
Di sisi lain.
Amanda tengah gusar saat ini. Ia baru sadar jika posisinya sekarang, belum benar-benar aman. Dan sialnya ia terlalu tergesa mengambil keputusan.
Bagaimana kalau William marah, dengan postingannya?
Bagaimana kalau laki-laki itu justru membatalkan pernikahan yang sudah di depan mata?
Setelah merenung beberapa saat, ia akhirnya memutuskan menghubungi orang tuanya, agar membantu mengatasi masalahnya saat ini.
Dan secara diam-dim ia pulang ke kampung halamannya sore itu juga, dijemput oleh sang adik.
"Ada apa sih mba, kok mendadak suruh jemput?"
"Iya, ada yang harus mba urus dulu soalnya."
"Apa, Mba?" anak laki-laki itu penasaran.
"Ck, kamu anak kecil. Nggak usah tau urusan orang dewasa." Sahutnya ketus pada adiknya yang masih duduk di bangku SMA.
Mendapat sentakan seperti itu, sang adik pun langsung diam, tidak berani berkata apapun lagi.
Jadilah perjalanan mereka hanya ditemani angin dan deru kendaraan yang saling berpapasan. Kedua kakak beradik itu, membisu sepanjang jalan hingga mereka tiba sekitar satu setengah jam kemudian.
Malam harinya, Amanda diantar ke suatu tempat oleh ayahnya. Dan di pagi hari, wanita itu kembali meminta sang adik untuk mengantar ke kota.
__ADS_1
"Hati-hati. Jangan sampai lupa apa yang harus kamu lakukan, begitu bertemu dengan William." pesan sang ayah, saat ia sudah siap memakai helm.
"Iya, Pak." sahut Amanda, sebelum naik ke atas motor milik adiknya.
Meski merasa kesal dan enggan, namun siswa SMA itu tidak berani membantah ucapan sang kakak, yang terkenal galak sejak dulu.
Amanda tiba di kostnya, sekitar pukul 11.00
Ia mengistirahatkan tubuhnya sebentar, sebelum melancarkan rencana yang sudah dibuat.
"Semoga ini berhasil. Semoga apa yang dikatakan temen ayah, benar adanya." gumamnya menatap benda yang ia bawa dari kampung halaman.
Setelah membersihkan diri, ia menghubungi William dan meminta laki-laki itu datang untuk makan siang bersama.
Amanda dengan antusias menyiapkan hidangan spesial untuk calon suaminya.
William malas berdebat. Akhirnya dengan terpaksa ia menuruti permintaan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Senyum sumringah penuh kemenangan tersungging di bibir Amanda, ketika William menyanggupi untuk datang.
Dia segera menyiapkan semua, sesuai arahan sang ayah di kampung halamannya.
🌟🌟🌟
"Makasih, ya Will. Kamu mau nemenin aku makan. Kayanya anak ini memang pengen selalu deket sama ayahnya deh. Dari tadi aku paksain untuk makan, nggak bisa. Bawaannya pengen muntaaah aja, tiap kali buka bungkusan. Tapi begitu kamu datang, nggak berasa mual sama sekali." Amanda bicara sambil terus mengelus perutnya yang masih rata.
__ADS_1
William tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat tulus. Ia ikut mengusap perut Amanda perlahan.
"Sehat-sehat ya sayang, jangan rewel di dalam sana. Kasihan mama kamu, jadi nggak bisa menikmati hari-harinya."
"Iya papa, adek nggak akan nakal. Tapi papa janji temenin kita selalu ya?" Amanda mengikuti suara anak kecil, menjawab ucapan William.
Mereka berdua tertawa bersama. Selayaknya pasangan pengantin baru yang tengah menantikan kehadiran buah hatinya.
Mungkin mereka lupa, di balik tawa bahagia mereka, ada hati seorang wanita yang terkoyak namun tidak berdarah, meratap penuh pilu, namun harus terlihat baik-baik saja.
Melihat William yang masih tetap bersikap baik, Amanda bisa bernafas dengan lega.
"Semoga saja usahaku tidak sia-sia, Willi akan selamanya bersikap seperti ini terhadapku." Doanya dalam hati.
Jika hati telah dibutakan oleh ambisi, segala jalan yang ditempuh terasa halal dan boleh dilalui. Amanda lupa, waktu adalah saksi yang tidak bisa dibohongi. Apapun yang kita lakukan hari ini, akan dikembalikan pada kita suatu saat nanti.
Dan semoga saat waktu itu tiba, sudah banyak kebaikan yang ia lakukan sebagai penawar dosa, yang telah ia perbuat sepanjang hidupnya.
William tidak bisa menemaninya hingga sore. Laki-laki itu harus membereskan sisa pekerjaan, sebelum mengambil cuti untuk menikah.
"Aku balik ke kantor dulu ya, kamu jaga diri baik-baik. Jangan terlalu capek, kalau ada apa-apa kabari aku."
"Iya Will. Kamu hati-hati ya."
William membalas ucapan Amanda dengan senyuman. Lalu tanpa berkata apapun lagi, ia pergi meninggalkan kostan calon istrinya itu.
__ADS_1
Di perjalanan, laki-laki itu terus memikirkan Amanda. Entah kenapa ia menjadi khawatir, takut terjadi apa-apa, mengingat Amanda tinggal seorang diri dalam keadaan hamil muda.