
Kara mengikuti mobil itu menggunakan taksi, dan tibalah kara di tempat yang sepi dan diujung jalan itu terdapat rumah kosong yang besar. Kara turun dan membayar, taksi itu meninggalkan kara sendiri
"nah ini mobil yang tadi, berarti mereka ada disini" kara memperhatikan tempat ini terasa asing, kara mencoba menghubungi raka lagi namun tetap tidak ada jawaban, akhirnya kara mengirim alamat itu pada raka
"gue masuk apa tunggu raka?" kara bingung dan akhirnya memilih utuk masuk kedalam rumah itu, saat membuka pintu rumah itu gelap tidak ada penerangan sama sekali
"kenapa gelap sih, kalau gue gak masuk sasa gimana" gerutu kara, "hp gue pakai hp aja" sambungnya lagi, kara menghidupkan penerangan hpnya dan mulai memasuki rumah itu dengan sedikit ketakutan, kara sangat tidak suka dengan keadaan gelap seperti ini.
"rumah ini besar, gue kelantai atas mungkin ya" kara menaiki tangga untuk kelantai atas.
Disisi lain sasa telah diikat di kursi sebuah ruangan yang hanya ada satu lampu penerangan, gadis yang membawanya meyiramkan air untuk membangunkan sasa dan akhirnya sasa bangun
"lo, kenapa lo bawa gue kesini hah?" tanya sasa yang baru sadar dan menatap gadis didepanya yang sedang terseyum
"ck, ck, ck, lo cuma gadis kecil, tapi lo malah cari masalah sama gue" kata gadis itu dan mengambil kursi untuk dia duduk
"gue salah apa sama lo, gue gak kenal sama lo tapi lo malah buat masalah sama gue, maksud lo apa hah" sasa meninggikan suaranya karena kesal dengan gadis didepanya ini
Gadis itu terseyum "kesalahan lo, lo deket–deket sama raka dan gue gak suka itu" bentak gadis itu, sasa memandang gadis didepanya ini aneh
"gue,,," sasa berhenti dan berfikir sejenak
"kalau gue bilang gue adik kak raka nanti ni cewek malah deket–deket sama gue, dan kalau sampai dia tau kak kara adalah pacar kak raka maka kak kara akan bahaya, biar gue bilang aja gue pacar kak raka" batin sasa
"kenapa benerkan lo cari mukak ke raka dan gue gak suka hal itu" gadis itu menatap tajam sasa
"gue pacar raka kenapa gak suka lo" ucap sasa sinis menatap gadis itu yang mulai emosi
"oh jadi lo pacar raka, baguslah gue bisa abisi lo sekarang karna gak ada yang bisa miliki raka selain gue" ucap gadis itu dengan seyum devilnya, sasa menatap tak suka ke arah gadis itu
"gila lo" ucap sasa sedikit berteriak
PLAKKKK
Gadis itu menampar sasa keras, "iya gue emang gila, gue gila karna raka, dan raka hanya milik gue"
PLAKKK
gadis itu menampar sasa lagi sehingga membuat sudut bibir sasa berdarah.
BRUKKKKK
Pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan seorang yang menatap 2 orang itu bergantian
"kara" ucap gadis itu melihat tak percaya yang dia lihat.
###
Di sekolahan raka telah selesai dengan urusanya, dia kembali keruang osis bersama bara untuk mengambil tasnya, dan pergi keparkiran, saat di parkiran ia ingat bahwa kara pulang bersamanya tapi kemana dia sekarang.
__ADS_1
"kenapa kak, kok masih diam, gak pulang?" tanya bara kepada raka
"iya gue lagi nunggu seseorang" jawab raka dan mengambil hpnya dan mendapati pesan dari kara dan beberapa panggilan tak terjawab dari kara, raka seketika khawatir dan membuka pesan itu.
KARA
(POGI SASA DICULIK, GUE LAGI NGEJAR MEREKA)
KARA
(GUE LAGI DI JLN XXX)
"sasa diculik" raka panik seketika
"apa kak sasa diculik, kenapa bisa" ucap bara yang juga hawatir
"gue gak tau gue bakal cari sasa" jawab raka panik dan menaiki motornya
"gue ikut kak, pakai mobil gue aja" ujar bara, dan diangguki oleh raka, mereka langsung pergi meninggalkan sekolah, dan menuju alamat tersebut. Raka mencoba menghubungi kara namun tidak dijawab dan mencoba menghubungi sasa tapi tidak dijawab juga membuat raka semakin khawatir.
###
Disisi lain sasa merasa senang karena kara datang, tapi juga takut jika kara akan terluka
"gina lo gila hah" bentak kara, ya gadis yang membawa sasa adalah gina anggota osisnya, gina terseyum miring melihat kara, ternyata musuhnya juga berada disini. kara mendekati sasa berusaha melepasakan ikatanya.
Sebelum kara bisa melepaskan ikatan sasa, kara didorong oleh gina dengan kasar sehingga kara membentur tembok dan membuat pelipisnya mengeluarkan darah.
