Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 25


__ADS_3

"Ma, bangun ... Jadi anter Mba nggak nih?" Eby berulang kali mengetuk pintu kamar milik sang adik, namun pemuda itu tidak kunjung menjawab panggilannya.


"By, ada apa? Mau kemana? Kok sudah rapi?" Karina yang baru keluar dari kamarnya merasa heran, anak sulungnya sudah mengenakan celana jins panjang dengan jaket serupa membungkus tubuhnya, padahal jam baru menunjuk angka enam.


"Eh, ini Bu. Aku sama Tama mau pergi, ke rumah temen."


"Temen yang mana? Kok pagi sekali harus berangkat?"


"Temen di luar kota, Bu. Dia mau nikah hari ini, jadi aku minta Tama untuk nemenin."


Wajah Karina menegang beberapa saat.


"Temen? Menikah? Siapa By?"


"Ada Bu, temen kerja di luar. Dia pulang lebih awal, karena mau nikah. Kebetulan aku di rumah, ya ... aku ke sana."


"Ooh. Sama Tama aja?"


"Iya Bu. Biar ada temen."


"Ya sudah, hati-hati. Nanti sebelum berangkat, sarapan dulu. Ibu buatkan nasi goreng." ucap Karina, menuju dapur.


Eby menutupi kemana tujuan sebenarnya ia pergi. Ia tidak ingin sang ibu khawatir. Ia berniat membereskan semua masalahnya sendiri, baru setelah itu ia akan menceritakan semuanya.


Awalnya bahkan wanita itu tidak ingin melibatkan Tama, namun sang adik bersikeras ingin menemaninya.


"Aku ikut, atau mba nggak ke sana sama sekali!" Tegasnya kemarin saat mereka membahas masalah William.


Eby dan Tama bahkan di pantai sampai larut malam. Tempat itu menjadi pilihan yang tepat untuk membahas masalah yang saat ini Eby hadapi. Sebab jika di rumah, ia takut kedua orang tuanya mendengar, dan jadi memikirkan dirinya terlalu berlebihan.


"Ma ... Udah siang iniii, nanti telat, gimana?"

__ADS_1


Eby yang semula bersandar di tembok samping pintu, kembali melanjutkan niatnya membangunkan Tama, dengan menggedor pintu kamar adiknya lebih keras.


"Sabaaar Mba. Aku denger ...." Dari dalam kamar, Tama menyahut.


"Cepetan, aku tunggu di dapur." Kemudian, tanpa menunggu jawaban adiknya, Eby menyusul Karina yang tengah memanaskan air untuk membuat kopi.


🌟🌟🌟


"Mba yakin ngelakuin ini?" tanya Tama memecah keheningan.


Motor yang dikendarainya melaju dengan kecepatan sedang.


Saat ini mereka dalam perjalanan menuju rumah orang tua William, dimana resepsi pernikahan William dan Amanda akan digelar.


"Yakin, Ma."


"Janji yaaa, jangan nangis di sana,"


"Iyaaaa, ngapain mba nangis? Meski hati mba hancur dibuatnya, nggak akan mba tunjukkan di depan dia." sahut Eby.


"Mbakku memang tangguh. Musuh memang nggak boleh tau kelemahan kita. Mmm mbaau ke salon dulu, nggak? Untuk menyempurnakan penampilan, biar dia nyesel udah khianati mba." ucap Tama.


"Nggak lah, untuk apa? Tampil begini aja, mba yakin kok lebih segalanya dari istrinya." ucapnya membuat Tama terkekeh.


Melewati jalanan menanjak, pedesaan dengan pandangan kebun jeruk, pikiran Eby menerawang jauh, mengenang perjalanan cinta yang ia lalui bersama William.


Laki-laki yang dulu begitu mencintainya, memanjakannya, dan menjadi laki-laki terbaik yang pernah Eby kenal.


Tapi ternyata waktu dan jarak bisa merubah seseorang, menjadi orang yang berbeda.


Kalau dipikir lagi, Eby tidak bisa sepenuhnya menyalahkan William dalam masalah ini.

__ADS_1


Ada andil dirinya, kenapa semua ini bisa terjadi. Andai ia tidak terlalu berambisi, mungkin hubungan mereka masih baik-baik saja hingga kini. Bahkan besar kemungkinan mereka sudah menikah. Namun karena keinginan Eby yang ingin memperbaiki ekonomi keluarga terlebih dahulu, ia terpaksa harus berjauhan dengan kekasihnya itu.


Tapi, kenapa Willi tidak pernah protes dengan setiap keputusannya?


Ia jadi ingat ucapan Mahira dulu. Ternyata sahabatnya benar, sikap Willi yang begitu sabar, bukan karena dia memang benar-benar sabar, namun karena di sini dia sudah menemukan sosok lain yang bisa memberinya kebahagiaan.


"Mba!"


Tama menepuk lutut Eby, membuat wanita itu terkejut.


"Ada apa, Ma?"


"Mba lagi mikirin apa sih? Dari tadi aku ajak ngobrol, nggak nyaut?"


"Aah, enggak ... Mba nggak mikirin apa-apa. Emang kamu ngomong apa tadi?"


"Nggak jadi,"


"Ngambek, nih? Ya udah," Eby tidak membujuk sang adik untuk mengulang pertanyaannya. Ia hanya mengeratkan pelukan di pinggang pemuda itu dan meletakkan dagunya di bahu Tama.


"Jadi cowok itu, jangan suka ngambek. Jarang lho ada cewek yang mau sama cowok kayak gitu," goda Eby di telinga adiknya.


"Apaan sih, Mba. Orang aku nggak ngambek." bantah Tama.


"Iya deh percaya ...." sahut Eby dengan bibir mencebik.


Tama yang melihat itu dari kaca spion, merasa jengah.


"Nggak usah gitu banget ngaku percayanya, nyebelin banget itu muka." sungut Tama, membuat Eby tertawa kencang.


Eby memang terluka, hatinya hancur karena pengkhianatan dan penipuan William, namun dia tidak ingin Tama atau pun yang lain tahu, seberapa besar luka menganga yang laki-laki itu ciptakan di hatinya.

__ADS_1


Ia tetap menunjukkan jika dirinya adalah wanita keras yang tidak mudah tersakiti.


Cukup sekali ia menunjukkan tangis pilu di hadapan sang adik. Setelah ini, ia akan memendam lukanya seorang diri.


__ADS_2