Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 58


__ADS_3

Hari sudah gelap ketika Eby tiba di kamar dengan luas 3x3 meter itu. Ia langsung menghempaskan tubuhnya pada matras single yang menjadi saksi perjuangannya, bertahan hidup dalam kesendirian. Ia memejamkan mata, menikmati denyut sakit yang dialami beberapa anggota tubuhnya. Persendiannya seperti remuk, setiap kali ia mendapat customer bule Eropa yang memiliki tubuh tinggi dan besar.


Iya, Eby memanfaatkan ketrampilannya memijat, dengan menerima home service massage. Dan dari sekian banyak pelanggan, ada beberapa tamu Eropa yang menggunakan jasanya.


Dering ponsel dari dalam tas, memaksa mata wanita itu terbuka kembali. Dengan sedikit meringis ia bangkit, merogoh ponsel yang masih betah mengusik ketenangannya.


Tampak nama Ratih di sana. Eby segera menggeser tanda telepon berwarna hijau di layar pipih itu.


"Halo," sapanya dengan suara lemah.


"Ish, kok lemes gitu sih!" gerutu suara dari seberang.


"Capek aku, baru pulang ambil customer," keluh Eby.


"Ya udah matiin kalau gitu. Sorry ganggu," sahut Ratih.


"Jangan ...!" Eby mencegah sahabatnya memutus panggilan. Ia mengalihkan panggilan biasa ke video, lalu menyandarkan ponselnya pada guling.


"Mukamu, By, kayak orang sakit tahunan," ejek Ratih saat melihat Eby dengan wajah lesu dan rambut berantakan.


"Sialan! Aku belum mandi, tau! Coba kalau udah mandi, Aishwarya Rai minder liat aku," sahutnya dengan mata terpejam lagi.


"Adeeeh, modelan begini minta ngalahin bintang Bolywood. Banguuun, mimpimu kesiangan," ketus Ratih dengan wajah jijik. Eby tertawa mendengar ucapan sahabatnya.


"By," raut wajah Ratih nampak berubah serius.


"Hmmm,"


"Ish! Buka dulu matanya! Aku mau ngomong serius!" kesal wanita itu.

__ADS_1


"Ngomong apa?" tanya Eby.


"By, mmm kalau aku nikah sama orang sini, gimana?" Sedikit ragu, Ratih mengutarakan niatnya.


Mata Eby terbuka lebar, dan segera bangkit memperbaiki posisi duduknya.


"Kamu pacaran sama orang Turki?!" tanyanya dengan suara keras, tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.


Ratih tidak menjawab, hanya tersenyum kuda menanggapi pertanyaan Eby.


"Sejak kapan? Apa aku tau orangnya?" cecar wanita itu lagi.


Ratih mengangguk. Kayanya kamu tau, By. Tapi mungkin lupa."


"Kok bisa?" Eby masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Rasanya baru kemarin Ratih patah hati karena pengkhianatan Angga. Lalu sekarang, wanita itu sudah tersenyum ceria menjelaskan statusnya, menjalin hubungan dengan seseorang, berbeda negara pula.


"Dia yang bisa menyembuhkan luka hatiku, By. Dia yang bisa membuat aku percaya lagi pada laki-laki," ucap Ratih dengan senyum bahagia. Wajahnya merona saat mengatakan hal manis tentang pujaan hatinya itu.


"Ya kamu yang jalanin sih, kamu yang lebih paham tentang diri kamu sendiri," ucap Eby akhirnya. Ia tidak ingin mematahkan hati sahabatnya, dengan mengatakan jika dirinya kurang setuju bila Ratih menjalin hubungan dengan orang luar.


Jika ditanya apakah dia setuju dengan hubungan beda budaya dan agama, tentu jawabannya tidak, sebab ia percaya tidak seharusnya perasaan terhadap manusia, mengalahkan keyakinannya terhadap Tuhan yang selama ini ia sembah.


"Tapi menurut kamu, gimana?" desak Ratih lagi, merasa kurang puas dengan jawaban Eby.


"Masing-masing orang beda-beda, Tih. Kalau kamu nanya aku, tentu aku akan bilang nggak setuju. Kamu tau alasannya apa, kan? Tapi kembali lagi, yang punya rasa itu, kamu. Yang tau segala resikonya juga kamu. Sekarang yang terpenting, apakah kamu bahagia menjalaninya? Apakah kamu yakin sama pilihan kamu?"


"Aku sih yakin, By. Tapi aku nggak tau gimana reaksi keluarga aku nanti kalau kami datang." Ratih menjawab dengan sendu. Binar matanya kini meredup, saat membayangkan reaksi penolakan dari keluarga besarnya.


"Ya sudah kalau kamu sudah yakin. Aku sebagai sahabat hanya bisa mendoakan, semoga ini adalah pilihan terbaik kamu. Dan jangan menyesal dengan keputusan yang sudah kamu ambil. Soal keluarga kamu, pelan-pelan kamu jelasin ke mereka. Kalau perlu dari sekarang kamu beritahu, biar nanti mereka nggak kaget. Memangnya kalian udah ada rencana untuk pulang?" tanya Eby lagi.

__ADS_1


Ratih mengangguk. Ia lalu menunjukkan beberapa koper yang sudah nampak rapi.


"Aku lagi nunggu dijemput sama dia, By. Rencananya kami berangkat nanti malam," ucap Ratih dengan tersenyum manis.


Namun berbeda dengan Eby, wanita itu nampak terkejut dengan apa yang ia lihat.


"Kamu udah mau ke Indo, dan baru cerita sama aku sekarang? Sialan kamu, Tih!" kesal Eby.


"Hehehe maaf, By. Aku nggak enak recokin kamu. Aku tau kamu banyak masalah belakangan ini."


Eby tidak menanggapi ucapan sahabatnya. Ia diam dan tidak mau menatap ponselnya.


"Jangan marah donk, By. Aku minta maaf. Kan aku udh bilang, sekarang," bujuk Ratih dengan wajah memelas.


"Nanti pas sampai, aku akan temuin kamu, aku janji bakal ceritain semuanya. Tapi sekarang jangan marah, donk ...."


Eby memutar bola matanya malas. Kembali menoleh ke arah ponsel, namun dengan wajah ditekuk.


"Ya udah, besok kalau udah sampai, jangan lupa kabarin. Nginep di sini beberapa hari," ucap Eby akhirnya.


"Iyaaa, dia juga mau jalan-jalan katanya. Kami di Indo lumayan lama, kok." Ratih kembali tersenyum manis, karena Eby sudah memaafkannya.


"Udah dulu ya, By. Aku mau siap-sip dulu," pamit Ratih dari seberang.


"Ya sudah, hati-hati ya ... Semoga lancar perjalanannya."


Eby melambaikan tangan sebelum layar ponselnya kembali gelap.


Wanita itu mendessah, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.

__ADS_1


Banyak kisah hidup yang menari dalam ingatannya, seolah mengejek kesendirian yang menemaninya kini.


__ADS_2