Love You Ketos

Love You Ketos
BAB 107


__ADS_3

Selesai dinner romantis yang di setting sangat apik oleh Kevin, kini mereka tengan duduk di balkon sambil menikmati malam yang indah. Tangan Kevin merangkul pinggal Keira dan tentu saja kepala Keira bersandar di bahu Kevin. Bahkan sesekali Kevin mencium pucuk kepala Keira mesra.


"Terima kasih untuk malam ini sayang"ucap Keira tanpa merubah posisinya.


"Sama sama sayang"jawab Kevin mencium pucuk kepala Keira. Keira merubah posisinya menjadi duduk menghadap Kevin. Keira tersenyun manis pada Kevin.


"Kenapa?"tanya Kevin.


"Nggak, aku hanya tidak menyangka kalau suami ku ini bisa romantis sekali"ucap Keira mencubit hidung Kevin.


"Jangan salah, aku bahkan bisa lebih romantis dari ini"ucap Kevin.


"Lebih romantis dari ini?"tanya Keira penasaran. Kevin tersenyum jahil pada Keira. Dengan sengaja Kevin mendekatkan wajahnya pada Keira, memeluk pinggang Keira dan membawanya keatas pangkuannya. Tentu saja Keira kaget dan mengalungkan tangannya di keher Kevin.


"Yang, kamu apa apaan sihh"kesal Keira.


"Katanya tadi tanya yang lebih romantis"ucap Kevin. Keira menyerngitkan dahinya bingung.


"Romantis di atas ranjang sayang"bisik Kevin tepat di telinga Keira. Bahkan Kevin sempat mengigit kecil telinga Keira. Kevin menatap Keira sendu, sudah hampir 1 bulan dia menahan sesuatu yang membuatnya pusing. Namun dia tak ingin menyakiti Keira yang belum siap.


"Sayang"ucap Kevin mendayu.


"Sayang ma_"ucap Keira terpotong karena Kevin menyematkan telunjuknya di bibir Keira.


"Sstt, jangan di teruskan, aku tidak akan memaksa kalau kamu belum siap"ucap Kevin sambil melepaskan pelukan di pinggang Keira.


Namun bukannya turun dari pangkuan Kevin, Keira malah memeluk Kevin erat. Kevin yang kaget pun tidak membalas pelukan Keira.


"Aku siap sayang, lakukan yang kamu mau"bisik Keira di sela sela pelukannya.


"Bener sayang"tanya Kevin senang. Keira mengurai pelukannya, mengalungkan tangannya dileher Kevin dan mengangguk pelan. Tentu saja hal itu di sambut baik oleh Kevin. Dengan lembut Kevin mencium bibir Keira dan langsung di balas oleh istri kecilnya itu.


Bibir mereka terus beradu hingga berubah menjadi l*matan. Lidah yang saling membelit hingga betukar saliva. Dan jangan lupa tangan Kevin yang meraba ke daerah pegunungan nan asri yang masih tertutup rapat. Keira mend*sah tertahan saat Kevin me*emas gunung kembarnya . Hingga sesuatu di balik celana Kevin pun sudah mulai mengeras. Dan Keira bisa merasakan itu.


"Punyamu sudah tegang sayang"desah Keira manja saat Kevin melepaskan tautan bibirnya.


"Kamu harus bertanggung jawab sayang"ucap Kevin.


"Dengan senang hati"jawab Keira dan langsung menyambar bibir Kevin.


Kevin pun membalas ciuman tersebut dan segera menggendong Keira seperti koala tanpa melepaskan ciuman mereka. Kevin merebahkan tubuh Keira ke ranjang. Dengan cepat Kevin melucuti semua pakaian Keira dan terlihatlah tubuh polos Keira yang menggoda keimanan Kevin. Kevin beralih membuka kancing kemejanya.


"Biar aku sayang"ucap Keira mend*sah. Keira bangun dan membuka kancing kemeja Kevin satu persatu. Bahkan Keira juga yang melepaskan celana dan pembungkus senjata Kevin. Selesai dengan acara buka membuka, Kevin yang sudah tak sabar langsung mendorong Keira hingga terlentang di ranjang. Fokusnya tertuju pada p*ting yang sangat menggoda iman. Dengan hasrat yang menggebu Kevin meny*sap, men*ilat bahkan mengigit gemas p*ting Keira bergantian kanan dan kiri. Bahkan meninggalkan banyak jejak merah disana.


Keira yang sudah tak tahan dengan perlakuan Kevin langsung turun tangan. Tangan nakal Keira mennggenggam pedang pusaka Kevin dan memainkannya naik turun. Tentu saja Kevin yang meny*su langsung merem melek mend*sah kenikmatan.

__ADS_1


"Kamu nakal sayang"ucap Kevin mendayu.


"Sekarang sayang"desah Keira. Kevin langsung mengarahkan kepala pedang saktinya ke bagian inti Keira yang sudah basah. Dengan sekuat tenaga Kevin mencoba menenggelamkannya di lembah berumput itu. Hingga terjadilah puncak kenikmatan yang di cari cari oleh mereka berdua.


