Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 6


__ADS_3

Eby menarik nafas panjang, mencoba meraup sebanyak mungkin oksigen di udara, melonggarkan sesak yang menghimpit dadanya.


Baru saja ia keluar dari ruangan HRD, yang tiba-tiba memanggilnya. Menanyakan kebenaran, jika dirinya memilih-milih customer yang datang, dan acap kali melempar pekerjaan ke teman yang lain bila ia merasa tidak suka pada pelanggan tersebut.


Sambutan pagi yang luar biasa sekali untuk Eby hari ini. Hari baiknya ternoda oleh sebuah tuduhan palsu yang merusak citranya.


Siapa yang kurang kerjaan melakukan hal kotor seperti ini? Melaporkan dirinya ke bagian HRD, berharap ia akan dipecat, begitu?


Pengecut sekali.


Tapi ia tidak bisa gegabah menuduh seseorang.


Eby memutar otaknya keras, mencoba mengingat dengan siapa dirinya pernah bermasalah.


Mungkinkah Siska yang melaporkannya? Tapi, bukankah Siska orang pindahan? Bagaiman mungkin HRD akan percaya begitu saja pada karyawan baru, sementara dirinya sudah tiga tahun bekerja di tempat itu?


"By, ada apa? Kenapa kamu di panggil?" Tanya Ratih saat dirinya baru masuk ke ruang staf.


"Nggak ad apa-apa ... Kangen dia sama aku, pengen ngobrol santai katanya." Sahut Eby, mengerlingkan mata.


Ia enggan menceritakan apa yang dibicarakan dengan atasannya tersebut. Matanya melirik sekeliling, ingin melihat reaksi teman-temannya yang lain, adakah yang terlihat mencurigakan?


"Paling dikasih terguran. Gegara kerjaannya nggak ada yang bener." Seperti biasa Siska akan mencari gara-gara disetiap kesempatan.


Namun sayangnya tidak ada yang menanggapi ucapan wanita itu.


"Kamu ada berapa janji hari ini?" Ratih menanyakan hal lain, mengalihkan topik pembicaraan.


"Yang reservasi kemarin ada empat, tapi nggak tau nanti kalau ada tamu dadakan. Kenapa?"


Ratih mendekat ke arah Eby. Berbisik di telinga sang sahabat.


"Customer aku yang waktu ini nanyain kamu, nanti kesini lagi. Dia pengen banget ngobrol sama kamu."


Alis Eby berkerut, mencoba mengingat sosok yang diceritakan Ratih barusan.


"Nggak inget aku," ucapnya pelan.


"Ck, yang punya pabrik kaos kaki ...." Sahut Ratih gemas.

__ADS_1


"Ooo ... Yang kamu bilang ganteng itu ...." Sahutnya dengan suara keras.


Seketika mulut Eby dibekap oleh sang sahabat.


"Pelanin ngomongnya ... Mulut kok kayak toa masjid gini sih ...." Kesal Ratih, melepas bekapan tangannya.


"Sorry, sorry ... Dia mau apa sama aku?" Tanya Eby penasaran.


Ratih mengangkat bahunya tanda tidak tahu.


"Nanti tanyain langsung sama orangnya, dia mau apa."


"Memangnya jam berapa di mau ke sini?"


"Sekitar jam tiga. Nanti kalau dia datang aku kasih tahu kamu."


"Kalau pas aku pegang tamu gimana?"


"Dia siap menunggu." Sahut Ratih dengan senyum menggoda.


Eby menganggukkan kepala seraya mengatakan "ok," sebelum dirinya mengambil ponsel lalu memainkannya.


🌟🌟🌟


Ujian kesabaran Eby hari ini, bukan hanya soal pekerjaan saja. Siangnya, saat ia baru saja berniat menikmati makan siang yang terlambat, ponsel di sakunya berbunyi.


Eby menghentikan aktifitasnya, saat melihat nama 'ibu' tertera di layar pipih miliknya itu.


Tidak biasanya wanita paruh baya itu menghubunginya disaat ia sedang bekerja.


"Halo, Bu ...." Sapanya setelah menerima panggilan.


"By ...." Suara lirih ibu memanggil namanya.


"Bapak kamu, By ...."


"Bapak kenapa Bu?"


"Bapak jatuh di kamar mandi, langsung nggak sadarkan diri." Terdengar suara isakan kecil di seberang sana.

__ADS_1


Tubuh Eby melemas, tulang lututnya seolah berubah menjadi jelly, hingga tidak mampu menopang tubuhnya.


Ia terduduk, dengan jantung berdebar dan tangan yang gemetar.


"Trus sekarang bapak di mana, Bu? Nggak dibawa ke rumah sakit?"


"Ini baru sampai di rumah sakit. Ibu sama adik kamu yang tungguin di sini. Tapi ...."


Ucapan ibu menggantung, wanita itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Jangan dipikirkan, Bu. Soal biaya, biar aku yang urus. Yang penting perawatan terbaik untuk ayah, biar segera pulih." Eby mencoba menenangkan hati wanita yang melahirkannya itu.


Ia mengerti. Ibunya pasti bingung dengan biaya rumah sakit.


Meski kedua orang tuanya sama-sama bekerja, namun penghasilan mereka pasti tidak akan cukup.


Ibunya adalah seorang guru SD, sementara ayahnya pegawai camat. Sama-sama PNS dengan golongan kecil. Ayah Eby pernah mengalami struk beberapa tahun lalu, dan harus rutin cek up.


Meski mendapat tanggungan dari pemerintah, namun tetap memerlukan biaya pribadi untuk hal-hal lainnya. Sedangkan Eby juga memiliki dua adik yang saat ini masih kuliah dan SMA.


Gaji kedua orang tuanya tidak akan mampu menutupi pengeluaran mereka yang besar.


"Makasih, nak ... Maaf ibu selalu susahin kamu."


"Bu ... Jangan ngomong gitu ... Aku nggak suka dengernya. Aku nggak merasa disusahin kok sama kalian."


"Makasih, nak ...."


"Iya, Bu. Ibu juga jaga kesehatan ya ... Jangan sampai ikutan sakit."


"Iya ... Ya sudah, kamu di sana hati-hati ya ... Jaga diri baik-baik."


"Iya, Ibu ...."


Sambungan telepon jarak jauh itu pun berakhir. Eby menatap layar gelap di depannya itu dengan tatapan sendu.


Baru tiga hari yang lalu ia mengirim uang ke tanah air, untuk membeli perlengkapan rumah yang ia bangun bersama William. Dan kini ia kembali harus mengirim uang, untuk biaya pengobatan orang tuanya.


"Kuat Eby ... Semoga Tuhan dan para leluhur selalu menyertai dan memberkati setiap usahamu dalam membahagiakan keluarga." Ucapnya pada diri sendiri, sembari merangkul lutut yang beberapa saat lalu lemas selayaknya jelly.

__ADS_1


__ADS_2