Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 48


__ADS_3

Eby bangkit dari tempat tidur, saat indra penciumannya menghirup aroma nasi goreng dari dapur, yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari kamar miliknya.


Ia melirik jam dinding yang menempel di atas daun pintu, benda persegi itu menunjuk angka 05.30. Masih terlalu pagi. Ia enggan bangun membantu sang ibu.


Suasana rumah yang tidak sehangat dulu, membuatnya merasa enggan melakukan apapun di sana.


Terlebih saat pikirannya kembali bertaut pada masalah yang belum selesai, ia semakin malas saja memulai hari.


Terdengar suara berisik dari depan rumah. Eby mengira itu tukang sayur yang baru datang, namun semakin dicermati, suara yang ia dengar semakin jelas. Dan itu bukan tukang sayur. Ada suara Elin juga di sana. Eby bergegas bangun. Ingin memastikan apa yang ia dengar. Mungkinkah sang adik baru pulang pagi ini? Padahal kan sudah dari kemarin ibunya meminta gadis itu untuk pulang.


Benar saja, ia melihat Elin melambaikan tangan pada sosok yang tidak sempat Eby lihat wajahnya. Adik bungsunya itu mengenakan jaket yang ia belikan di Turki dulu. Sudah jelas berarti Elin baru pulang.


Di sebelah Elin nampak sang ibu tengah menatap tajam anak kesayangannya itu.


"Masuk!" titah perempuan itu dengan wajah menahan amarah.


Eby yang awalnya ingin mendatangi sang adik, mengurungkan niatnya dan memilih kembali masuk ke dalam kamar. Ia ingin mendengar apa yang akan ibunya katakan.


"Dari mana saja kamu?" tanya Karina setelah berhasil menarik tangan anaknya masuk ke dalam rumah.


"Aduh pelan-pelan, Bu! Ibu kenapa sih? Anaknya baru Dateng juga langsung dimarahi!" ketus Elin tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Jawab pertanyaan ibu! Kamu dari mana? Kenapa baru pulang sekarang? Ibu kan sudah suruh kmu pulang kemarin!?"


"Aku udah bilang kan, aku nginep di rumah Sisil? Kemarin nggak ada yang anter aku pulang. Aku kan nggak bawa motor,"


"Ada berapa teman kamu bernama Sisil? Kamu jangan bohongi ibu ya!"


"Yang bohong siapa, Bu? Ibu nggak percaya sama aku? Kapan aku pernah nggak jujur sama ibu? Ibu kemakan omongan siapa sih, sampai tiba-tiba begini sama aku?" Suara Elin terdengar seperti orang menahan tangis.


Eby berdecih, sembari menggelengkan kepala. Pintar sekali adiknya itu berakting.


"Cukup jawab pertanyaan ibu! Ada berapa teman kamu bernama Sisil? Dan kamu menginap di rumah Sisil yang mana?"


Tantangan Elin langsung disambut Eby dari dalam kamarnya.


"Telepon temen kamu yang bernama Sisil sekarang! Kalau bisa, suruh dia datang ke sini. Mba mau liat mana orang yang bernama Sisil itu?" sahut Eby membuka pintu kamarnya.


"Mba Eby," cicit Elin.


"Kenapa? Kaget Mba ada di rumah? Kaget Mba tau kelakuan akmu selama ini? Ini yang kamu janjikan sama mba beberapa hari lalu? Ini yang kamu bilang mau berubah?" cecar Eby penuh emosi.


"Maksud mba apa? Ooh jadi mba yang ngomporin ibu, biar marahin aku di depan temen aku? Mba yang bikin ibu meragukan ucapan aku?" Elin yang sempat terkejut melihat Eby sudah berada di rumah, segera menyadari apa yang sudah terjadi. Ia menyerang sang kakak yang ia rasa sudah meracuni pikiran ibunya.

__ADS_1


"Telepon Sisil sekarang, Lin. Ibu mau tau apakah selama ini kamu sudah bohongi ibu atau tidak," pinta Karina dengan nada yang lebih rendah. Suaranya sarat emosi yang terpendam.


Hari masih pagi, namun suasana di rumah itu sudah sangat menegangkan. Ini tidak baik. Sangat tidak sehat. Mereka saling menyahut dengan nada tinggi, seolah berbicara dengan musuh.


"Untuk apa Bu? Untuk apa aku telepon orang lain? Toh ibu udah nggak percaya lagi sama aku. Seribu orang pun datang ke sini sebagai saksi kalau aku nggak bohong, ibu nggak akan percaya. Karena ibu lebih percaya sama omongan dia." Elin menunjuk Eby dengan dagunya.


Huuh sangat sopan sekali kelakuan anak itu.


Elin berlalu tanpa permisi menuju kamarnya. Tinggal Eby dan Karina yang masih berdiri di ruang tengah rumah itu. Tidak ada yang saling bicara, hanya ada hembusan nafas berat yang saling bersahutan.


Tidak berselang lama, Karina pun berlalu tanpa mengatakan apa-apa. Masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap. Sementara Eby memilih keluar rumah untuk mencari udara segar.


Dengan pakaian seadanya, ia memilih berjalan kaki menuju pantai yang tidak jauh dari rumahnya.


Sinar matahari yang baru muncul di ujung timur, nampak begitu indah. Namun keindahannya tidak mampu menyamarkan kesemrawutan yang kini nampak jelas di wajah Eby.


Wanita itu terus berjalan menyusuri tepian pantai, mencari tempat yang lebih sepi. Beberapa orang menyapanya, Eby hanya membalas dengan senyum tipis. Ia tidak dalam suasana hati yang baik saat ini, jadi ia memilih untuk tidak terlibat dalam obrolan dengan siapapun.


"AAAAAAAAAAA!!!"


"HHAAAAAA!!" teriak Eby memecah kesunyian pagi. Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, saat sudah menemukan tempat yang ia rasa tepat untuk membuang semua sampah dalam tubuhnya. Di balik batu karang yang nampak kokoh, Eby duduk memeluk lututnya setelah puas berteriak.

__ADS_1


__ADS_2