Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 50


__ADS_3

Eby terus memikirkan ucapan Lingga. Namun ia tidak bisa menerima saran ayahnya untuk memasrahkan semua. Ia tidak ingin kehangatan keluarganya hilang. Ia berharap bisa memperbaiki semua, dan semua kembali seperti dulu.


Tapi bagaimana caranya? Masing-masing diantara mereka seolah menyimpan kegundahannya sendiri. Menampilkan senyum palsu seolah semua baik-baik saja.


"Aku tau mba, aku juga sependapat dengan ayah. Om Angga punya hati sama ibu. Tapi yaa, mau bagaimana lagi? Ibu seolah menutup mata dan telinga dengan gosip di luar sana. Ibu nggak perduli," ucap Tama, saat Eby menghubunginya dan menanyakan kebenaran ucapan Lingga.


"Sebenarnya aku udah pernah ngomong sama ibu, Mba. Tapi berakhir dengan kami bertengkar. Ya sudah setelah itu, aku nggak mau lagi membahasnya. Terlebih selama ini biaya apa-apa, ibu yang urus semuanya. Aku dilema, mba. Aku juga nggak mau ayah jadi terus kepikiran. Kalau aku sama ibu sering berdebat, pasti ayah dengar, kan? Soal Elin juga, mana mau ibu mendengar ucapanku? Buat dia Elin itu selalu benar. Kalaupun salah, pasti akan selalu dibela. Itu mangkanya aku sebenarnya malas pulang. Kalau nggak karena masih kuliah dan perlu biaya, dan kepikiran sama ayah juga, rasanya lebih baik aku nggak pulang."


"Kenapa kamu nggak pernah cerita sama mba? Mba seperti orang bodoh yang nggak tau apa-apa di rumah ini, tau nggak?!"


"Aku juga bingung mau cerita sama mba. Mba Eby masih punya masalah pribadi yang harus mba selesaikan. Masa ia aku harus menumpuknya dengan masalah lama yang tidak ada ujung pangkalnya ini?" sahut Tama memberi alasan.


Dalam hati Eby membenarkan ucapan adik laki-lakinya itu. Kepulangannya langsung disambut masalah pelik percintaannya. Apa jadinya jika saat itu ia dijejali lagi dengan masalah keluarga?


"Lalu sekarang kita harus gimana, Ma?" tanya Eby akhirnya.


"Mba maunya gimana?" Tama membalik pertanyaan itu pada Eby.


"Lho kok mba? Kita donk! Kamu nggak mau rumah kita sehangat dulu lagi?" sahut Eby dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Semua sudah berubah, mba. Mau bagaimana lagi? Kita tidak bisa terpaku dengan masa lalu kan? Dulu aku sudah pernah mencoba, dan ternyata aku gagal. Mangkanya sekarang aku fokus sama kuliah aku, biar bisa cepet lulus, dan cepet dapet kerja. Setelah nanti aku sudah punya penghasilan, aku ingin punya rumah sendiri dan membawa ayah bersamaku. Itu saja."


Eby kembali dibuat dilema. Salah ia berdiskusi dengan Tama. Ternyata adik laki-lakinya itu tidak sepemikiran dengannya.


"Mba, mba Eby juga harus memikirkan diri mba kedepannya. Jangan terlalu dipikirkan apa yang terjadi di rumah. Toh pada akhirnya kita memang harus berjalan sendiri-sendiri kan?"


Eby tertawa sinis.


"Se-enggak perduli itu kamu sama keluarga ini, Ma?"


"Bukan nggak perduli, Mba. Hanya mencoba menerima kenyataan. Kalau dibilang nggak perduli, siapa yang lebih nggak perduli di sini? Kita sebagai anak? Atau ibu, yang terlalu kaku menganggap apa yang ia lakukan selalu benar?"


Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah ikut pasrah seperti Tama dan Lingga?


🌟🌟🌟


Waktu terus berlalu, beberapa kali Eby mencoba berbicara pada ibunya mengenai masalah yang saat ini keluarganya hadapi. Namun seperti yang diucapkan Tama, ibunya terlalu angkuh untuk mau introspeksi diri.


Dan hari ini, kembali mereka berdebat karena hal yang serupa.

__ADS_1


"Bagi ibu tidak ada yang berubah di rumah ini. Ibu masih tetap wanita yang sama, yang berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga. Semua tergantung kalian menerima seperti apa. Ibu hanya manusia biasa, ibu tidak bisa memenuhi ekspektasi kalian semua, karena ibu bukan robot yang harus bersikap sesuai keinginan orang lain. Masalah Angga, ibu sudah jelaskan berulang kali sama ayah kamu, kalau kami tidak pernah berbuat curang di belakangnya. Dia murni hanya seorang ipar yang bisa ibu jadikan teman sharing yang baik. Kenapa harus memikirkan omongan orang? Apakah kesulitan kita selama ini, dibantu oleh mulut-mulut tetangga? Nggak! Yang ada saat kita kesusahan, adalah keluarga, termasuk om Angga. Apa pantas ayah kamu menuduhnya sebagai perebut? Soal Elin, ibu akui ibu salah terlalu memanjakannya. Tapi bukan berarti dia salah pergaulan sampai melewati batas. Sesekali berbohong, bukan sesuatu yang harus dibesar-besarkan, bukan? Dia hanya seorang remaja yang masih ingin mencoba banyak hal. Dan dia sudah berjanji untuk berubah. Jadi ibu mohon, biarkan Elin menjalani kehidupan masa remajanya seperti anak-anak lain. Bermain, bersenang-senang, disela kesibukan belajarnya. Maaf By, meski selama ini kamu banyak membantu keluarga ini dari segi finansial, tapi ibu nggak mau anak-anak ibu terlalu menunjukkan diri merasa lebih hebat dari yang lain."


Ucapan Karina bagai tamparan keras untuk Eby.


"Jadi selama ini, ibu menganggap aku sok berkuasa di rumah ini? Begitu?" tanya Eby tersulut emosi.


"Ibu nggak bilang begitu,"


"Lalu apa? Ucapan ibu barusan itu, apa maksudnya?!" suara Eby meninggi di hadapan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ya kamu merasa tidak? Kalau selama ini, kamu ingin mengubah setiap kebiasaan di rumah ini? Kamu ingin Elin tunduk sama kamu, seperti halnya Tama yang selalu patuh dengan semua ucapanmu!"


"Tama patuh, karena dia mengerti kalau apa yang aku katakan itu benar, dan demi kebaikan dia, Bu!"


"Tapi bukan berarti Elin salah jika tidak sependapat dengan cara berpikirmu!"


Suara Karina tidak kalah tinggi, menyambar setiap kata yang keluar dari mulut Eby.


Ruang tengah di rumah itu memanas. Namun seketika keduanya berhenti berdebat, saat mendengar sesuatu pecah dari arah kamar Karina.

__ADS_1


Mereka lupa, ada Lingga di dalam sana, yang mendengar pertengkaran itu dengan berurai air mata.


__ADS_2