
Eby terus menatap ke samping kiri, menikmati kepadatan lalu lintas kota, yang semakin malam semakin ramai saja rasanya. Ia tidak berminat membuka obrolan dengan orang di sampingnya, yang notabene adalah bosnya di tempat kerja. Biarlah ia dikatakan sombong, sebab memang dia sedang tidak berminat berbasa-basi.
"Mau makan di mana?" tanya Murat akhirnya. Sebab sudah banyak tempat makan yang mereka lewati, namun Eby belum memberikan rekomendasi. Laki-laki itu melirik wanita di sampingnya, yang nampak begitu manis di matanya.
"Terserah Anda saja, saya tidak berani memberi rekomendasi. Takut nanti tidak halal," sahut Eby, dengan bahasa formal.
Murat mengangguk. "Kalau begitu, makan di restaurant hotel aja, bagaimana?" tawar Murat.
Eby mendelikkan mata. Seketika ia lupa jika yang ada di sampingnya adalah sang bos. "Jangan membuat ide yang aneh-aneh, Tuan!" ketus Eby tidak suka.
"Aneh-aneh bagaimana? Itu cukup efisien. Selain jaraknya yang sudah dekat, di sana kita bisa memilih menu tanpa khawatir halal atau tidak, sebab kita sudah tau dengan baik makanan di sana," sahut Murat memberi alasan.
"Di tempat lain juga banyak makanan halal, nggak usah di hotel juga. Memangnya Anda tidak pernah makan di tempat lain? Nggak percaya sama tempat lain?" sergah Eby, masih menajamkan tatapan matanya. Tidak tahukah laki-laki ini, bagaimana rekan kerjanya bersikap selama ini? Bagaiman kalau sampai salah satu dari mereka ada yang tahu, dia makan di sana. Dengan bosnya pula.
"Bukan begitu, tapi ini kan untuk efisiensi waktu. Kamu, saya tanya jawabnya terserah, tapi saya kasih ide, kamu menolak!" kesal Murat menaikkan volume suaranya.
"Ya kan idenya yang lebih masuk akal, donk! Masa di restoran hotel?" sahut Eby tidak mau kalah.
"Dasar cewek aneh! Udah ceroboh, ngotot lagi!" sungut Murat, menggunakan bahasa asalnya.
Eby semakin kesal mendengar ucapan bosnya itu. "Jangan lupa kalau saya mengerti bahasa Anda, Tuan!" ucapnya menekan setiap kata.
"Terserah!" sahut Murat tak acuh.
"By!" Dari arah belakang, Ratih memberikan sebuah tendangan kecil tanda peringatan. Ia merasa tidak enak pada Murat dan juga Ahmed, sebab nampak sekali raut tidak suka di wajah Eby.
"Maaf ya, Eby memang begitu kalau sama orang baru dikenal. Tapi kalau sudah akrab, dia baik kok. Jinak lagi," ucap Ratih pada Murat.
"Kamu pikir aku anjing piaraan?!" sentak Eby tidak terima.
"Sstt, kalian kenapa ribut sih? Udah makan di mana aja, asal jangan di hotelmu, Murat." Ahmed akhirnya memberi keputusan.
__ADS_1
Dan akhirnya setelah berkeliling, Murat memilih salah satu restauran western yang letaknya agak jauh dari hotel.
"Kamu kenapa malah mendebatnya? Bagaimana mau mendekati dia, kalau kalian musuhan begini?" bisik Ahmed di telinga Murat, saat mereka melangkah memasuki restoran tersebut.
"Aku suka melihat wajah kesalnya. Matanya yang menyala penuh amarah, nampak indah menurutku," kekeh Murat dengan santainya.
Murat merasa kesulitan membuka topik obrolan dengan Eby, mengingat sikap Eby cukup dingin pada orang lain. Dan saat mendapat celah, ia tidak membuang kesempatan itu begitu saja. Ia tahu Eby tidak akan setuju dengan idenya makan di hotel, tapi dia mengusulkan itu untuk melihat reaksi Eby.
"Dasar!" Ahmed menggelengkan kepala dan memukul pelan bahu Murat. Dia merasa jengah dengan tingkah temannya itu.
"Tapi dia jadi semakin menjauh nanti," lanjut Ahmed lagi.
