Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 8


__ADS_3

Eby keluar dengan wajah datar, yang sulit diterka oleh orang lain. Di dalam kepalanya terus saja memikirkan siapa orang yang tidak menyukainya secara diam-diam.


Tidak mungkin Siska, sebab ia tahu seberapa besar pengaruh wanita berambut blonde itu di tempat kerja mereka.


Siska tidak mungkin sanggup membuat bos mereka turun tangan mengawasi Eby. Pasti ada orang lain.


"By ...." Ratih dan Mahira datang mendekatinya, dengan wajah khawatir.


"Kamu nggak pa-pa?" Tanya Ratih pelan, sementara Mahira mengusap pundaknya dengan lembut, tanpa mengucap apapun.


Perlakuan mereka, seolah Eby baru keluar dari ruang pesakitan.


"Kalian gawat sekali ... Aku baik-baik aja. Liat, nggak ada yang kurang kan dari tubuh aku?" Selorohnya, dengan senyum ceria. Raut dingin yang sempat tercetak di wajahnya, hilang seketika begitu melihat dua teman baiknya itu mendekat. Ia tidak ingin dikhawatirkan, tidak ingin terlihat lemah dan memelas kasih dari orang lain, sekalipun Mahira dan Ratih adalah dua sahabat dekatnya.


"Kami khawatir tau, takut kamu kenapa-kenapa." ucap Ratih.


"Memangnya aku bisa kenapa? Orang cuman disuruh tunjukin beberapa teknik massage aja kok. Bahkan bos sangat puas dengan pelayananku." Ucap Eby bangga.


Mereka bertiga memilih duduk di balkon, sembari menikmati suasana sore yang sejuk. Sengaja menjauh dari karyawan yang lain, sebab mereka tidak ingin obrolan pribadi mereka terdengar oleh orang lain.


Bersyukur belum terlalu ramai tamu yang datang, jadi mereka bisa bersantai beberapa saat.


Memang tidak setiap hari mereka full bekerja, ada saat-saat tertentu dimana yang memerlukan jasa mereka hanya satu atau dua orang. Sehingga mereka bisa menghabiskan waktu dengan bersantai, berbagi cerita satu dengan yang lain, sembari menunggu.


Eby termenung sendiri, ditemani oleh Ratih yang sejak tadi setia duduk di sampingnya. Seolah tahu jika ia sedang gundah saat ini, meskipun berusaha ia tutupi dengan senyum ceria. Sementara Mahira tengah membuat teh, untuk mereka nikmati bersama.

__ADS_1


"Rat ... Kira-kira siapa ya yang suka laporin aku ke bos?" Tanya Eby, dengan pandangan lurus ke depan, menatap taman yang dilapisi hamparan Padang rumput hijau.


"Ck, siapa lagi kalau bukan siluman and the geng itu?" Sahut Ratih yakin.


Eby menoleh ke arah sahabatnya.


"Maksudmu Siska?" Tanyanya dan dijawab dengan anggukan oleh Ratih.


"Dia terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya sama kamu. Bahkan sering kali mojokin kamu setiap ada kesempatan. Diantara dua puluh karyawan di sini, Siska dan gengnya aja kan yang pernah bermasalah sama kamu?" Ucap Ratih memberikan pendapatnya. Eby mencoba mencerna dan percaya, namun entah kenapa Eby merasa bukan Siska pelakunya.


"Aku rasa bukan dia deh. Dia nggak punya kuasa sampai ke HRD dan manager, Rat. Aku rasa dia itu tipe orang yang besar mulut aja. Orang yang galak di mulut, kecil kemungkinan dia berani melakukan sesuatu secara diam-diam begini."


"Trus siapa donk? Selama ini kan kamu baik-baik aja sama yang lain?"


"Teh sudah datang ...." Dari arah belakang, Mahira masuk dengan nampan berisi teko dan tiga gelas teh di tangannya.


Wanita itu meletakkan barang bawaannya di atas meja yang tersedia di balkon tersebut.


"Aku ada Snack, tunggu ya aku ambil." Ratih berinisiatif mengambil bekal yang ia bawa.


Tidak berselang lama, wanita yang baru mengalami patah hati itu datang, lalu mereka menikmati waktu santai itu sembari bersenda gurau.


"By, libur besok temani aku ya." Pinta Mahira setelah melihat sahabatnya meneguk teh yang ia buat.


"Kemana?"

__ADS_1


"Beli oleh-oleh. Adek aku mau dibeliin jaket."


"Boleh, dimana belinya?"


"Yang deket-deket aja lah."


"Iya Deket di mana? maunya kemana? Di sini kan banyak tempat belanja." Gemas Eby.


Mahira terdiam sejenak.


"Mmm ke mana ya? Grand Bazar aja kali ya, biar satu tempat kita tuju." ucap wanita itu akhirnya


"Ok, siapin aja uang yang banyak ya. Besok pasti bakal kalap kamu di sana." Kekeh Eby.


"Justru itu aku ajak kamu buat jalan, biar ada yang ingetin kalau udah kebablasan." Ucap Mahira dengan senyum kudanya.


"Dasar, aku bukan malaikat ya, yang bisa jaga kamu dari sifat rakus dan Hedonmu itu."


"Menikmati hidup By, mumpung masih dikasi rejeki dan kesempatan untuk itu. Nanti kalau udah kembali ke kampung, nikah, punya anak, nggak akan ada kesempatan untuk memanjakan diri lagi." Sahut Mahira membela diri.


"Ya ya ya, terserah kamu saja lah. Atur sesukamu." ucap Eby akhirnya.


"Asal jangan mewek aja nanti pas pulang dari shoping, tabungan terkuras habis. Ya nggak By?" Komentar Ratih ikut bicara.


Obrolan mereka terhenti, ketika tamu Ratih yang sempat meminta bertemu dengan Eby, datang. Seperti biasa, mereka kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing. Sebab tidak berselang lama, secara beruntun tamu masing-masing yang sudah melakukan reservasi datang bergantian sesuai janji yang sudah mereka sepakati.

__ADS_1


__ADS_2