Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 29


__ADS_3

Eby tersenyum menatap Amanda yang jelas terlihat kesal. Senyum remeh yang membuat lawannya marah, namun hanya berani berteriak di balik ketiak suaminya.


"Tenang saja, aku bukan orang yang suka merampas apa yang bukan menjadi hakku. Aku hanya ingin mengambil apa yang sudah aku titip selama ini." Eby mengeluarkan sesuatu dari dalam sling bag yang dibawanya.


"Kamu nggak lupa kan,Will? Ini surat perjanjian yang kita buat dulu, saat aku akan berangkat. Bahkan sangking percaya dirinya kamu dulu, kamu membuat keputusan yang mungkin kamu lupakan selama ini."


Wajah William memucat. Ia baru teringat dengan surat yang dipegang Eby saat ini.


"Nggak perlu khawatir, Will. Aku hanya mau meminta apa yang sudah aku beri. Aku tidak akan mengambil milikmu."


"Apa maksud dia, Will? Apa yang menjadi miliknya di sini? Kembalikan Will, agar nggak ada bayang wanita ini mengganggu kehidupan rumah tangga kita," rengek Amanda, persis seperti seorang anak yang tengah meminta permen pada ibunya.


William hanya diam, matanya masih terpaku pada map abu yang Eby pegang. Ada yang mendesak kepalanya untuk menolak, meski nuraninya berkata iya.


"Will, katakan ... Apa yang wanita ini punya, cepat kembalikan. Kita sudah memulai kehidupan baru, jangan ada bayang masa lalu lagi di antara kita," desak Amanda lagi.


"Kamu nggak akan semudah itu bisa mengubur kenangan mereka, meski saat ini kamu lah istri Willi. Kamu lupa, kalian bersama hanya sampai anak itu lahir. Setelah itu, kalian akan berpisah. Dan Willi bisa kembali memulai hidup dengan wanita yang dicintainya." Kakak perempuan William memotong ucapan Amanda.

__ADS_1


"Will, kenapa kamu jadi seperti orang bodoh begini? Cepat jelaskan semuanya! Sebelum semua jadi bertambah rumit." lanjut wanita itu lagi, sedikit meninggikan suaranya, sebab merasa gemas oleh sikap William, yang tidak seperti biasanya.


William hanya diam dengan tatapan kosong. Wajah yang nampak bingung, membuatnya terlihat seperti orang yang kurang normal.


Amanda menggenggam erat tangan suaminya, menatap William dengan tatapan memohon.


Dan itu berhasil. William masih tetap mematung, tanpa bersuara satu kata pun.


Melihat sang adik masih tidak merespon ucapannya, wanita itu mendekati Eby. Ia harus bergerak cepat sebelum semua terlambat.


"By, mba tau apa yang dilakukan William pasti membuat kamu sangat marah dan kecewa, tapi mba mohon maafkan keslahannya." ucapnya memegang tangan Eby dengan tatapan memohon.


Eby mengerutkan dahi, saat mendengar ucapan wanita di hadapannya.


"Kamu mau kan membesarkan anak itu seperti anak kandungmu sendiri kelak? Lanjutkan rencana pernikahan kalian yang tinggal beberapa Minggu lagi."


"Willi, kamu jelaskan semua pada Eby! Bukannya itu memang kesepakatannya, hingga bapak sama ibu merestui kamu menikahi dia?" Wanita itu masih tetap berdiri di depan Eby, namun tatapannya tajam ke arah William.

__ADS_1


Eby menggelengkan kepala, mendengar ucapan wanita itu. Sesaat dia kehilangan kata untuk membalasnya. Merasa tidak menyangka, dengan alur cerita yang disampaikan untuknya.


"Kalian pikir kakakku perawat bayi? Gampang sekali memutuskan sesuatu, seolah mba Eby akan setuju dengan semua ini." ucap Tama jengah.


"Apa sih yang ada di dalam otak kalian? Coba posisinya di balik. Kamu mba, ada di posisi mba Eby sekarang. Pacarmu, calon suamimu, menghamili perempuan lain, lalu kamu diminta merawat anak hasil perselingkuhan itu. Apa kamu mau?" cecar Tama, pada kakak perempuan William.


"Kalian punya hati nggak sih? Berpikir menjadikan mba Eby pengasuh anak itu saja harusnya kalian malu, apalagi mengutarakan niat itu di depan matanya."


Tama berusaha menahan emosi, agar tidak memukul wanita di depan kakaknya itu.


Sesaat suasana menjadi hening. Sampai Eby akhirnya membuka suara.


"Aku nggak nyangka kalian bisa berpikir segampang itu mengenai perasaanku. Tapi nggak pa-pa, itu bukan sesuatu yang penting untuk dibahas. Aku datang ke mari hanya ingin menyampaikan ini, selebihnya aku nggak mau tau lagi urusan di sini. Will, aku mau kamu segera menyelesaikan semuanya, atau aku menuntut ini di jalur semestinya." Eby mengacungkan Map yang sejak tadi ia pegang.


"Dan untuk kamu," Eby menunjuk Amanda dengan dagunya.


"Aku tidak meminta uang suamimu, seperti yang kamu ucapkan tadi. Aku datang untuk mengambil hakku, yang sudah tertulis jelas di dalam surat perjanjian ini. Aku berniat menikah ke mari, tidak hanya membawa tubuh. Rumah yang dibangun Willi di kota, itu sebagian besar hasil kerjaku di luar negri. Itu yang aku minta untuk dikembalikan. Hanya uangku, walau di surat perjanjian ini, harusnya aku memiliki seutuhnya rumah itu, sebab dia mengkhianatiku dengan menghamili perempuan lain. Tapi aku tidak mau, aku hanya mau uangku saja. Untuk yang lain, aku sumbangkan padamu. Termasuk pakaian yang ada di dalam lemari kamar Willi, dan dress yang kamu pakai sat ini, itu juga milikku, yang aku beli di negara tempatku bekerja. Aku sumbangkan padamu. Kamu membutuhkan itu semua kan?" Eby bicara tenang, namun mampu membuat wajah Amanda memerah padam.

__ADS_1


"Aku tunggu sampai Minggu depan, Will. Aku harap kerja samamu. Transfer ke rekening Tama, atau nanti pihak lain yang akan menjemputmu. Kami permisi."


Eby lalu menarik tangan Tama, meninggalkan rumah orang tua William, tanpa mau mendengar panggilan dari kakak serta ayah ibu laki-laki itu.


__ADS_2