Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 83


__ADS_3

Kedatangan Eby dan Murat disambut wajah sembab sang sahabat. Eby memeluk Santi dengan erat, mencoba memberi kekuatan pada ibu satu anak itu.


"Mana Si Embul" tanya Eby setelah melepas pelukannya.


Santi menunjuk ke arah ranjang pasien yang berjarak beberapa langkah dari pintu masuk.


Eby mendekati bayi yang nampak pulas tersebut.


"Dia baru saja tidur, baru habis dikasih obat sama perawat," terang Santi sembari mengusap kening sang putri.


Eby yang duduk di ujung ranjang pun hanya bisa menatap sedih ke arah bayi gembul yang biasanya selalu ceria dan penuh energi itu. Tangannya terulur, menyentuh kaki yang dibalut perban, di mana selang infus terpasang. Refleks kaki mungil itu bergerak, karena terkejut. Eby menghentikan niatnya mengusap kaki Bianca.


"Kita duduk di sofa aja, ya." Santi menunjuk sofa yang ternyata sudah dihuni oleh Murat. Eby mengangguk, lalu bangkit perlahan agar tidak menimbulkan gerakan berarti yang bisa mengganggu Bianca.


Sementara Murat yang sudah lebih dulu duduk di atas sofa, hanya memerhatikan interaksi antara Eby dengan Santi yang berbincang di samping ranjang pasien. Murat melihat sikap wanita itu berbeda dari biasanya. Terlebih saat menatap balita berusia satu tahun yang tengah terbaring di atas ranjang pasien, dengan kaki terpasang selang infus. Ada kelembutan yang terpancar dari wajah wanita itu. Hal yang selama ini tidak pernah Murat lihat dari diri Eby, yang membuat ia semakin mengagumi sosok itu.


"Mas Darma belum sampai, San?" tanya Eby sebab tahu jika suami sahabatnya itu tengah berada di luar kota.


"Masih di jalan. Mungkin sebentar lagi sampai," sahut Santi pelan.


"Dari kapan Bian sakit?"


"Badannya hangat dari dua hari yang lalu, tapi udah aku kasih obat."

__ADS_1


"Kenapa bisa sampai kejang sih, San? Emang panasnya berapa?" tanya Eby lagi. Ia kembali melemparkan pandang ke arah ranjang pasien di mana Biyanca kecil berada. Ia tidak dapat menutupi kesedihan di hatinya, melihat anak yang sudah ia anggap seperti keponakannya itu terbaring lemah dengan mata terpejam.


"Panasnya 38,7 By. Tadi pagi nggak mau dikasi obat. Udah aku paksa, malah dimuntahin sama dia. Aku nggak berani maksa lagi, takut dianya tersedak. Tapi ujung-ujungnya jadi kayak gini," sesal Santi yang juga menahan sedih.


"Trus tadi gimana caranya kamu bawa dia ke sini?" tanya Eby lagi. Ia merasa iba pada sahabatnya itu.


"Aku minta tolong sama tetangga samping kamarku. Syukur orangnya udah pulang kerja. Ngeliat aku nangis sambil gendong Bian, dia inisiatif nawarin untuk anter ke sini."


"Syukurlah, masih ada orang baik yang peduli sama orang lain," gumam Eby lagi.


Sejenak ia menoleh ke arah Murat yang duduk di belakangnya, hanya sekadar melemparkan senyum pada laki-laki itu. Mereka belum sempat bicara sama sekali, tapi Eby tidak mau Murat merasa terabaikan.


Murat membalas senyum Eby dengan tulus. Laki-laki itu menggerakkan bibirnya berkata "lanjut," sembari menganggukkan kepala meminta Eby fokus pada sahabatnya.


"Oh ya San, aku belikan kamu mujair nyat-nyat yang biasa kita beli dulu itu. Dimakan ya, aku ambilkan." Eby bangkit berniat mengambil bungkusan yang sebelumnya Murat simpan di atas meja.


Eby yang sudah berdiri di dekat meja, menghentikan langkahnya. Ia lalu menatap Santi yang tengah menunduk.


"Kamu harus makan, San. Biar bisa jaga anak kamu dengan maksimal. Kasihan suami kamu nanti, kalau kamu ikutan sakit. Makan ya," bujuk Eby lagi.


Santi menggeleng, "Aku takut By," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


Eby mendekat lagi. Segera memeluk Santi yang pasti sangat khawatir dengan keadaan putrinya.

__ADS_1


"Aku takut terjadi apa-apa sama anakku, By. Dia kejang, badannya kaku, matanya cuman nampak putihnya aja ...." Wanita itu tidak dapat melanjutkan kalimatnya, ia menangis dalam dekapan Eby.


"Sabaaar, kamu harus kuat. Bian anak yang hebat, dia pasti bisa lewatin ini. Tapi bundanya juga harus kuat, nggak boleh lemah kayak gini," ucap Eby sembari mengusap punggung yang masih bergetar itu.


"Ini salah aku, By. Andai aja kemarin aku nggak mandiin dia, pasti nggak gini jadinya. Harusnya aku lebih peka dengan kondisi tubuh anakku. Aku udah tau kalau dia lagi kurang sehat, tapi aku malah mandiin dia," Santi masih terus menyalahkan dirinya sendiri.


Eby hanya menjadi pendengar, sembari terus mengusap punggung sang sahabat. Ia tidak lagi berkata apa-apa, sebab tahu jika Santi tidak akan mendengarkan nasihatnya saat ini.


Setelah merasa puas menumpahkan kesedihan, Santi melepas pelukannya pada Eby. Ia menghapus sisa air mata, dan tertawa malu saat menyadari Murat tengah memerhatikan tingkahnya.


"Maaf," ucapnya tidak enak hati pada laki-laki yang belum sempat ia sapa itu.


"By, siapa?" tanya Santi menunjuk ke arah Murat.


"Eh iya, aku sampai lupa. Dia atasan aku di hotel, kenalan dulu," pintanya sembari menoleh ke arah Murat.


Murat mengulurkan tangan dan disambut oleh Santi dengan senyum tipis.


"Saya Murat, temannya Eby"


"Santi," sahut Santi dengan suara serak.


"Dia dari mana, By?" Santi kembali bertanya pada Eby.

__ADS_1


"Tanya sendiri sama orangnya ya, aku kebelet." Eby meninggalkan keduanya, dan berlalu ke kamar mandi.


Eby belum siap menceritakan pada Santi, hubungan yang terjalin antara dirinya dengan Murat saat ini. Ia masih ingat bagaimana dulu ia bercerita pada Santi, mengeluhkan keputusan Ratih yang memilih laki-laki luar untuk dijadikan pasangan hidup. Ia merasa malu, merasa seperti menjilat ludah sendiri.


__ADS_2