
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Suara yang bernyanyi itu sangat tak asing bagi bara, saat ini dia sedang berjalan di belakang sekolah mengecek keadaan disana
"kenapa tiba tiba perasaan gue gak enak ya" gumam bara
"eh ada calon pacar sasa disini, lagi nungguin aku kak" ucap gadis yang sedang berada di atas tembok pembatas sepertinya dia telat
"tuh kan emang perasaan gue kuat, pasti ada yang aneh" batin bara dan menatap sasa dengan tatapan kesal
"kak jangan ngeliatin aku kayak gitu, nanti kalau aku baper kakak harus tanggung jawab loh" ujar sasa yang masih duduk anteng diatas tembok itu
"turun" datar bara dan menatap tajam sasa
"tatapan mu mengalihkan duniaku kak" seru sasa dan langsung loncat kebawah, entalah anak ini tidak ada takutnya langsung loncat mungkin calon kakak iparnya yang ia tiru siapa lagi kalau bukan kara putri
"ikut gue" suruh bara dan berjalan duluan
"ke pelaminan kak, ayok kalau gitu sasa setuju mah" ujar sasa dan berjalan dibelakang bara
"sabar bara, ingat dia adik kak raka" batin bara dan langsung berjalan menuju ruang osis bersama bara.
###
"kar lo kenapa?" tanya raka yang berhasil menarik tangan kara, sekarang mereka berada di belakang sekolah
"lo kenapa nangis?" tanya raka lagi
"itu karna lo hiks hiks, gue gak pernah dibentak kayak tadi ya hiks hiks, lo jahat ka, lo jahat, gue gak suka cara lo buat larang gue hiks, gue hiks gak suka lo bentak kayak tadi hiks hiks" tangis kara pecah disana entahlah, mungkin karna mereka berdua memiliki hubungan, kara merasa saat dibentak oleh raka membuat sakit di hatinya, raka yang tau kara menangis karna bentakanya tadi langsung memeluk kara
"gue minta maaf kar, gue gak maksud bentak lo tadi, gue hanya khawatir sama lo" ucap raka sambil mengelus kepala kara
"enggak, lo itu egois ka, gue gak bisa dipaksa gini" ucap kara yang ingin melepaskan pelukan itu tapi raka malah mengeratkan pelukan itu
"enggak gue gak maksa lo kar, gue hanya takut lo makin sakit kalau ikut" jelas raka
"tapi gue pengin ikut, tiap lomba gue selalu ikut" suara kara makin melemah, dan akhirnya pelukan itu terlepas raka menatap kara dan mengusap air mata gadis itu dengan lembut
"oke gue ijinin tapi, kalau sampai ada apa apa lo langsung cari gue oke" kata raka dan dapat anggukan cepat dari kara
"makasi" kara langsung memeluka raka lagi entahlah saat berada di pelukan raka kara merasa nyaman, dan raka membalas pelukan itu.
Saat sampai di ruangan osis tanpa disuruh sasa langsung duduk di kursi depan meja ketos, disana banyak mata yang melihat tingkah 11 12nya kara.
