Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 76


__ADS_3

Suasana canggung masih menyelimuti keduanya, hingga mobil sudah hampir mencapai tujuan akhir perjalanan mereka. Di luar, langit perlahan gelap. Sinar matahari sudah berpamitan pada bumi untuk kembali ke peraduan. Murat melirik ke arah Eby, memastikan apakah wanita di sampingnya baik-baik saja. Di saat bersamaan, hal yang sama pun Eby lakukan, membuat pandangan mereka beradu beberapa saat.


"Kenapa?"


"Ada apa?" Ucap mereka bersamaan. Keduanya pun terkekeh, merasa lucu dengan apa yang terjadi.


"Aku kira kamu pingsan, soalnya sejak tadi tidak ada suara." Murat kembali bicara.


Eby mengulang lirikannya ke arah Murat, kali ini dengan raut sinis di wajahnya. Merasa kesal sebab Murat tidak pernah bosan meledeknya. Wanita itu kehilangan selera untuk bicara, karena ulah laki-laki di sampingnya.


Laju mobil Murat melambat, saat memasuki jalan kecil ber paving. Mata Eby liar memindai sekeliling, tapi ia tidak dapat melihat apapun. Hanya tampak gelap, membuatnya mendesah kecewa.


"Besok kita jalan-jalan kalau cuaca mendukung. Biar puas melihat keindahan alam di sini," ucap Murat, seolah mengerti isi hati Eby.


"Jam berapa kita kembali besok?" tanya Eby.


"Terserah kamu, kalau mau lebih lama lagi pun tidak masalah. Anggap saja kita sedang berbulan madu," sahut Murat sembari memainkan matanya.


"Ck." Eby menyilangkan tangan ke depan. Wajahnya semakin tertekuk. Namun sedetik kemudian dia kembali menoleh, " kamu pesan dua tenda, kan?" tanyanya curiga. Entah kenapa ia baru terpikirkan hal itu, kini.


"Untuk apa? Satu tenda kan cukup untuk kita berdua. Lagi pula di sini dingin, pasti akan lebih enak kalau kita menghabiskan malam berdua," sahut Murat dengan wajah yang tidak tertebak.


Mata Eby membola. Ia benar-benar lupa memastikan hal sepenting ini sebelumnya.


"Jangan gila kamu!" sentaknya antara marah dan panik.


Banyak masalah yang terjadi, membuat kerja otaknya melambat. Ia sama sekali tidak sadar telah melakukan kesalahan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Bukankah hal wajar jika kita menghabiskan malam bersama? Kita sudah sama-sama dewasa!" Murat masih terus mengutarakan keinginannya.


Disaat bersamaan, mereka tiba di tempat tujuan. Dua orang staf menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


Eby berniat memesan satu tenda lagi untuk dirinya sendiri, tapi sayangnya semua tenda penuh sehingga ia hanya bisa mendesah pasrah.


"Sudah, jangan dipikirkan. Toh, kita hanya tidur, kan? Tidak melakukan hal lebih," ucap Murat santai.


Eby mengabaikan ucapan Murat. Ia berlalu begitu saja, meraih barang bawaannya mengikuti langkah staf yang menarik koper mereka.


"Selamat beristirahat, Mba. Semoga betah ya," ucap salah satu staf glamping tersebut sebelum undur diri. Eby tersenyum, dan mengucapkan terima kasih pada staf yang mengantarnya itu.


Duduk di atas kasur dengan sprei putih, Eby mengamati sekeliling ruangan tempatnya akan menghabiskan malam.


Tenda itu cukup nyaman. Terdapat penghangat ruangan kecil di sudutnya. Ada pula lemari kayu berbentuk persegi dengan 4 sekat di dalamnya, untuk menyimpan barang pribadi. Beberapa perlengkapan seperti hair dryer, colokan tambahan, teko penghangat air, brangkas kecil untuk dokumen penting, juga ada di salah satu ruang lemari tersebut.


Eby menoleh. Kembali kesal karena melihat Murat nampak melongokkan kepalnya ke dalam tenda. Ia jadi ingat harus berbagi kamar dengan laki-laki itu malam ini.


"Kita kan mau barbeque-an, ayo keluar!" titah laki-laki itu lagi sebab Eby tidak langsung menjawab.


"Bawa kopi instan yang kamu beli ya, aku sudah panaskan air." Tanpa menunggu jawaban Eby, Murat berlalu meninggalkan wanita bertubuh mungil itu, yang masih nampak bingung.


Di mana laki-laki berjambang itu menghangatkan air? Bukankah sejak tadi ia belum masuk ke dalam tenda? Oh iya, koper Murat pun tidak ada di dalam. Staf satunya kemana tadi membawa koper atasannya itu?


Banyak tanya bersarang di kepalanya. Ia keluar untuk mencari tahu, sekaligus menuruti perintah Murat untuk membawa kopi kemasan, dan juga beberapa camilan.


"Eby, sini!" Murat memanggilnya.

__ADS_1


Ditemani satu orang yang nampak samar dari tempatnya berdiri, Murat sudah menyiapkan api unggun dan juga perlengkapan barbeque.


"Apa kamu lelah?" tanya Murat lagi saat Eby sudah mendekat.


Eby menggeleng. Ia menyerahkan kopi yang dibawa, sebab tidak tahu di mana harus menyeduhnya.


Murat nampak berbincang dengan seseorang, dengan pakaian yang sama dengan staf di tempat tersebut. Tidak berselang lama pemuda dengan kulit kemerahan itu berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Tunggu sebentar ya, gelasnya masih diambilkan." Murat berbicara sambil terus membolak balikkan sosis yang belum matang.


Eby tidak menjawab. Ia berlalu menuju api unggun, membawa serta camilannya. Sejenak ia menjulurkan tangannya mendekat ke arah api.


Meski sudah mengenakan celana panjang, jaket tebal, scarf, serta topi, rasa dingin masih saja berhasil masuk menusuk tulang Eby.


"Ini." Dari arah belakang, Murat mengulurkan sosis yang sudah dibakar kepada Eby. Wanita itu mengambilnya masih dengan mulut terkunci. Ia masih kesal dengan kelakuan Murat, tapi untuk protes ia juga tidak bisa.


Tidak lama setelah itu, Murat kembali. Kali ini dengan gelas karton di tangannya. Tidak langsung pergi, ia memilih duduk di samping Eby, setelah berhasil menyerahkan gelas berisi kopi panas pada wanita itu.


"Jangan marah, aku hanya bercanda tadi. Tenda kita berbeda kok. Aku tidak mungkin lancang memutuskan satu tenda dengan kamu," ucap Murat saat menyadari sejak tadi Eby tidak mengatakan apapun.


Eby menoleh, menatap tidak suka pada Murat yang duduk di sampingnya.


"Kenapa kamu suka sekali membuatku kesal?" tanyanya.


Murat tersenyum, "Sebab aku selalu suka melihat ekspresi wajah kmu kalau lagi merajuk."


"Dasar aneh," sahut Eby memalingkan wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2