jadi ayah" beni melihat kearah raka yang masih diam saja
"raka kamu kok diam kamu gak seneng ya?" tanya mami ida, dan kara juga melihat raka, kara juga kaget mendengar bahwa dia hamil, antara percaya dan tidak
"beneran kara hamil?" tanya raka sekali lagi
"iya benar dan kandunganya sudah 4 minggu" ujar dokter yang menangani kara
"pi raka bakal punya anak?" ucap raka yang sudah tersenyum bahagia, setelah itu raka memeluk kara istrinya, "terimakasi sayang aku mencintaimu" raka mencium kening kara dan memeluknya lagi
"mulai sekarang tolong jaga kandunganya baik baik, karna ini masih sangat muda, dan jangan membuat ibunya stress, kalau begitu saya permisi dulu pak, buk" dokterpun pergi meninggalkan keluarga tersebut
"raka mami minta sama kamu jagain mantu mama dan calon cucu mama, kalau sampai mereka berdua kenapa napa, kamu berurusan sama mama, ingat itu" ucap ida sambil menatapi anak pertamanya
"iya mi, raka bakal jaga mereka, apapun itu" raka kembali memeluk kara
"raka lepas ih, sesek tau kamu peluk kayak gitu" kesel kara dan cemberut
"yah sayang akukan seneng karna...."
"raka kamu jaga menantu mami aja gak bisa ya" omel ida melihat menantunya cemberut
"mi udah mi, raka itukan baru pertama mau jadi calon ayah, seharusnya kamu beritahu dia cara yang baik dan bener" ucap papi beni, "kamu juga raka, istri hamil kamu peluk peluk kayak gitu sesekan jadinya" lanjut papi beni
"apa bedanya, dua dua posesif" gerutu raka
"jeas itu cucu pertama mami sama papi, kalau sampai kenapa napa, kamu yang mami buang" tegas mami ida
"ih serem banget ih, boy lihatlah nenek dan kakek mu ingin membuang papa kalau kamu sampai kenapa napa" raka berbicara pada perut kara
"darimana kamu tau kalau ini laki laki?" tanya kara heran
"iyalah, karna dia adalah pewaris dari mahendra suatu saat nanti, dia akan sepertiku" raka tersenyum membayangkan anaknya seperti dia suatu saat nanti
tukk
"auww sakit mi" keluh raka sambil mengelus kepalanya
"kamu udah seperti papimu ya, aneh" ujar mami idamelihat tingkah anaknya
"ya apapun itu, dia akan tetap menjadi cucu pertamaku" ujar papi beni, kara tertawa melihat keharmonisan keluarga suaminya atau bisa kara anggap adalah keluarganya sendiri, dan saat ini dia merindukan kedua orangtuanya.
Setelah pulang dari rumah sakit, kara dan raka langsung pulang untuk beristirahat sedangkan beni dan ida kembali ke acara pernikahan sang putri.
Dua bulan telah berlalu (maaf cepetin aja ya hehehe), sekarang kandungan kara sudah berusia tiga bulan.