__ADS_1
"ehh sasa lo napa dah disini?" tanya rama yang baru datang dengan dimas
"telat" jawab bara datar
"udah dengerkan, calon pacar sasa yang jawab, dia tau kebiasaan sasa" sahut sasa yang masih terseyum manis melihat bara
"we sa bara udah punya pacar kali, masih aja lo kejar" ujar dimas pada sasa
"gak peduli, sasa jago dalam tikung menikung kak dim" ucap sasa tanpa rasa malu
"aneh ni anak, dia suka main tikung" sahut rama dan geleng geleng kepala, bara diam ia tidak mau menjawab yang dikatakan sasa
"lo udah kasi hukuman?" tanya rama pada bara dan bara menggelengkan kepala
"biar kak raka aja" jawab bara selanjutnya
"yah jangan kak raka dong, nanti pasti dimarahin" sambung sasa cemberut
"ya tuhan ujian apa ini, kenapa dia begitu mengemaskan? tenang bara lo ingat ada hati yang setia menunggu lo" batin bara saat melihat wajah cemberut sasa
"kenapa ini?" tanya seseorang yang baru datang dan semua yang berada di ruang osis melihat ke sumber suara
"akhirnya, ka lo datang silahkan tegakan hukuman buat murid yang telat ini" sahut rama, dan sasa sudah menunduk pasti kakaknya saat ini akan memarahinya. Raka berjalan dan duduk di kursi kebesaranya dan duduk berhadapan dengan sasa, raka menghela nafas panjang melihat kelakuan adiknya ini
"sasa, kakak pernah bilang apa ke kamu?" tanya raka menatap jengah adiknya ini
"ya kak raka jangan gitu, kalau aku ke luar negeri nanti pacar sasa gimana, eh maksudnya calon pacar sasa" sambung sasa lagi, raka menaikan satu alisnya bingung
"iya kak, kak bara calon pacar sasa" jawab sasa antusias
"enggak kak, ngarang dia ngarang" jawab bara langsung
"aduh sakit bat tuh, ditolak" sahut dimas
"gue berasa nonton film aja" kata rama, sedangkan raka menatap adiknya kasihan sebab dia tau bara sudah memiliki pacar
"mana ada aku ngarang, liat aja nanti, kak bara bakal jadi milik aku" sahut enteng kara,
"wih, gue demen ni sama orang yang gak nyerah kayak lo sa" dimas manggut mangut setuju
"sama, gue gak bakal nyerah buat dapatin ina" batin dimas terseyum
"gak mungkin" sahut bara
"mungkin, makanya kak bara sering deket deket aku dong" ucap sasa
"kenapa?" tanya bara
"kata orang cinta bisa tumbuh karna terbiasa" ujar sasa senang
__ADS_1
"udah, selesai bucinya?" tanya raka yang jengah melihat adiknya ini
"siapa yang bucin" ucap sasa, "mungkin kak raka" lirih sasa dan didengar oleh raka
"sasa" raka menatap tajam sasa, dan sasa hanya cengengesan
"sekarang kamu lari keliling lapangan 10 kali oke" ujar raka
"lah kok lari sih" protes sasa
"kenapa gak mau?" tanya raka
"mau, tapi ditemenin kak bara boleh ya" pinta sasa dan diangguki oleh raka
"lah kak, kok gue sih" protes bara
"gak papa, temenin doang" kata raka
"yuhuuu, kalau gitu sampai 100 kali aku jabani kalau ditemanin kak bara" senang sasa dan langsung menarik tangan bara agar menuju lapangan dan para osis melihat itu hanya tertawa kecil.
" ka gimana, lo udah siapkan untuk lombanya?" tanya rama dan diangguki oleh raka
"lawan kita gak main main loh ka, gue denger sih dia itu ketua tim basket yang gak pernah kalah dengan permainanya, tim putra kita emang gak pernah lawan tim dia tapi tim putri sering lawan tim putri meraka dan selalu menang, dan gue heran kenapa tim putra gak pernah lawan" sambung rama
"ya sekarang lihat, raka akan mengalahkan mereka, benerkan ka" kata dimas namun tidak dihiraukan oleh raka, dia sedang memikirkan keadaan kara
"woi ka, malah bengong gimana sih" ucap dimas
"iya tenang aja, yang penting latihanya yang semangat" jawab raka dan pergi meninggalkan ruang osis.
"bentar deh tadi gue lihat ada yang aneh" ujar rama dan ditatap oleh dimas
"apaan?" tanya dimas
"hari ini gue jarang banget liat si kara ke ruang osis, kenapa ya?"tanya rama pada dimas
"dia kan udah rajin sekarang, sering dateng pagi bareng raka" jawab dimas
"ouhh gitu, jadi dia udah berubah karna raka" tanya rama dan dapat anggukan dari dimas. Mereka berdua terdiam sedikit lama, memikirkan sesuatu yang agak ganjal dihati mereka, seperti ada ingatan yang muncul begitu saja dari mereka, tiba tiba mereka terseyum dan saling tatap
"lo mikirin apa yang gue fikirkan" tanya rama
"iya" jawab dimas,
"akhirnya pangeran menang"
...🌸🌸🌸...
...JANGAN LUPA LIKE, COMMENTNYA YA...
__ADS_1
...DADAHHHH...
...🌸🌸🌸...