Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 10


__ADS_3

"By, kamu nggak ada niat pulang gitu habis kontrak ini?" Tanya Mahira saat mereka tengah menikmati makan siangnya yang terlambat.


"Adalah pasti, Ra. Siapa sih yang nggak pengen pulang ke tempat dimana orang-orang tersayangnya berada?" Sahut Eby bersiap menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Trus kenapa kamu nggak pernah pulang?" Tanya wanita


"Aku masih punya banyak kebutuhan. Masih punya banyak mimpi yang harus ku gapai. Aku takut nggak bisa lagi melangkah sejauh ini, jika aku pulang. Terlalu melenakan berada diantara orang-orang tersayang." Jelas Eby, tersenyum kecut.


"Aneh kamu. Nggak mau pulang karen takut nggak bisa pergi jauh lagi. Dan justru memilih untuk menjauh selamanya. Ok lah, keluarga kamu mungkin mengerti, tapi gimana dengan pacar kamu? Apa dia mau menunggu selama ini?"


"Dia laki-laki yang sangat pengertian, Ra. Dia selalu dukung apapun keputusanku. Ini juga kan demi kebahagiaan kami nantinya. Nggak mungkin dia nggak menunggu aku. Kami punya cita-cita yang sama, membangun istana kecil, rumah yang nyaman untuk keluarga kecil kami. Dan itu nggak akan mungkin terwujud jika aku sering pulang." sahut Eby dengan senyum penuh harapan.


Melihat binar bahagia Eby, saat bercerita tentang kekasihnya, Mahira tersenyum tipis.


"Yaah semoga saja apa yang kamu ucapkan itu benar adanya, By. Sorry nih, bukan aku bermaksud bikin kamu over thinking, tapi kamu harus ingat, yang namanya laki-laki nggak mungkin bakal setuju aja kalau ditinggal merantau lama. Menurut aku, hanya ada dua kemungkinan kenapa cowok setuju saat pasangannya memutuskan untuk LDR dalam jangka waktu yang lama. Yang pertama, karena dia udah nggak ada rasa sama kita, dan yang kedua karena dia punya 'pengganti' kita, yang membuat dia merasa biasa aja saat jauh dari kita. Meskipun di hatinya masih tetap ada cinta untuk kita." Ucap Mahira panjang lebar.


Mendengar ucapan sang sahabat, Eby tentu menyangkal pikiran negatif Mahira tersebut.


"Nggak semua laki-laki seperti yang kamu ucapkan, Ra. Aku mengenal William udah cukup lama. Perjuangan kami nggak mudah, nggak mungkin dia tega khianatin aku demi wanita lain."


"Ya semoga saja, By. Aku berharap kamu akan selalu bahagia." Sahut Mahira tidak ingin terlalu ikut campur urusan Eby.


Setelah selesai dengan urusan perut dan oleh-oleh, mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen. Hampir tujuh jam mereka menghabiskan waktu di luar rumah, kaki Eby dan Mahira terasa pegal dan perih karena berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama.


Saat dalam perjalanan pulang pun, obrolan mereka masih berputar soal kampung halaman, keluarga, dan hubungan jarak jauh.


Bagaimana antusiasnya Mahira yang akan pulang bertemu dengan keluarga besar, serta keputusan wanita itu memilih tidak menjalin hubungan dengan siapapun saat ini, karena alasan masih ingin berpetualang.


🌟🌟🌟


Mendung bergelayut di langit sore itu. Berbanding terbalik dengan beberapa jam lalu, dimana langit pagi terlihat begitu cerah.


Eby termenung, duduk di kursi yang sengaja ia letakkan di balkon kamarnya. Ucapan Mahira terus terngiang, mengusik ketenangan hati yang susah payah ia bangun selama ini.


"Ego laki-laki itu tinggi. Bila wanita kalah oleh perasaannya, maka laki-laki kalah oleh egonya. Mungkin ada laki-laki yang benar-benar ikhlas menjalani hubungan jarak jauh, tapi itu hanya sebagian keciiil dari populasi laki-laki di bumi ini." Mahira mengangkat jari telunjuk dan jempolnya, memberi sedikit sekali jarak diantara kedua jari tersebut. Seolah menegaskan, seberapa kecilnya populasi manusia yang ia maksud.


"Pasti di waktu tertentu, mereka akan mengeluh dan meminta wanitanya kembali. Itulah egonya laki-laki. Apa William pernah meminta kamu kembali?"


Itu pernyataan sekaligus pertanyaan Mahira yang membuat Eby benar-benar tertampar.

__ADS_1


Iya, selama ini William selalu mendukung apapun keputusan Eby. Ia sama sekali tidak pernah protes dengan keputusan wanitanya, yang ingin melanjutkan kontrak, tanpa mengambil masa liburnya untuk pulang kampung.


Semula Eby merasa itu hal yang wajar, mengingat William adalah laki-laki yang ia kenal cukup dewasa selama ini. Namun saat Mahira memberi sudut pandang berbeda, wanita itu seolah tersadar dari buayan mimpinya.


