Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
89


__ADS_3

Mencoba mengabaikan perasaan risih atas sikap ramah para rekan kerjanya yang tiba-tiba, Eby melanjutkan pekerjaan seperti biasa, meski pikirannya terus tertuju dengan apa yang dilakukan Murat secara diam-diam di belakangnya.


Bolehkah ia merasa senang dengan perhatian diam-diam lelaki bermata kelam itu? Setelah sekian lama, ia akhirnya merasakan memiliki seseorang yang siap menjadi perisainya. Yang siap menghalau siapapun dan apapun gangguan di hadapan Eby. Sikap Murat seolah menunjukkan, jika lelaki itu ingin Eby selalu merasa aman dan nyaman di manapun wanita itu berada.


Namun seperti biasa, seolah takdir belum menghendaki ia mencicipi kebahagiaan lebih lama, telepon dari sang ibu membuat Eby kembali dilanda kebimbangan.


"Kamu pacaran sama orang beda agama?" Pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut ibu tiga anak itu. Hal yang tentu tidak terlintas sedikitpun di pikiran Eby.


Tentu pertanyaan sang ibu membuatnya terdiam beberapa saat. Antara terkejut dan belum siap menjelaskan semua pada wanita yang melahirkannya itu.


"Jangan hanya karena materi, karena kedudukan, kamu buta dan tuli pada kenyataan, Eby. Ingat, di keluarga kita tidak ada yang seperti itu." tegas Karina lagi.


Meski ia sudah dewasa, meski ia sudah mengenal dunia luar, tapi tidak bisa dipungkiri jika keluarganya masih cukup fanatik dengan hal-hal yang menyangkut keyakinan dan agama.


Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Namun perasaan yang perlahan tumbuh dan tanpa Eby sadari itu, juga bukan sebuah dosa, kan?


"Dari mana ibu tau?" tanya Eby akhirnya setelah diam beberapa saat.


"Jadi, benar?" tuntut sang ibu lagi.


Eby kembali diam. Ia bukan tidak ingin mengakui Murat, hanya saja bukan jalan seperti ini yang wanita itu inginkan untuk mengumumkan hubungan mereka berdua. Lagipula, masih terselip ragu di hatinya akan ikatan ini. Meski tidak bisa ia pungkiri, saat ini sudah ada rasa nyaman ketika dirinya berdekatan dengan laki-laki keturunan Turki itu.


"Siapa yang kasih tau ibu?" Eby tetap tidak ingin menjawab pertanyaan wanita yang melahirkannya. Ia hanya ingin tahu siapa yang sudah menyusup, dan menjadi provokator dalam keluarganya.


"Itu nggak perlu kamu tau! Yang pasti, ibu nggak akan merestui kamu menjalin hubungan dengan laki-laki yang tidak seagama dengan kita! Ingat, By. Kamu memilih melepaskan Willi, harusnya kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya. Bukan justru memilih jalan yang berbeda seperti ini!" tegas Karina lagi sebelum wanita itu memutus panggilan telepon.


Eby menarik nafas dalam. Ia meletakkan begitu saja ponsel miliknya itu, di samping tempat duduknya. Lalu mengusap wajah dengan kedua tangannya dengan sedikit kasar.


Hubungan yang ia jalani kini bersama dengan Murat, tak seharusnya dibandingkan dengan kegagalannya terdahulu. Apalagi membandingkan sosok Murat dengan William, itu sangatlah tidak tepat.

__ADS_1


Kita tidak bisa menilai orang lain lebih buruk dari kita, karena perbedaan keyakinan itu. Lagipula, siapa yang dapat memilih terlahir di mana, dan dengan agama apa? Tidak ada!


Hilang sudah rasa lapar yang sebelumnya meronta. Eby menutup kembali makanan yang Murat berikan untuknya beberapa saat lalu.


Kalau dipikir-pikir, ada begitu banyak hal yang berubah dalam hidupnya dan juga keluarganya yang perlahan mulai Eby sadari.


Sebelumnya Eby merasa, sang ibu selalu mendengarkannya. Masalah apapun yang terjadi, Karina selalu melibatkan dia, meski jarak ribuan Mill memisahkan mereka. Namun semenjak ia kembali, semenjak ia tahu satu demi satu masalah yang ditutupi oleh orang tuanya, wanita yang sudah melahirkannya itu, sudah tidak lagi berpura-pura menganggapnya ada.


