
Hidup yang Eby jalani tiga bulan belakangan ini, begitu datar dan tanpa warna. Namun Eby begitu betah dengan dunia barunya itu. Ia seolah tidak terusik sedikit pun oleh apapun yang terjadi di sekitarnya.
Senyum selalu mengembang menghiasi wajah mungilnya, setiap kali ia menginjakkan kaki di tempatnya bekerja. Ia tidak peduli seperti apa orang lain memandangnya. Yang ia fokuskan adalah bagaimana menjalankan kewajibannya dengan baik, semaksimal yang ia bisa.
Ia tahu banyak pandangan sinis yang selalu mengawasi gerak geriknya. Terlebih setelah perdebatan yang terjadi antara dia dengan pimpinan hotel beberapa waktu lalu, ia sadar pekerjaannya bisa hilang kapan saja, bila ia melakukan kesalahan. Oleh karena itu, Eby berusaha memberikan yang terbaik agar tidak ada celah bagi orang lain untuk menjatuhkannya.
Kesepian kah Eby saat tidak ada satu orang pun yang bersikap ramah terhadapnya di tempat kerja?
Tentu tidak. Wanita itu sudah terbiasa menghadapi kepahitan dalam hidup. Tidak ada lagi baper atau over thinking yang mengganggu jiwanya, sebab ia sudah kebal dengan segala penolakan, nyinyiran, bahkan gunjingan yang menghampiri kehidupannya.
"By, kamu lembur, gantiin Sarah yang nggak masuk kerja hari ini," ucap rekan satu shift-nya, tanpa meminta persetujuan wanita itu.
"Memangnya dia kenapa?" tanya Eby, tidak langsung mengiyakan permintaan temannya.
"Mana aku tau, memang aku emaknya?" sahut ketus wanita dengan name tag Stella itu.
__ADS_1
"Kalau nggak ada alasan pasti, sorry aku nggak bisa," jawab Eby tegas. Ia masih fokus menatap layar komputer, memasukkan data tamu yang baru melakukan reservasi melalui aplikasi online.
"Heh, kamu tuh anak baru ya di sini! Nggak usah sok, deh. Masih syukur kami baik selama ini sama kamu. Jangan mentang-mentang kamu karyawan titipan di sini, lalu berani menentang kami sebagai senior kamu!" Stella dengan kasar membalik kursi yang Eby gunakan, menatap manik wanita itu dengan nyalang.
Eby tersenyum tipis, membalas tatapan sengit lawan bicaranya yang jumawa berkacak pinggang di depannya.
"Kalau aku berani, kamu mau apa? Mau melaporkan aku? Silahkan!" tantang Eby tak gentar sedikit pun.
Bersyukur saat itu suasana di sana dalam keadaan sepi, sehingga perdebatan dua staf penting di hotel tersebut tidak menjadi tontonan tamu hotel.
Eby tidak peduli, ia melanjutkan pekerjaannya hingga jam kerjanya selesai, kemudian pulang tanpa peduli sindiran-sindiran dari rekan kerjanya. Ia membiarkan Stella yang menggantikan tugas Sarah sore itu.
🌟🌟🌟
Sementara itu, di salah satu ruangan, seseorang tengah mengawasi Eby melalui layar cctv. Mata kelam laki-laki pendiam itu terus menatap gerak-geriknya, dengan senyum tipis yang tertahan.
__ADS_1
Karakter Eby yang tangguh, berani, dan cerdas membuat laki-laki berkebangsaan Turki itu menaruh perhatian lebih pada karyawan baru yang bekerja di bawah naungannya.
Murat Kahraman adalah nama pria yang menjabat sebagai GM di hotel tersebut. Ia sudah memperhatikan Eby sejak pertama kali melihatnya terjatuh di depan pintu utama hotel, yang membuat id card Eby tertinggal.
Merasa tidak asing dengan wajah menantang Eby, Murat kembali menggali memorinya, mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan wanita itu.
Dan ingatannya tertuju pada kejadian beberapa waktu lalu, ketika seseorang menabrak mobil yang membawanya ke satu pertemuan di luar kota.
Murat yang sebelumnya tidak pernah tertarik dengan wanita pribumi, kini justru merasa imannya sedikit goyah saat ia bertemu dengan Eby.
Wanita itu tidak terlalu tertarik padanya, tidak seperti kebanyakan pegawai yang ditemuinya, yang selalu memandangnya penuh kekaguman.
Ia diam-diam terus memerhatikan Eby. Ia juga tahu apa saja yang wanita itu alami selama beberapa bulan ini. Namun melihat Eby tidak terlalu peduli dengan perundungan yang dialaminya, Murat pun hanya mengawasinya dari jauh.
Murat belum menemukn cara untuk mendekati Eby, yang terlihat tidak memerlukan laki-laki dalam hidupnya.
__ADS_1
"Meski tidak ikhlas, namun harus aku akui kamu memiliki pesona yang staf lain tidak miliki," gumam Murat sebelum beranjak pergi.