Eby bergegas masuk ke dalam kamar. Mengambil kalender yang selalu ia lingkari setiap harinya,


membalik halaman demi halaman yang belum ia tandai.


Masih lima bulan lagi, sisa kontrak kerjanya tahun ini. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk segera pulang ke kampung halamannya.


Ada rasa tidak terima, ketika ia mendengar Mahira, seolah menuduh kekasihnya berbuat curang di belakangnya. Ia ingin segera membuktikan, bahwa ucapan sang sahabat tidak benar.


Eby mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur kecil tempatnya beristirahat.


Menghubungi kekasihnya dengan debaran perasaan yang berbeda. Cukup lama hingga laki-laki itu menerima panggilannya.


"Hallo," sapa William dengan suara serak khas baru bangun.


"Tumben udah tidur?" Tanya Eby saat mendengar dess ahan malas kekasihnya.


"Iya, aku lagi kurang enak badan. Kemarin full begadang bikin gambar. Trus tadi full di lapangan sampe sore." Adu William menceritakan kegiatannya.


"Sudah tadi, ini lagi santai habis beresin kamar. Ya sudah kalau kamu ngantuk, matiin aja teleponnya ya." ucap Eby.


"Maaf ya. Besok aku telepon kamu pas siang." suara William terdengar penuh penyesalan.


"Besok aku kerja seperti biasa. Ya udah ya, aku juga mau tidur cepat hari ini. Capek banget habis nemenin Mahira belanja oleh-oleh."


"Temen kamu mau balik?"


"Iya, liburan di satu bulan di kampung."


"Ooh. Kamu, kapan habis kontraknya?"


" Enam bulan lagi," Sahut Eby berbohong.


"Mau perpanjang lagi?"


"Belum tahu, menurut kamu gimana?"

__ADS_1


Terdengar suara helaan nafas dari laki-laki di seberang telepon tersebut.


"Terserah kamu aja, By. Aku percaya kamu cukup dewasa memutuskan apa yang terbaik buat kita." sahut William akhirnya.


"Kenapa selalu terserah, Will? Kenapa nggak pernah bilang, pulang dulu, aku kangen, mau ketemu kamu?" cecar Eby tidak dapat menahan perasaan kesalnya yang entah pada siapa.


"By?"


"Kamu kenapa selalu setuju dengan semua ucapan aku? Kenapa selalu bilang iya, kenapa nggak pernah minta aku buat pulang? Apa ada orang lain yang mengisi hari-hari kamu di sana?" tuduh Eby dengan penuh emosi.


"By!" seru William dari seberang.


"Dari mana kamu dapat pikiran buruk seperti itu tentang aku? Apa kamu pikir perasaan aku sedangkal itu? Aku nggak pernah larang kamu, nggak pernah bujuk kamu, karena aku tahu, kamu nggak akan melakukan apapun yang tidak kamu inginkan. Sekuat apapun aku menghentikan langkah kamu, kalau kamu mau pergi, kamu akan tetap pergi. Sekuat apapun aku menarik kamu kembali, kamu akan selalu punya cara untuk tetap bertahan di sana. Itu sebabnya aku memberi kamu kebebasan untuk memutuskan jalan sendiri. Tugasku adalah berdiri di belakangmu, mendukung apapun yang menjadi keinginan kamu." ucap William panjang lebar, yang membuat Eby seketika menangis terisak.


"Maaf, aku udah tuduh kamu yang enggak-enggak. Aku kehilangan rasa percaya diriku, dan mencoba menutupinya dengan menyalahkanmu." ucap Eby lirih.


Hening beberapa saat. Keduanya tidak ada yang bersuara.


Dapat Eby dengar, suara hembusan nafas kasar, dari laki-laki yang dicintainya itu.


"Will ... Kamu nggak mau maafin aku?" Desak Eby lagi.


"Nggak ada yang harus dimaafkan, sayang. Aku ngerti, kamu pasti juga nggak nyaman dengan keadaan ini, kan? Aku yang harusnya minta maaf, karena membiarkan kamu berjuang sampai sejauh ini."


"Nggak Will, ini keinginan aku. Ini bukan salah kamu. Jangan minta maaf, aku nggak suka dengernya." suara Eby melembut.


William terkekeh,


"Kamu lucu tau By. Sebentar marah, sebentar ngambek, sebentar baik lagi. Bibir kamu pasti lagi monyong sekarang kan, rasanya pengen aku gigit tau."


Obrolan mereka berlanjut hingga lebih dari dua jam.


Yang semula hanya berupa panggilan biasa, berubah menjadi panggilan video, dimana mereka bisa melepas rindu meski hanya melalui layar ponsel.


Sangat jarang sekali belakangan ini mereka melakukan hal itu. Hubungan yang sudah cukup lama, serta kesibukan masing-masing, membuat komunikasi mereka hanya sekadarnya saja.


Lebih banyak soal pembangunan rumah, biaya, serta hal lain yang tidak jauh dari kedua hal tersebut.


Dalam hati Eby berjanji, akan semakin sering menjalin komunikasi seperti saat ini. Hingga saat dirinya pulang nanti, gairah cinta mereka tetap menyala, dan semakin berkobar.

__ADS_1


__ADS_2