Apakah uang memengaruhi sikap seseorang? Atau ada hal yang hingga kini belum Eby pahami mengenai keluarganya?


Hingga jam makannya berakhir, Eby masih belum menemukan jawaban, atas setiap tanya yang memenuhi kepalanya. Ia kembali melanjutkan pekerjaan, meski dengan suasana hati yang buruk.


Sementara di sisi berbeda, Murat yang sedang bersantai di dalam kamarnya, tiba-tiba menerima telepon dari nomor luar negeri.


Ia tahu itu kode negaranya. Membuat laki-laki itu ragu untuk menerima panggilan tersebut. Ia tahu itu pasti keluarganya. Ia pasti diminta untuk kembali. Itu sebabnya Murat mengabaikannya. Namun seolah pantang menyerah, nomor yang sama menghubunginya berulang kali, hingga Murat merasa jengah dan terpaksa ia menerima panggilan tersebut.


"Hallo," sapanya menggunakan bahasa ibunya.


Murat diam, tidak menanggapi ucapan lawan bicaranya. Ia hanya mendengarkan saja.


"Bagaiman kabarmu di sana?" tanya suara itu lagi.


"Aku baik"


Terdengar dengusan dari seberang, sepertinya merasa kesal karen jawaban singkat dan kaku Murat.


"Sampai kapan kau akan menjauh dari keluargamu? Sudah hampir tiga tahun, kau sama sekali tidak pernah pulang. Apa kau tidak pernah merindukan kami?"


"Aku sibuk, Kak. Banyak pekerjaan yang tiap hari harus aku selesaikan." Kilah Murat memberi alasan.

__ADS_1


"Alasan! Bilang saja kau masih marah pada ayah dan ibu, karena masalah asmaramu yang tidak mendapat restu. Harusnya kau tau, mereka ...."


"Untuk apa kakak meneleponku? Aku masih banyak pekerjaan," potong Murat cepat. Ia tidak ingin orang yang ia ajak bicara, yang adalah kakaknya sendiri, kembali mengungkit masa lalunya yang menyakitkan.


"Pulanglah sebentar saja, Murat. Ibu sedang sakit, dan selalu memanggil namamu," ucap laki-laki di seberang akhirnya.


"Belajar berdamai dengan masa lalumu. Cobalah mengerti, mereka melarangmu, bukan karena tidak sayang, tapi karena mereka tau wanita pilihanmu bukanlah wanita baik-baik."


Murat masih saja diam. Tak ada satu patah katapun terucap dari bibir tebalnya.


Mau tidak mau kenangan masa lalu kembali hadir menyapa ingatannya. Namun kini ia malas berdebat. Baginya semua sudah berakhir, dan tidak perlu diungkit kembali.


Kali ini alasannya enggan kembali, bukan karena luka masa lalu, tapi karena di sini ada Eby yang ia harapkan akan menjadi masa depannya. Ia takut kedua orang tuanya masih berhasrat untuk menjodohkan dia dengan wanita pilihan mereka, dan alasan sakit hanyalah jebakan agar Murat mau kembali.


Ia memikirkan Eby. Rasanya ia tak sanggup kehilangan untuk yang kedua kalinya. Ia tahu rasa sakit sebuah perpisahan, ia tidak ingin merasakannya lagi. Atau bahkan membuat Eby merasakannya lagi.


"Murat? Kau masih di sana?" tanya sang kakak dari seberang.


"Hmm, iya," sahut Murat pelan.


"Kapan kau akan pulang?"


"Aku tidak tau,"


Hening lagi.


Jawaban Murat membuat sang kakak menarik nafas dalam.


"Baiklah. Maaf aku mengganggumu. Tapi pikirkan lagi permintaan ibu. Jangan sampai penyesalanmu terlambat."

__ADS_1


Setelah panggilan telepon itu berakhir, Murat hanya bisa menatap kosong ponsel yang dipegangnya.


Ia bingung harus melakukan apa. Kedua orang tua, terutama sang ibu adalah wanita mandiri yang tegas. Ia bisa melakukan apa saja jika itu dianggapnya benar. Bahkan perpisahan Murat dengan mantan kekasihnya dulu, adalah karena campur tangan sang ibu sepenuhnya.


__ADS_2