__ADS_1
"sayang kamu mau makan apa lagi?" tanya raka pada sang istri
"enggak ada aku udah kenyang" jawab kara, dan merebahkan diri didepan televisi
"apakah sasa akan menetap diluar negeri?" tanya kara pada suaminya yang sedang memijat kakinya
"tidak mungkin sebulan lagi dia dan bara akan kembali" jawab raka dan kembali sibuk dengan urusanya yaitu memijat kaki sang istri
"bukanya temen temen mau kesini?" tanya kara pada raka, raka terdiam sejenak dan mengangguk, "kenapa belum datang?" tanya kara dan raka hanya menaikan bahunya pertanda dia tidak tau
"woi, calon ortu" suara terdengar dari arah pintu masuk
"bumil lagi rehat ya" itu adalah suara ina
"eh udah datang masuk masuk" ucap kara dan dia membenarkan posisi duduknya
"eh bro gimana keadaan lo?" tanya dimas pada raka ya biasa gue jadi asisten nyonya mahendra
"ouhh jadi kamu gak iklas nih, yaudah" ucap kara merajuk
"enggak gitu sayang aku iklas kok, masa buat kamu sama anak kita aku gak iklas sih" raka pun memeluk kara dengan sayang
"adehhh kalian ini udah mau jadi ortu aja masih kayak anak kecil" ucap mami ida
"tante" ucap serempak teman teman raka dan kara
"eh ada temenya, tante udah suruh buat minuman kalian disini dulu ya tante mau keluar, okey bay, dan raka jngan buat mantu mama nangis inget itu" mami ida pun pergi meninggalkan mereka
"ngomong apa?" tanya kara
"jadi gini kara, gue hamil" ucap sinta, membuat kara kaget dan juga raka
"gue juga udah kar" sambung ina dan bertambahlah kagetnya kara dan raka
"wah kenapa cepet banget, lo keseringan ya" ucap spontan raka pada dimas dan rama
"aduh kenapa sih sayang kok aku dipukul" cemberut raka karna kara memukul tangan suaminya
"jangan gitu seharusnya kamu senang, berarti nanti anak kita itu bisa seangkatan" ucap kara
"nah bener banget itu maksud gue buatnya cepet ya biar anak kita seangkatan" ujar rama menimpali
"wah selamat ya" ucap kara dan memeluk dua sahabatnya
"thank you ra" mereka bertiga berpelukan
"wah selamat ya kalian berdua" ucap raka mengikuti kara
"udah berapa bulan?" tanya kara
__ADS_1
"gue dua bulan dan ina satu bulan" jawab sinta,
"wah berdekatan banget, gue yakin sih bakal bestian" senang kara ketiga calon ayah itu hanya mendengarkan sambil bermain game
"eh kar gue inget cerita hidup lo yang dijodohin sama raka, gimana kalau kita ulang aja, mau gak?" tanya ina pada kara
"hah maksudnya?" tanya kara dan juga sinta
"okey gini, kalau anak kita ada yang laki laki dan perempuan gimana kalau kita jodohinkan seru tuh" seru ina dan membuat kara berfikir
"gue enggak deh, kasian anak gue biarkan dia mencari pasangan hidup sendiri" ujar sinta
" yaudah, gimana kar, lo maukan, misal diantara kita anaknya ada laki laki dan perempuan kita jodohin gimana?" tanya ina
"iya juga ya pasti seru, oke deh deal gue, gimana raka kamu mau gak?" tanya kara pada raka yang sedang asik bermain game
"terserah kamu aja sayang yang penting kamu senang" ucap raka, entah dia mendemgar atau tidak tapi kesepakatan itu disetujui oleh kedua belah pihak. Mereka berdua pun senang mendengar itu, dan melanjutkan obrolan mereka mengenang saat SMA.
"Oh iya gue baru inget, gue sama dimas bakal pergi keluar negeri" ucap ina dan membuat semuanya diam
"kenapa?" tanya kara
"iya gue ada kerjaan disana kar" ucap dimas menimpali mereka sudah selesai bermain game
"tapi inakan hamil dim emang bisa,?" tanya sinta
"gue juga gak tau sih, rencanya gue besok mau kedokter mau nanya kalau boleh gue bakal pergi" ucap dimas kepada teman temanya
"berapa lama?" tanya raka
"kayaknya sih lama mungkin sampai ina melahirkan, dan mungkin aja gue bisa menetap disana, soalnya kantor papa gue pusatnya disana" jelas dimas
"yah gimana dong, gue gak bisa liat lo rahiran dong na" sedih sinta
"kan bisa vidio call lan" ucap ina
"mahal" celetuk rama, dan semua mata tertuju pada rama
"lo itu berada ya, jangan karan mahal lo gak mau telponan sama kita" sinis dimas
"alah canda, biar gak sedih gitu" jawab rama
"terus perjanjian kita gimana?" tnya kara menatap ina
"itu tetep dong ra, pasti pulang kok gue" ucap ina dan mereka bertiga pun berpelukan
🌸🌸🌸
YUHUUUU AKU LANJUT NIH, MANA SEMANGATNYA BUAT AKU HEHEHEHE
__ADS_1
JANGAN LUPA YA LIKENYA
TERIMAKASI