
Jantung Eby berdebar kencang, ketika motor Tama, melaju membelah jalanan desa tempat tinggal William. Udara sejuk dan pemandangan asri tiga tahun yang lalu, masih dapat Eby rasakan hingga kini.
Sawah berundak dengan padi menguning, pohon-pohon perindang yang semakin tinggi menjulang, petani yang bersiap pergi ke sawah, anak-anak Sekolah Dasar dengan pakaian olah raga yang sedang melakukan jalan santai, aktifitas yang dulu sering wanita itu lihat setiap kali ia datang ke desa itu bersama William.
Pemandangan yang meninggalkan kesan mendalam bagi wanita itu.
"Di sini, kita pernah menghabiskan waktu berdua Will. Di pondok itu, kita menunggu matahari terbenam. Dan dari pohon besar di seberang sana, anak-anak kecil mengintip kita, mengira aku dan kamu berbuat mesum." Batin Eby bergumam.
"Bukit itu, kamu ingat? Kamu pernah memaksaku bangun pagi, memakaikan jaket tebal milik ibumu, dan kita mendaki hanya demi melihat matahari terbit. Kamu memelukku dengan erat, di ujung sana. Memintaku untuk terus menemanimu, menghabiskan hari tua kita di desa ini." Eby bicara dalam hati, saat motor melaju melewati sebuah tikungan, dimana sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi berdiri kokoh di sebelah kiri jalan.
Kenangan demi kenangan menari liar di kepalanya. Eby semakin terbawa suasana syahdu yang tercipta. Hingga tanpa sadar, Tama sudah menghentikan motornya.
"Mba, dari pertigaan di depan kita ke kiri kan ya?" Tanya Tama sembari menepuk lutut kakaknya. Ia tahu Eby tengah melamun. Dari spion motornya, jelas terlihat tatapan mata Eby yang kosong.
"Ah? Kenapa Ma?"
"Di pertigaan depan itu kita ke mana?"
"Ke kanan, Ma. Lurus lagi dikit, ketemu dah."
"Oh, ok." Tama kembali melajukan motornya, menuju jalan yang kakaknya tunjuk.
Sementara Eby, dadanya kembali berdebar hebat. Ia beberapa kali menarik nafas panjang, dan membuangnya dengan kasar, berharap rasa gugupnya ikut terhempas bersama karbondioksida.
"Belum terlalu ramai, Mbak. Apa kita tunggu dulu?" tanya Tama lagi, saat melihat hanya satu dua orang saja yang berpakaian rapi keluar masuk halaman rumah orang tua William.
__ADS_1
"Ngapain nunggu rame?" tanya Eby, sembari memperbaiki penampilannya.
Tama memarkirkan motornya di bawah pohon rindang, tidak jauh dari rumah William.
"Yuk," ajaknya setelah merasa siap.
Tama mengikuti langkah kakaknya yang terlihat tenang. Pemuda itu merasa kagum dengan sikap yang ditunjukkan Eby. Sedikit pun ia tidak melihat raut kesedihan di wajah kakaknya. Melangkah dengan anggun, seolah apa yang ada di depan matanya bukanlah sesuatu yang melukainya.
"Tetaplah setangguh ini, Mba. Jangan biarkan mereka menghinamu lebih dari ini, dengan melihat air matamu. Aku tahu sehancur apa perasaanmu. Tapi aku kagum dan bangga, karena kamu mampu menutupi perihmu dengan sempurna." gumam Tama menatap punggung Eby.
"Ma, ayo!" panggil Eby dengan suara agak keras.
"Iya, Mba." Tama bergegas mendekat, lalu meraih tangan kakaknya.
"Kok sepi ya, Ma? Kayak nggak ada acara nikahan?" tanya Eby, melihat rumah William tidak seperti yang ia duga.
"Kamu nggak bohongi mba, kan Ma?" Eby menatap tajam ke arah adiknya.
"Nggak, mba. Aku nggak bohong." Tama mencoba meyakinkan kakaknya kembali. Bersamaan dengan itu, ada sepasang suami istri datang mendekati mereka.
"Permisi," ucap pasangan itu, sebab Eby dan Tama menghalangi mereka untuk masuk.
"Eh, maaf. Silahkan." sahut Eby menggeser posisi berdirinya.
"Lho, Eby ya? Ya ampun ... Kamu sudah pulang?" Si perempuan, terkejut dan begitu antusias saat melihat sosok Eby di sana.
__ADS_1
"Aku sepupunya Willi, kita pernah ketemu di sini dulu. Kamu nggak ingat?" tanyanya ramah.
Eby masih terlihat bingung, ia mencoba menggali memorinya agar menemukan sosok yang ada di depannya kini.
"Oooh, iya ... Diah bukan?" tanya Eby ragu.
"Iya, aku Diah. Dan ini suamiku. Yank, kenalin ini Eby. Tunangannya, ah ya ampun!" Seketika wanita itu menutup mulutnya saat menyadari sesuatu.
Wajah ceria yang beberapa saat lalu ia tampilkan, kini berganti dengan raut tidak enak dan prihatin.
"By,"
"Nggak pa-pa." Eby tahu Diah tidak sengaja ingin menghinanya.
"Kamu ke sini mau ketemu Willi? Dia udah tau kalau kamu pulang?"
"Mba." Tama memberi isyarat agar Eby tidak perlu basa basi.
"Sorry, aku ke dalam dulu ya," Eby menghentikan percakapan mereka, dan berpamitan masuk ke dalam rumah orang tua William.
Sementara Diah menatap Eby dan Tama dengan perasaan tidak enak.
"Nggak usah beramah tamah sama orang-orang di sini mba. Itu nggak perlu." kesal Tama saat sudah menjauh dari Diah dan suaminya.
"Nggak boleh gitu, Ma. Mereka nggak tau apa-apa, mereka hanya ingin menunjukkan simpatinya sama mba. Lagi pula mereka nggak berbuat sesuatu yang bikin mba marah," ucapnya menasihati sang adik.
__ADS_1
Eby begitu tenang melangkah mendekati rumah utama.
Beberapa orang yang menyadari kehadirannya, nampak berbisik satu dengan yang lain. Tidak banyak orang memang di tempat itu, hanya ada lima sampai sepuluh orang yang sebagian besar Eby tahu. Mereka adalah keluarga terdekat William.