
Menepi, membiarkan hati menikmati sakit seorang diri, adalah salah satu cara terbaik untuk belajar mengikhlaskan. Jujur dan bersabar mendengar bisikan nurani, yang kerap berkeluh lelah dan ingin menyerah kalah, membuat kita mengerti apa yang sejatinya batin kita mau. Mendekap diri dengan penuh kesadaran, membujuk dan memberi semangat, jika duri yang dipijak kini akan segera terlewati, adalah sebuah upaya dan pengharapan yang mampu membawa kita pada satu tangga kebaikan.
Eby bukan malaikat, meski cobaan menempanya untuk selalu terlihat kuat. Dalam tawa yang ia suguhkan, tersimpan rintihan luka yang mendesak untuk disembuhkan. Dan wanita itu selalu menekan luka tak berdarah itu, agar tidak muncul dipermukaan. Wanita itu lupa, jika dia hanya manusia biasa yang tidak sempurna, dan tidak harus menjadi sempurna. Dia tidak bisa memaksa hatinya untuk selalu terlihat baik-baik saja. Karena bisa jadi semua tekanan itu akan merongrongnya dari dalam. Membunuh rasa serta asa, dan menjadikannya hanya seonggok daging bernafas tanpa jiwa.
"Hidup itu penggalan kisah manusia menuju moksa, By. Tangis dan tawa yang dilewati, adalah ujian penentu, apakah seseorang pantas naik tingkat atau justru turun ke tempat yang lebih rendah. Kamu tidak bisa memaksakan diri agar terus mendapat nilai sempurna, sementara jiwamu menjerit meminta kesembuhan." ucapan Harry beberapa jam lalu, terus terngiang di telinga Eby.
Entah mendapat Ilham dari mana, hingga sepupunya bisa berkata sebijak itu?
"Kamu ngomong apa sih, aku nggak ngerti." sahut Eby saat itu. Namun Harry tidak menanggapi, ia membiarkan Eby berpikir sendiri, menimbang ucapannya.
"Wooi! Bengong aja, nih makan dulu." Harry menyodorkan kotak Styrofoam pada Eby yang tengah asik melamun.
Eby tersadar, dan hanya menatap Harry dengan tersenyum.
"Makasih," ucap wanita itu kemudian membuka kotak berwarna putih tersebut.
__ADS_1
"Beli di mana ini, Ry? Udah lama lho aku nggak makan, makanan ini." Eby antusias membuka kuah santan yang dibungkus plastik terpisah, dan menuangkannya di atas blayag (sejenis ketupat, namun dibungkus memanjang seperti lontong menggunakan janur.)
"Itu, di depan kost ada yang jual." sahut Harry.
Ia ikut duduk di samping Eby, dan memerhatikan sepupunya makan.
"Kamu nggak beli?" Eby menghentikan suapannya saat menyadari Harry hanya menontonnya saja.
"Nggak, aku udah makan di sana tadi. Cepet habiskan, setelah ini l kita jalan-jalan."
Eby menuruti ucapan sepupunya. Makan tanpa banyak bicara, hingga tidak sampai sepuluh menit, seporsi blayag tandas tanpa sisa.
"Kamu maunya ke mana?"
"Kalau ke pantai, masih panas nggak ya jam segini?" tanya Eby, seolah bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ya ampun, By ... Nggak di kampung, nggak di kota, yang kamu cari pantaaaiii terus. Nggak bosen liat ombak?" Jengah Harry mendengar ucapan Eby.
"Trus ke mana donk? Kamu tadi nanya aku mau ke mana, giliran kasih ide, malah marah. Kamu tuh, niat ngajak aku refreshing atau nyari teman ribut sih?" Eby yang sedang sensitif, tersulut emosi, padahal baru beberapa menit yang lalu ia melamun dalam kegundahan.
Bersyukur Harry sudah mengenal seperti apa sifat sepupunya itu, ia tidak ambil pusing dengan ucapan pedas Eby terhadapnya. Justru Harry merasa senang, karena secara tidak langsung, dirinya bisa membuat Eby merasa lebih baik dengan cara mengeluarkan suara yang agak meninggi.
"Kita ke mangrove yok, kamu pasti kangen kan sama tempat itu?"
Eby hampir lupa, di kota tempatnya sekarang berada, selain pantai yang terkenal dengan pasir putihnya, kota itu juga memiliki hutan mangrove, yang menjadi salah satu objek wisata bagi penduduk lokal mau pun dari luar daerah.
Hutan bakau yang biasanya dijadikan tempat foto pre-wedding calon pengantin, atau sekadar penghilang penat dari kebisingan kota, memang memiliki pemandangan alam yang indah dan menyejukkan.
"Boleh deh, sekalian nostalgia." kekeh Eby, dengan senyum getir.
"Harus dihadapi, By. Aku yakin kamu pasti bisa." sahut Harry memberi semangat.
__ADS_1
Meski Eby tidak pernah membagi kesedihannya, namun Harry yang mengenal wanita itu sejak kecil tentu tahu dari sorot matanya, jika banyak beban dan kesedihan mengungkung ruang gerak sepupunya itu.