
Murat mengajak Eby berkeliling menikmati keindahan alam yang belum sempat mereka nikmati kemarin. Menggunakan sepeda motor sewaan, laki-laki berkulit putih itu membonceng Eby menyusuri jalanan yang cukup ektrim tapi menakjubkan.
"Kamu suka?" Kembali Murat bertanya, sembari menolehkan kepalanya ke arah Eby, yang duduk di belakang punggungnya.
"Sangat suka," sahut Eby dengan wajah berbinar cerah. Wanita itu tanpa ragu melingkarkan tangannya di perut Murat, menciptakan rasa berdesir di hati sang empunya.
Murat melajukan motor sewaannya dengan kecepatan rendah. Tentu agar ia bisa menikmati kebersamaan dengan Eby lebih lama lagi.
"Nanti kalau kita punya waktu luang lagi, mau kembali ke sini?" tanya Murat setelah lama mereka sama-sama terdiam.
"Tentu. Apalagi kalau ada yang traktir," sahut Eby sambil terkekeh.
"Tidak masalah, asal kamu mau jadi pacarku," sahut Murat membuat Eby kehilangan senyumnya.
Perlahan belitan tangan di perut Murat merenggang, dan akhirnya Eby lepaskan. Ia tidak lagi menyandarkan tubuhnya pada punggung tegap itu, dan memilih memberi jarak di antara keduanya.
"Kenapa?" Murat yang menyadari reaksi Eby tidak seperti harapannya, menuntut jawaban.
"Kamu sadar apa yang kamu ucapkan, Murat?" tanya Eby dengan suara datar.
"Tentu, aku sangat sadar. Kamu tau? Aku sudah jatuh cinta padamu. Rasanya aku tidak tenang jika kamu jauh dari aku. Sesuatu yang sudah lama tidak pernah lagi aku rasakan," terang Murat, sambil fokus menatap jalan di depannya.
Eby diam, tidak menanggapi ucapan Murat sama sekali. Pikirannya bercabang kemana-mana. Hubungannya dengan Murat tidak lagi sekadar atasan dan bawahan, atau sekadar teman berbagi cerita. Eby sadar ada rasa yang mengikat mereka. Rasa yang coba Eby sangkal, tapi sialnya tetap tumbuh tidak peduli sehebat apa Eby menekannya. Dan mirisnya, ada jurang pemisah di antara keduanya, yang rasanya sulit untuk mereka lewati bersama.
Eby merutuki diri di dalam hati. Kenapa ia mengabaikan hal penting itu? Yang kini, malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Motor yang semula melaju lurus, tiba-tiba berbelok ke sebuah persimpangan. Murat menghentikan motornya di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Eby bingung.
"Kenapa diam saja?" Murat justru balik bertanya.
"Aku ...." Eby bingung harus menjawab apa.
"Kamu menolakku, Eby?" Tatapan mata Murat begitu sendu.
__ADS_1
"Maaf, aku rasa candaanmu berlebihan." Eby terkekeh kecil, tapi jelas terlihat senyum terpaksa di bibirnya.
"Yang mana bercanda? Aku nggak pernah menjadikan perasaanku sebagai sebuah candaan," sahut Murat penuh penekanan. Ia tidak terima Eby menganggap semua yang ia katakan hanya candaan.
Wajah Eby berubah serius. Ia menatap Murat begitu dalam.
"Kamu tau apa yang kamu katakan, Murat? Kamu sadar apa yang kamu ucapkan? Bagaimana mungkin kita jadi sepasang kekasih? Kita berbeda!" Eby berkata dengan sedikit emosi. Ia tidak tahu harus dengan cara apa mengungkapkan rasa tidak berdayanya saat ini.
"Apanya yang beda? Kita sama-sama manusia, sama-sama sudah dewasa."
"Hubungan manusia tidak semudah itu, Murat! Latar belakang kita berbeda! Keluarga kita juga berbeda , keyakinan kita, budaya kita, semua harus dipikirkan!"
"Lalu apa masalahnya? Apakah perbedaan itu tidak bisa disatukan?" tanya Murat menatap Eby dengan mata kelamnya.
Wanita mungil itu kembali terdiam. Apa yang harus ia jawab? Ia tengah terjebak saat ini. Terjebak di antara perasaan dan keadaan.
"Kamu memiliki perasaan yang sama kan denganku?" Murat kembali bertanya.
