
Eby merasa marah sekaligus jengah oleh sikap Elin yang seolah menantangnya.
"Bu, Elin bilang nggak mau nginep di mana?" ulang Eby lagi saat wanita yang melahirkannya itu tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Di rumah temennya, By. Namanya Sisil, temen sekelas dia. Ibu tahu kok orangnya, dia sering datang ke sini."
"Di mana alamatnya, Bu?"
"Untuk apa?"
Eby mengerutkan kening, mendengar pertanyaan ibunya.
"Untuk apa? Ya aku mau jemput Elin lah, Bu! Aku sudah kasih tau di baik-baik waktu ini, kalau selama dia belum lulus, dia nggak boleh nginep di rumah temennya."
"By,"
"Bu! Elin tu perempuan! Aku nggak harus jelaskan apa yang bisa terjadi sama dia kan, kalau sampai dia salah pergaulan? Ibu jauh lebih paham apa resikonya membiarkan Elin liar seperti saat ini!"
"Ibu tahu. Dan ibu percaya, Elin bisa jaga diri. By, terkadang seseorang melakukan sesuatu bukan karena dia ingin melakukannya. Ada kalanya rasa marah dan terkekang membuat orang nekat. Berikan adikmu kepercayaan, karena sangat sakit rasanya, ketika orang terdekat mencurigai atau bahkan menuduh kita melakukan sesuatu yang bukan-bukan." Karina berucap dengan suara bergetar.
Eby merasa ibunya tidak sedang membahas Elin, melainkan dirinya sendiri.
Eby tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia mengalah.
"Oh, baiklah. Ibu yang lebih mengenal Elin daripada aku," sahut Eby akhirnya.
Eby masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket. Ia lupa sebelumnya sempat menawari ayahnya bubur ayam.
"Mau kemana, By?" tanya sang ibu, saat Eby berjalan menuju pintu utama.
"Keluar sebentar, Bu. Mau beli bubur ayam untuk ayah."
__ADS_1
"Oh, hati-hati. Lampu motor ibu agak redup soalnya."
"Iya, Bu."
Eby melajukan motornya dengan pelan. Benar ucapan Karina, lampu motornya redup, sehingga Eby harus berhati-hati mengendarainya, jika tidak ingin menabrak sesuatu.
Warung bubur ayam yang ia tuju, cukup ramai pembeli. Ia terpaksa mengantri, sebab selain warung itu, tidak ada lagi warung bubur ayam yang buka.
Eby duduk di kursi plastik yang tersedia di luar warung. Menunduk, memainkan ponselnya, tidak perduli dengan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
"Mba Eby," panggil seseorang di depannya.
Eby mendongak, melihat siapa orang yang memanggil namanya.
"Aku Sisil mba, temennya Elin," ucap gadis itu mengenalkan dirinya.
"Oh temennya Elin? Beli bubur ayam juga?" tanya Eby berbasa basi.
Eby tersenyum menanggapi ucapan Sisil. Ia tidak tahu harus bertanya apa lagi, sebab ini untuk pertama kalinya mereka bertemu.
"Mba Eby masih lama ya ngantrinya?" tanya gadis itu lagi.
"Lumayan, itu masih ada tiga orang lagi kayanya," sahut Eby sembari bangkit mendekat ke arah warung.
"Kamu udah lama di sini?"
"Aku baru aja nyampe mba," sahut Sisil dengan senyum manisnya.
"Ooh, kirain duluan kamu,"
Mereka berdua berbincang sembari menunggu giliran mereka tiba. Dari obrolan itu, Eby menjadi tahu kalau Elin saat ini tidak sedang bersama teman-temannya.
__ADS_1
Lalu kemana anak itu? Di rumah siapa dia sekarang?
"Mmm, Sil, di kelas kamu ada berapa siswa yang namanya mirip sama kamu?"
"Maksudnya?"
"Ada berapa nama Sisil di kelas kamu?"
"Cuman aku aja mba, memangnya kenapa?"
"Nggak, cuman mau mastiin aja,"
"Mastiin apa, mba? Jangan bikin aku takut deh ...." desak gadis itu lagi.
"Biar mba gampang bilangnya nanti, kalau ketemu sama kamu di sini."
"Ooh kirain apa,"
Obrolan mereka terhenti, ketika pesanan Eby sudah selesai dibuatkan.
"Mba duluan ya Sil," pamit Eby.
"Iya mba,"
"Besok main-main ke rumah ya,"
"Iya mba, kalau udah selesai ulangan ya mba," sahut gadis itu, yang dibalas dengan anggukan dan lambaian tangan oleh Eby.
Mereka berpisah dengan banyak pertanyaan kembali muncul di kepala Eby. Apa yang sedang dilakukan adiknya saat ini? Dimana dia sekarang? Apa dia harus diam saja, membiarkan adik bungsunya liar seperti sekarang?
__ADS_1