"lo gina lo gila tau, gue bakal telpon polisi" ucap kara dan membuka hpnya namun sayang hp itu diambil oleh gina dan dihancurkan hingga rusak dan hancur
"opss sorry, gue sengaja" jawab gina dengan seyum menyebalkan,
###
"kak ini yakin tempatnya disini?" tanya bara yang sedikit aneh dengan tempat ini
"kara ngasik alamatnya disini, bentar coba gue hubungi lagi kara" ucap raka dan mencoba menghubingi kara namun hp kara tidak aktif membuat raka makin panik
"kak bukanya ini mobil gina?" tanya bara saat sudah turun dari mobil dan menunjuk mobil warna hitam
"iya ini seperti mobil gina, untuk apa dia ada disini" raka heran dengan kejadian ini
"kak kita masuk aja, mungkin ada orang di dalam" saran bara dan akhirnya mereka masuk ke rumah itu, terdengar suara rintihan seseorang dari lantai atas membuat raka dan bara menaiki lantai tersebut dan membuka beberapa ruangan.
kara bangkit berusaha buat menampar gina namun sayang gina menepisnya dan langsung mengeluarkan pisau dari sakunya dan mengarahkan ke arah kara, dan langsung melukai tangan kara
"AKHHHH," rintih kara keras, memegang tanganya yang mengeluarkan darah yang banyak, gina mendorong kara ke sudut ruangan yang gelap, seketika kara merasa sesak karena ada dalam kegelapan. Kegelapan merupakan kelemahan untuk kara karna dia akan panik dan mengalami sesak didada.
"lo lepasin kak kara sekarang" teriak sasa yang masih berusaha melepaskan ikatanya
__ADS_1
"kara kara, lo salah berurusan sama gue" ucap gina terseyum kemenangan melihat penderitaan yang dialami kara
PLAKKK PLAKKK PLAKKK
Tiga tamparan melayang di pipi mulus kara sehingga sudut bibirnya berdarah. Tangan yang terkena pisau tadi mengeluarkan banyak darah, dan sesak di dada serta tamparan yang bertubi tubi membuat kara kehilangan kesadaranya. Gina terseyum senang melihat kara yang lemah dan tidak berdaya seperti ini.
"lepasin kak kara dasar gila lo, gak punya hati" teriak histeris sasa, gina menghampiri sasa yang berteriak mengganggu permainanya terhadap kara musuh terbesarnya di SMA
PLAKKK
"berisik tau" bentak gina pada sasa dan menatap tajam kearah gadis itu, "sekarang giliran lo" sambung gina dan memberikan tamparan 2 kali pada sasa, membuat sasa lemas tak berdaya dengan tamparan yang keras, gina mencengkram rahang sasa keras
"lo dengerin ya, raka hanya milik gue dan buat yang ngehalangin itu akan gue abisi" gina melepaskan cengkramannya pada sasa dengan kasar, "dasar lemah" ucap gina.
"ginaa" suara itu suara tidak asing dari yang gina kenal, ia menoleh dan mendapati raka dan bara menatapnya tajam
"gila lo, lo apain adik gue hah" bentak raka yang sudah emosi, melihat perlakuan gina pada adiknya, dan bara terkejut melihat keadaan sasa yang memperihatinkan.
"a adik" ucapan gina gugup, "tapi"
"lo dasar gak punya hati, gue salah menilai lo selama ini, gue kira lo baik tapi apa hah, apa yang lo lakuin sekarang" raka muak dengan gadis didepanya ini dan menelpon seseorang untuk datang, "hallo kantor polisi saya mau melaporkan kalau ada penyiksaan yang terjadi di jln xx" ucap raka, gina mendengar bahwa raka menelpon polisi segera kabur untuk menyelamatkan diri, raka ingin mengejar tapi keselamatan sasa lebih utama dari itu.
"sasa kamu gak apa apa kan" raka berusaha memanggil sasa, dan bara melepaskan tali yang mengikat sasa, setelah tali terlepas raka langsung menggendong sasa membawa ke dalam mobil.
"bara tolong kerumah sakit sekarang" titah raka yang panik melihat sasa, bara langsung mengemudikan mobilnya
"kak raka" lirih sasa berusaha berbicara
"sasa sabar ya kita akan kerumah sakit" ucap raka sambil mengusap kepala adiknya
"kak raka, kak kara masih disana" lirih sasa lagi dan membuat raka tersadar bahwa karalah yang memberitahu bahwa sasa diculik dan pastinya kara ada disana
"bara hentikan" ucap raka dan menggendong sasa untuk di pindahkan kedepan agar bara bisa menjaganya
"bar gue titip sasa ajak dia kerumah sakit, gue mau cari kara dulu" ucap raka dan langsung berlari lagi ke arah rumah itu, dia menelpon seseorang
"cari orang yang menggunakan mobil berflat nomor xxxx" ucap raka dan memutuskan sambungan teleponya, raka segera menaiki tangga dan masuk keruangan itu lagi mencari keberadaan kara. Dia hidupkan pencahayaan dari hpnya untuk mendapatkan penerangan
"kara, lo dimana?" teriak raka memanggil kara, raka mengarahkan cahayanya ke seluruh ruangan dan
DEGGG
🌸🌸🌸
HAY HAY SEMUANYA AKU MAU UCAPIN TERIMAKASIH BUAT KALIAN YANG UDAH LIKE, COMMENT YANG BAIK BUAT AKU, SEHINGGA AKU LEBIH SEMANGAT, DAN JUGA DUKUNGNYA YA😊
DAN JANGAN LUPA LIKE, COMMENT LAGI YA
LOVE YOU😘
__ADS_1
THANK YOU🙏