Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 88


__ADS_3

Eby baru saja memarkirkan motornya di parkiran khusus karyawan hotel, ketika tanpa sengaja matanya melihat Murat melenggang menuju pintu utama hotel tersebut.


Sedikit mengeraskan suara, wanita mungil itu memanggil nama laki-laki bertubuh tegap yang kini tengah dekat dengannya.


Senyum tipis seperti biasa menghiasi wajah Murat, setiap kali ia berhadapan dengan wanita yang berhasil mengusik hatinya itu. Dengan sabar ia menunggu Eby datang mendekat ke arahnya.


"Pasti baru habis makan siang, ya? Padahal aku udah bawain kamu makanan lho, sesuai request kmu," keluh Eby, saat sisa jarak mereka hanya sejengkal.


"Nggak! Aku belum makan siang, sengaja tunggu makanan dari kamu. Mana?" Murat menengadahkan tangannya, meminta apa yang Eby janjikan untuknya.


"Trus tadi dari mana?" tanya wanita itu sembari menyerahkan tas bekal berwarna navy dengan gambar awan, pada Murat.


"Eee, tadi ada sedikit urusan di luar. Eh ini makanan untukku semua? Kok banyak?" Tidak ingin memperpanjang rasa ingin tahu Eby, Murat sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Ia sedikit mengangkat tas bekal milik Eby, seolah menunjukkan jika itu cukup banyak jika dinikmatinya sendiri.


"Itu cukup untuk dua orang, sih. Tapi kalau kamu bisa habiskan, nggak pa-pa juga. Nanti aku bisa beli di luar. Nitip sama OB," sahut Eby sambil tersenyum.


Murat merasa tersanjung dengan sikap Eby kali ini. Wanita yang biasanya ketus dan kaku itu, perlahan sudah bisa bersikap manis terhadapnya.

__ADS_1


Murat lantas mengusap pelan rambut Eby yang sudah tertata rapi, seolah ingin mengisyaratkan jika dirinya merasa gemas dengan sikap wanita itu.


"Uuuh manis sekali calon istriku ini," ucapnya dengan rona bahagia yang tidak mampu ia tutupi.


"Nanti kita makan bareng, ya. Aku tunggu," lanjutnya lagi.


"Nggak usah tungguin aku. Aku udah makan tadi di kost. Kamu aja yang makan, nanti sisanya baru untukku."


Murat hendak membantah, tapi ucapannya sudah lebih dulu di bungkam kalimat Eby selanjutnya.


"Udah ya, aku mau absen dulu. Udah jamnya ini. Nanti GM-nya marahin aku lagi, kalau telat masuk kerja. Bisa-bisa aku dipecat," goda Eby sembari mengerlingkan sebelah matanya sebelum berlalu dari hadapan Murat.


Meski banyak yang menyaksikan interaksi keduanya, tapi tentunya tidak ada yang berani membicarakan kedekatan antara dia dengan Eby di sana.


Walaupun Murat bukan seorang pimpinan yang arogan, yang selalu ditakuti, tapi tetap saja laki-laki itu memiliki karisma dan wibawa yang membuat orang lain merasa segan terhadapnya.


Sementara itu, Eby yang mencoba bersikap seperti biasa, menutupi perasaan hati yang sebenarnya, berjalan dengan pasti menuju area kerjanya. Ia tahu banyak pasang mata melirik ke arahnya, dan ia sadar banyak alasan yang membuatnya mendapat tatapan seperti itu. Namun Eby mencoba abai seperti biasa. Karena ia tidak ingin orang lain berhasil mengintimidasinya.

__ADS_1


"By," sapa salah satu rekan kerjanya. Untuk pertama kalinya ia merasa seseorang memanggil namanya dengan ramah, dihiasi senyum manis.


Eby membalas sapaan itu dengan tersenyum. Meski di dalam hatinya, ia merasa sedikit terkejut, karena selama ini tidak ada yang mau beramah tamah dengannya.


"Kamuuu, ada hubungan special ya sama GM kita?" tanya wanita itu akhirnya, setelah beberapa detik berlalu.


Eby menoleh, "kalau iya kenapa?" tanyanya sembari menyimpan barang pribadi miliknya di loker.


"Nggak, sih. Pengen tau aja, soalnya selama ini kan dia kayak selalu belain kamu."


"Nggak kok, biasa aja," sahut Eby sambil berlalu.


Meski sadar masih menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar, terutama para rekan kerjanya, Eby berhasil mengabaikan rasa risih yang menderanya. Ia bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.


"Biasa apanya? Orang dia kayak yang peduli banget gitu sama kamu," desaknya lagi. Namun Eby tetap mengabaikannya.


"Tau nggak, By? Kemarin pas kamu libur, cewek yang sempat datangin kamu sambil bawa bayinya itu, ke sini lagi lho. Tapi nggak sampai masuk ke loby, udah keburu di usir sama sekuriti." Kembali orang itu memberinya informasi yang tidak ia minta. Namun berita yang didengarnya itu cukup menarik perhatian Eby, hingga ia yang awalnya cuek, kini memusatkan perhatiannya ke arah sang rekan kerja.

__ADS_1


"Lalu giman?"


"Ya diusir! Meski sempat berontak, tapi sekuriti yang jaga waktu itu berhasil mengamankannya, meskipun dengan ancaman. Dan kata sekuriti, ternyata itu perintah langsung dari GM! Nggak nyangka aku, kalau kamu benar-benar dekat sama si bos ganteng." Dengan tidak tahu malunya, wanita dengan make up ala Korea itu bersikap seolah ia dan Eby adalah teman akrab.


__ADS_2