.


.


.


Di kediaman David kini sedang makan malam. David, Fanya, Zoya juga Gilang menyantap makan malam mereka dalam diam. Selesai makan David menggiring keluarga kecilnya itu di ruang tv. Dia ingin menikmati malam Minggu bersama dengan keluarga kecilnya. Zoya merasa senang berada di antara mereka. Kasih sayang, keharmonisan keluarga, semua dia dapatkan disini. Namun di sisi lain, dia merindukan sosok ibunya. Monic. Ibu kandungnya yang kini tengah mendekam di penjara.


David dapat membaca perubahan raut wajah putri pertamanya itu tau, pasti sedang memikirkan Monic. David bukan tipe orang tua yang mengekang anaknya, dia membebaskan keinginan anaknya. Apalagi Zoya sudah beranjak dewasa, sudah tau mana yang baik dan buruk. David pun tidak pernah melarang Zoya yang ingin menemui Monic. Biar bagaimana pun Monic adalah ibunya.


"Pa, tadi Zoya pulang di antar cowok lhoo"ucap Fanya menggoda.


"Benarkah?"tanya David.


"Bener pa, tanya aja tu sama anaknya"ucap Fanya. David menatapn Zoya yang wajahnya sudah memerah menahan malu.


"Benar Zoy tadi di antar cowok?"tanya David.


"I_iya pa"jawab Zoya gugup.


"Temen atau pa_"


"Pacar juga nggak apa apa kali Zoy"goda Fanya.


"Ishh mama, di bilangin temen juga"ucap Zoya kesal. Memang Zoya sudah memanggil Fanya dengan sebutan mama atas perintah David. Biar lebih akrab katanya.


"Maaf tuan di depan ada tamu nyariin non Zoya"sela sang ART.


"Siapa bi?"tanya Zoya.


"Cowok non, temennya non yang tadi siang"jawab ART itu.


"Cie cie,, tuh kan pa, mama bilang juga apa"goda Fanya.


"Udah sana temui dulu, ngajak malam Minggu tuh pasti Zoy"lanjut Fanya menggoda. Dengan menahan malu Zoya beranjak dari ruang tv untuk menemui Devan. Memang setelah makan siang sepulang sekolah, Zoya di antar pulang oleh Devan. Sebenarnya Zoya sudah menolak dan naik taksi saja, namun Devan tetep kekeuh ingin mengantarkan Zoya.


Sampai di teras rumah Devan duduk di bangku yang di sediakan.


"Van, ngapain malam malam kesini?"tanya Zoya.


"Sibuk nggak?"tanya Devan.

__ADS_1


"Nggak. Kenapa emang?"tanya Zoya.


"Jalan yuk"ajak Devan.


"Udah Zoy sana, papa kamu pasti ijinin kok"sela Fanya dari balik pintu. Tentu saja Zoya dan Devan kaget dengan kedatangan Fanya.


"Malam tante"sapa Devan sambil menyalami Fanya.


"Malam Devan"jawab Fanya.


"Mau ngajak Zoya keluar ya?"tanya Fanya.


"Iya tante kalau di ijinin"jawab Devan.


"Pasti di ijinin dong"ucap Fanya.


"Kamu masuk dulu yuk, sambil nunggu Zoya ganti baju"lanjut Fanya mengajak Devan masuk. Zoya melongo di tempatnya berdiri saat melihat betapa antusiasnya sang mama tiri saat dirinya diajak malam Mingguan oleh temannya.


Zoya segera menyusul dan melihat Devan yang tengah bercengkrama dengan orang tuanya di ruang tamu.


"Zoy sana ganti baju dulu, Devan udah nungguin lhoo"ucap Fanya.


"Ehh, iya ma"ucap Zoya.


"Bentar ya Van"lanjut Zoya. Zoya masuk ke kamarnya dan segera ganti baju.


.


.


.


Devan melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Zoya duduk di jok penumpang dengan tangan yang berpegangan bahu Devan. Hahh seperti tukang ojek saja pikir Devan. Devan tersenyum jahil sambil melirik Zoya dari kaca spion. Dengan sengaja Devan melajukan motornya lebih kencang dan dengan tiba tiba Devan mengerem mendadak.


"Van lo ati ati dong bawa motornya"gerutu Zoya.


"Sorry, ada kucing tadi lewat"jawab Devan santai.


"Makanya pegangan gini nihh"lanjut Devan memposisikan tangan Zoya memeluk dirinya.


"Apaan sihh pake pegangan segala"sahut Zoya menarik tangannya.


"Biar nggak jatuh, kalau lo pegangan kan gue bisa bawa motornya lebih kenceng"alasan Devan.


"Alahh, modus lo"kesal Zoya. Kendati demikian, Zoya tetap melaksanakan perintah Devan untuk pegangan. Devan tersenyum simpul di balik helm full facenya dan segera melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2