Eby tidak bisa menjawab pertanyaan Murat. Ia hanya menatap wajah penuh jambang itu dengan hati yang terasa perih.
"Aku nggak tau," sahut Eby pelan.
Murat kecewa dengan jawaban Eby. Namun ia sadar, perasaan tidak bisa dipaksakan. Ia juga tidak mungkin menekan Eby untuk mau menerimanya, terlebih ia tahu seperti apa masa lalu Eby.
Murat kembali melajukan motornya melewati jalan yang semakin curam di kaki gunung, menuju tempat di mana mereka bisa menikmati pemandangan danau dari sisi yang berbeda. Tidak ada percakapan lagi di antara keduanya, tapi Murat berinisiatif menarik tangan Eby agar kembali melingkar di perutnya.
Dalam hati Murat bertekad akan terus meyakinkan Eby, jika perasaannya layak mendapat balasan yang sama. Meski ia sadar, jalan untuk semua itu membutuhkan pengorbanan dan kesabaran yang ekstra.
Udara sejuk dan suasana sepi, menyambut keduanya ketika tiba di tempat tujuan. Tidak ada orang yang berlalu lalang di tempat itu, membuat syahdu menyelimuti keduanya. Hamparan danau berwarna hijau, senada dengan pepohonan yang tumbuh rimbun di sekitarnya, membuat mata begitu segar memandang.
Eby menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Berharap bisa menyimpan kesegaran itu lebih lama lagi di paru-parunya.
Semilir angin menyapa lembut keduanya yang duduk bersisian, tapi dengan mulut yang sama-sama terkunci. Cukup lama keduanya bergumul dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya Murat membuka suara.
"By,"
__ADS_1
"Hmm,"
"Apa yang kamu pikirkan tentang hubungan beda negara?" tanya laki-laki itu memulai obrolan.
"Rumit," sahut Eby singkat.
"Apanya yang rumit? Anggap saja kita pasangan yang tengah merantau, tinggal jauh dari orang tua. Bukankah itu pernah kamu jalani dulu?"
"Tapi masalahnya bukan hanya itu saja, Murat. Sesuatu yang lebih penting dari itu," sahut Eby lelah.
"Apa?"
Eby melirik Murat. Lalu menghembuskan nafas kasar, seakan menyesali sesuatu. "Keyakinan kita," sahut wanita itu akhirnya.
Murat tersenyum samar. "Apa ada yang salah dengan itu?" tanya Murat lagi.
"Menurutmu?"
"Untukku itu bukan masalah," balas Murat. Ia lalu membenarkan posisi duduknya, menghadap ke arah Eby. Ia meraih tangan wanita itu, membawa ke dalam genggamannya.
"Aku nggak akan memaksa kamu mengikuti keyakinanku. Karena bagiku, itu urusanmu dengan Tuhan. Lagipula, Tuhan itu satu. Bagaimana kamu menyembah-Nya, dan bagaimana aku memuja-Nya, itu hanya soal cara. Benarkah? ucap Murat meyakinkan Eby.
Eby mengangguk, ia sependapat dengan pemikiran Murat. Namun itu masih belum mampu menenangkan hatinya. Ia menunduk memerhatikan jemari lentiknya yang sejak tadi di usap lembut oleh Murat. Ia masih bimbang.
"Kita jalani bersama, ya?" pinta Murat dengan lembut.
Wajah Eby memanas. Ia yakin pipinya sudah memerah sekarang. Tatapan Murat sungguh membuat ia tidak bisa mengelak. Ia takluk pada pesona laki-laki itu.
"Tapi aku ...." Eby tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Jangan pikirkan yang masih jauh di depan sana. Jalani saja apa yang ada di depan mata. Kamu berhak bahagia, dan aku ingin membuatmu merasakan itu, denganku. Mau menjalaninya bersamaku?"
"Kenapa seyakin ini denganku? Kamu tau masa laluku, kan ?"
"Karena aku tau masa lalumu, keyakinanku bertambah terhadapmu."
__ADS_1
Eby tidak lagi menjawab. Namun ia tetap membiarkan tangannya digenggam dan dikeccup oleh Murat sesuka hati laki-laki itu, seolah menandakan jika dia bersedia menyamakan langkahnya dengan Murat, meski banyak kerikil dan duri di depan mata.