"Biarkan saja mengalir dengan pelan. Aku sudah tau celah mendekatinya sekarang. Thanks, ya." Murat menepuk pundak Ahmed dan melangkah memasuki pintu utama restoran, mengikuti langkah Eby dan Ratih yang sudah lebih dulu memilih tempat.
Mereka duduk saling berhadapan. Murat dan Ahmed bersisian, sementara Eby dan Ratih duduk di seberangnya. Murat acap kali mencuri pandang ke arah Eby. Sementara yang menjadi objek, nampak tidak peduli, dan memilih menikmati sajian di depannya dengan khidmat. Senyum tipis hampir tidak terlihat, mengembang di bibir laki-laki dengan jambang di wajahnya itu, melihat sikap acuh Eby.
Ratih dan Ahmed saling lirik dan saling memberi kode. Mereka merasa lucu dengan tingkah dua manusia di samping mereka. Eby dengan sikap dingin dan acuhnya, sedangkan Murat dengan sikap cuek tapi masih menunjukkan ketertarikan pada objek di depannya.
"Jangan lama-lama, By. Dan jangan kabur!" Ratih memberi peringatan pada Eby.
Eby tidak menjawab. Ia memilih melenggang, dan mengabaikan peringatan sahabatnya itu.
"Mmm, Murat." Panggil Ratih.
"Iya," Murat mengangkat wajahnya menatap Ratih.
"Aku panggil kamu dengan nama aja ya,"
Murat mengangguk.
"Kata Ahmed, kamu ada rasa sama Eby. Benar?" tanya Ratih. Kali ini raut mukanya nampak serius.
__ADS_1
Murat mengangkat bahu. "Yaaa, bisa dibilang begitu," sahutnya tidak meyakinkan.
Ratih mendengus. Merasa tidak suka dengan jawaban setengah hati dari mulut murat.
"Dia bukan orang yang bisa kamu permainkan. Kalau kamu tidak berniat serius, aku minta jangan mendekatinya."
"Kenapa kamu yang malah mengatur?" Murat menatap sinis ke arah Ratih.
"Aku bukan mengatur kamu, hanya meminta dengan baik-baik. Kamu bisa membedakannya, bukan? Aku tidak peduli sedekat apa kamu dengan Ahmed, tapi jika kamu berniat tidak baik pada Eby, aku akan melupakan keramah tamahanku terhadapmu." Ratih menatap Murat dengan tajam.
"Oh woow! Kamu mengancamku?"
"Tidak, hanya memberi kamu peringatan. Mungkin kamu adalah bos di perusahaanmu saat ini. Tapi ingat, kamu tetap seorang WNA yang tidak memiliki siapa-siapa. Sementara aku dan Eby, kami berasal dari sini. Keluarga kami banyak di sini, dan ada beberapa yang memang suka berurusan dengan orang-orang seperti kamu," ucap Ratih membalas senyum sinis Murat.
"Di sini, kami hormat pada WNA, memperlakukan mereka dengan sangat baik, asal mereka berbuat baik. Tapi kalau kami merasa dirugikan, ya ...." Ratih mengangkat bahu mengikuti gaya Murat sebelumnya.
"Apalagi Eby. Dia banyak punya kenalan orang-orang berpengaruh di sini. Kelihatannya aja dia lugu, kalem, tapi kalau sudah marah, beda lagi ceritanya." ujar Ratih berbohong.
Wajah Murat berubah tegang. Tidak menyangka kalau karyawan yang sering mendapat perlakuan tidak baik dari rekan kerjanya itu, memiliki sisi lain di hidupnya. Ia tidak tahu kalau itu hanya akal-akalan Ratih untuk menakutinya saja.
"Tapi kamu nggak usah takut. Kalau kamu tidak berniat buruk, perbuatanmu tidak terlalu fatal, Eby tidak semudah itu akan berbuat tidak baik pada orang," lanjut Ratih lagi.
Tidak berselang lama, Eby datang. Wajahnya nampak lebih segar. Sepertinya ia membersihkan wajahnya ketika ke toilet barusan.
"Apa sudah selesai? Aku harus balik, besok kerja soalnya," ucap wanita itu.
"Oh, sudah," sahut ketiganya kompak.
Mereka bergegas meninggalkan tempat itu, tentu setelah Murat membayar semua tagihan.
"Antar kami ke hotel dulu, Murat. Aku lupa membawa obatku," ucap Ahmed. Ia meremas tangan Ratih, saat wanita itu ingin membuka suara.
__ADS_1