
Setelah perdebatannya dengan sang ibu, Eby memilih meninggalkan rumah sakit, dan membiarkan Tama dan Karina yang menjaga Lingga di sana.
Ia ingin menenangkan diri, menjernihkan pikiran terlebih dahulu agar bisa merawat sang ayah lebih baik lagi nantinya.
Eby melajukan motornya dengan kecepatan sedang, namun pikiran semrawutnya membuat fokus wanita itu tetap terbelah, hingga tanpa sengaja ia menabrak mobil mewah di depannya saat lampu merah menyala.
"Siaal!" geramnya tertahan. Ia bersiap menerima amukan dari pemilik mobil.
Dan benar saja seorang pria berusia sekitar 35 tahun, turun mengecek bagian belakang mobilnya dan menatap tajam ke arah Eby. Laki-laki itu memberi kode agar Eby mau meminggirkan motornya.
"Maaf pak, saya tidak sengaja menabraknya," ucap Eby saat mereka sudah sama-sama berada di pinggir jalan yang cukup aman.
"Kamu pikir biaya mobil ini bisa saya bayar pakai kata maaf? Kamu tau ini mobil mewah, yang pasti biaya perawatannya juga mahal?" sahut laki-laki itu dengan wajah sangar.
Eby memerhatikan lagi mobil yang terparkir di depannya itu, ingin memastikan kerusakan yang ditimbulkan oleh ulahnya.
"Kamu harus ganti rugi. Saya tidak terima kata maaf kamu," ucap laki-laki itu lagi.
Eby malas berdebat, ia sudah sangat lelah hari ini.
"Baik, berapa saya harus mengganti rugi mobil anda?" tanya Eby akhirnya.
Lebih baik ia mengeluarkan uang, daripada berdebat dan menjadi tontonan banyak orang.
Laki-laki itu nampak berpikir.
"Dua puluh juta. Kamu harus membayar dua puluh juta untuk biaya perbaikan mobil ini. Kalau tidak, saya akan melaporkan kamu ke kantor polisi."
__ADS_1
Ebi tersenyum sinis, ia merasa diperas oleh orang yang tidak dikenalnya ini.
"Anda pikir saya bodoh? Dari mana rumusnya biaya perbaikan mobil sampai sebanyak itu, hanya karena benturan kecil yang tidak seberapa? Anda bilang ini mobil mewah, masa hanya di tabrak sedikit oleh motor butut saja sudah rusak, sih?"
"Kamu! Sudah salah, nyolot lagi! Saya tidak mau tau, tanggung jawab sekarang, atau saya urus di kantor polisi."
"Maaf pak, kalau Anda mau, saya transfer sekarang dua juta. Kalau tidak, silahkan lakukan yang Anda ingin lakukan." Tantang Eby membuat mata laki-laki itu hendak meloncat.
Dari dalam mobil, keluar seorang pria berwajah Eropa, yang usianya terlihat lebih muda dibanding pria yang mendebat Eby.
"Kenapa lama sekali? Saya sudah terlambat," ucapnya menggunakan bahasa Inggris.
Laki-laki 35 tahun itu mendekat, sepertinya dia adalah asisten pria bule tersebut.
Mereka berbicara berdua, dan tidak lama kemudian pria bule tersebut kembali masuk ke dalam mobil setelah beberapa saat sempat menatap Eby dengan seksama.
Pria 35 tahun itu menyodorkan barisan nomor di layar ponselnya.
Eby yang sempat tertegun ketika pria bule itu menatapnya, kembali ditarik paksa ke alam nyata oleh ucapan si asisten.
Tidak banyak bicara, wanita itu melakukan kewajibannya. Melalui M banking yang baru beberapa jam yang lalu ia aktifkan, Eby mentransfer uang sebesar dua juta pada laki-laki di depannya.
"Berhasil." Eby menunjukkan bukti transaksi di layar pipihnya.
Setelah itu, tanpa berkata apapun ia kembali melajukan motornya meninggalkan orang tak dikenal yang tiba-tiba menodongnya dengan sebuah perkara.
"Penampilan mewah, mobil mewah, tapi kena tabrak sedikit saja minta ganti rugi. Padahal dia mengais rejeki di sini, tapi memeras masyarakat kecil," omelnya sambil terus menyusuri kota yang semakin ramai, meski matahari sudah merangkak turun.
__ADS_1
Eby menepikan motornya saat ia tiba di sebuah pantai yang cukup terkenal di kotanya.
Belum terlalu ramai pengunjung, namun aroma masakan sudah menyapa indra penciumannya. Tapi Eby tidak peduli, ia datang bukan untuk memanjakan cacing di perutnya. Ia datang untuk menghempas segala kegundahan hatinya pada laut yang membisu.
Cukup lam Eby di sana, menikmati deburan ombak yang tidak terlalu keras, merasakan hembusan angin pantai membelai kulit dan rambutnya. Membiarkan pikirannya melayang, berkelana tanpa tujuan. Ia tidak ingin memikirkan apapun saat ini. Urat belakang lehernya terasa kaku, ia ingin mengendurkan semua sarafnya untuk sesaat.
Perlahan semburat merah di ufuk barat mulai menghilang, berganti gelap dan suhu udara yang semakin dingin. Namun Eby belum ingin beranjak pergi. Meski ketenangannya terusik dengan semakin ramainya orang berlalu lalang, ia masih betah duduk mematung menatap hamparan laut. Dari kejauhan terdengar live musik yang samar mendendangkan lagu cinta. Sudut bibir Eby terangkat.
'Mana ada cinta sejati di dunia ini? Semua hanya tipu muslihat. Hanya hasrat terselubung, hanya nafsu yang dibalut kemunafikan.' ejeknya dalam hati.
Getar ponsel di sakunya menarik Eby dari lamunan.
Ada nama Tama di sana, yang ternyata sudah beberapa kali menghubunginya.
"Iya Ma, ada apa?"
"Mba di mana? Kok lama banget? Aku sama ibu kelaparan ini, mana nggak ada motor lagi," sungut pemuda itu dari seberang telepon.
"Ooh, maaf. Mba lupa," kekeh Eby. Ia terlalu asik menikmati sepinya, hingga lupa ada kehidupan lain yang menunggunya di luar sana.
"Mau mba belikan makanan? Mumpung lagi di pantai xx," lanjut wanita itu.
"Mba ke sana? Ngapain?"
"Cari angin aja, suntuk dari kemarin. Buruan, mau dibelikan apa? Tanya ibu sekalian, mau makan apa?"
Tama mengatakan apa yang ingin ia dan Karina makan. Lalu tak lama setelah itu, sambungan telepon mereka terputus.
__ADS_1