Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 52


__ADS_3

Lingga langsung mendapat penanganan medis, begitu tiba di rumah sakit.


Dokter yang biasa menanganinya pun melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada Lingga, dan hasilnya adalah Lingga mengalami stroke akibat pecah pembuluh darah di otaknya.


Ia harus menjalani beberapa tindakan medis, untuk memulihkan keadaannya. Dan itu memakan biaya cukup besar.


Bersyukur, disaat darurat seperti ini Eby masih memiliki uang tabungan, sehingga bisa memberi pengobatan semaksimal mungkin pada sang ayah.


Meski sempat berdebat dengan Karina, yang ingin Lingga menggunakan BPJS, sementara Eby ingin memakai biaya pribadi, agar Lingga mendapat penanganan maksimal, namun Eby akhirnya memutuskan dengan tegas langkah apa yang harus dilakukan untuk ayahnya.


"Cukup ibu rawat ayah sebaik mungkin. Jangan pikirkan soal biaya, biar aku yang mengurusnya," ucap wanita itu tidak ingin dibantah.


Karina pun hanya bisa mendesah lelah. "Terserah kamu saja," sahut wanita itu akhirnya.


Eby menemani Lingga melewati tahap demi tahap pemeriksaan. Masuk ke satu ruang, menuju ruangan lain, tanpa mengenal lelah.


"Bu, aku sama Tama mau pergi dulu. Ibu bisa kan menjaga ayah sendiri?" Pamit Eby di satu pagi.


Karina hanya mengangguk, tanpa bertanya sang putri mau pergi kemana dan untuk apa.


Dan di sinilah wanita itu sekarang. Setelah menempuh dua setengah jam perjalanan, ia dan Tama tiba di sebuah kafe, tidak jauh dari tempatnya bekerja dulu. Menemui seorang wanita cantik yang dulu begitu dekat dengannya.


"Apa kabar, By?" Wanita itu menyambut kedatangan Eby dan Tama dengan senyum cerah, seperti bertemu sahabat yang sudah lama berpisah. Namun sayangnya baik Eby maupun Tama seolah membangun tembok yang tinggi diantara mereka.

__ADS_1


"Baik, mbak," sahut Eby dengan senyum kaku.


"Ayo duduk dulu, mba udah pesankan minuman untuk kamu. Tama juga, ayo silahkan." Wanita cantik itu mempersilahkan Eby dan Tama untuk duduk.


"Maaf mba, aku nggak bisa lama. Ayah lagi dirawat di rumah sakit, aku buru-buru." Eby menjelaskan keadaannya saat ini, agar wanita yang ternyata adalah kakak perempuan William itu tidak terlalu banyak berbasa-basi dengannya.


"Padahal mba ingin bercerita banyak sama kamu lho, By. Ada banyak hal tidak terduga di luar nalar, yang menimpa keluarga kami. Terutama Willi. Saat ini kami sedang berusaha menyembuhkan dia dari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Kamu tau, By? Willi seperti orang linglung, sekarang. Dia layaknya badut yang ikut kemanapun wanita licik itu pergi. Menuruti semua ucapan istrinya, dan tatapan mata Willi selalu kosong, By." Dengan wajah sedih, wanita itu bercerita.


Eby tidak menanggapi cerita mantan calon kakak iparnya itu. Ia masih merasakan sakit dan kecewa, setiap kali mengingat apa yang sudah Wili lakukan terhadapnya.


"Maaf mba, kayanya bukan tempat yang tepat deh mba curhat sama kakakku. Kami kemari tidak untuk mendengar keluh kesah mba di sini. Seperti yang mba janjikan di telepon, kami datang hanya untuk mengambil apa yang menjadi haknya mba Eby. Bukan aku tidak simpati dengan keadaan keluarga kalian, tapi aku rasa, bukan hak kami untuk tau dan berkomentar mengenai masalah yang kalian hadapi." Tama dengan suara tegas membungkam wanita di depannya itu.


Eby pun mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan adiknya. Ia sudah tak ingin tau apa yang terjadi dengan hidup mantan kekasihnya itu.


Akhirnya, dengan wajah kecewa dan sedih, kakak perempuan William itu mengeluarkan amplop berwarna coklat dari dalam tasnya, lalu menyerahkan pada Eby.


Eby memeriksa, memastikan isi di dalamnya. Dan setelah dirasa sesuai, mereka pun segera berpamitan.


"Makasih banyak ya mba, maaf kalau aku merepotkan. Salam sama bapak sama ibu, semoga kalian sehat dan kuat selalu." Eby bangkit dan memeluk wanita di hadapannya itu setelah menyimpan uang di dalam tasnya.


"Sekali lagi aku minta maaf atas nama keluargaku ya By, maaf karena sudah membuat kamu terluka. Maaf mba gagal menjaga Willi, hingga dia berbuat curang di belakangmu."


"Semua sudah berlalu, mba. Jangan diingat lagi. Aku pamit ya," Eby melepas pelukannya lalu pergi meninggalkan kafe tersebut bersama Tama yang mengekor di belakangnya.

__ADS_1


"Aneh ya mba, jaman udah canggih, segala sesuatu bisa pakai mesin, dia malah mau-maunya bawa uang tunai sebanyak itu, kenapa nggak ditransfer aja?" gerutu Tama saat keluar dari kafe.


"Entah lah, mungkin ini alasan dia aja, biar kita mau bertemu. Mungkin dia pengen kasih tau mba, soal keluarganya. Kalau kita nggak punya kepentingan, nggak mungkin mba mau ketemu sama dia lagi, kan?" sahut Eby mencoba menerka alasan wanita yang ditemuinya barusan.


Ia memang tidak ada masalah dengan wanita itu, tapi apapun yang menyangkut William, ia ingin menghindarinya. Ia masih terluka, masih belum bisa sepenuhnya ikhlas.


"Bisa jadi sih, mba," sahut Tama setuju.


Hening beberapa saat. Motor Tama melaju membelah jalanan, tanpa ada satupun diantara mereka membuka suara.


Hingga tiba di lampu merah, barulah Eby meminta sang adik untuk mengantarnya ke hotel tempatnya bekerja dulu.


"Ma, kita mampir ke tempat kerja mba yang dulu, ya? Sebentar aja."


"Iya, mba" sahut Tama, lalu mengarahkan motornya menuju bangunan besar tempat dimana Eby dulu bekerja.


"Aku tunggu di loby aja ya mba, mba nggak lama kan?"


"Ya, sebentar aja kok."


Niatnya, Eby ingin menanyakan lowongan pekerjaan pada mantan bosnya dulu. Dia ingin kembali mengais rejeki di tempat itu, sebab ia sadar hidup terus berjalan , sementara tabungannya semakin menipis. Ia harus mencari penghasilan untuk menyambung hidup. Gajinya memang tidak akan sebesar seperti saat ia bekerja di luar, namun mau bagaimana lagi? Dia tidak mungkin meninggalkan sang ayah terlalu jauh.


Setelah pertemuan singkatnya dengan sang mantan bos, Eby segera menemui Tama kembali.

__ADS_1


Mereka harus cepat kembali ke kota asal mereka, untuk menunggui sang ayah di rumah sakit.


__ADS_2