
"Langsung pulang, kita ini?" tanya Harry saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Eby melihat jam di pergelangan tangannya. Ia menghitung dalam hati, waktu sampainya di rumah.
"Baru jam dua, sampe rumah jam empat. Kepagian kayanya bikin orang rumah terkejut. Ntar dikira mahluk halus lagi, yang nyamar jadi aku." ucap Eby sambil terkekeh.
"Ada-ada aja kau ini. Trus kemana dulu kita?" Harry hanya bisa menggelengkan kepala mendengar celetukan sepupunya itu.
"Cariin aku hotel aja gimana? Tiba-tiba ngantuk lagi, habis makan."
"Tidur di kostan ku aja, sayang uangnya pake sewa hotel beberapa jam." saran Harry.
"Kamu kost sama siapa? Nggak enak ganggu penghuni lain subuh-subuh begini."
"Udah biasaaaa. Sebagian besar penghuni kost di sana tuh sopir travel, ada juga yang kerja di klub malam. Jadi nggak bakal ada yang komplain. Kami hidup individual." terang Harry
"Trus kalau aku tidur di kostmu, kamu di mana donk?"
"Gampang ... Aku bisa nebeng di kamar temenku."
Sejenak Eby berpikir, menimbang tawaran sepupunya. Namun tanpa Eby sadari, mobil Harry sudah masuk jalan kecil menuju kostannya.
"Sudah sampai, ayo turun." Harry mematikan mesin mobil, membuat Eby terkejut.
__ADS_1
"Hah ... Kok, cepet banget?"
Eby membuka pintu mobil dengan mata melihat sekeliling.
"Ry, kostanmu deket rumah sakit pusat, kan?" tanyanya meyakinkan.
Meski ia tinggal cukup lama di negara orang, namun Eby masih ingat jarak bandara menuju tempat kost sepupunya cukup jauh. Sekitar tiga puluh menit perjalanan, jika tidak terjebak macet.
"Aku udah pindah. Sekarang kost di sini, biar deket bandara, sama kantor agen aku." jelas laki-laki itu.
"Ooo," Eby tidak lagi bertanya. Ia mengikuti langkah Harry yang berjalan terlebih dahulu menuju lantai dua kostan tersebut.
Benar kata sepupunya, di kostan itu masih ada beberapa orang yang terdengar tengah mengobrol di dalam kamarnya. Ada juga orang yang baru datang, entah dari mana. Bahkan di lantai bawah, Eby melihat salah satu pintu kamar yang tidak tertutup, seorang wanita tengah berbincang dengan temannya sembari menikmati sebatang rokok.
Kostan Harry memang benar-benar bebas menurutnya.
"Sorry agak berantakan, belum sempat beberes aku," ucap laki-laki itu sedikit malu, sembari membuka pintu kamar yang sebelumnya terkunci.
Eby masuk. Melihat sekeliling kamar, yang lampunya memang menyala.
Menurutnya, kamar Harry tidak terlalu berantakan. Untuk ukuran pria bujang, yang jam kerjanya tidak teratur, kamar sepupunya itu bahkan termasuk rapi.
"Nggak berantakan kok kamarmu, rapi malah, menurutku."
__ADS_1
Harry menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tersenyum canggung. Sepertinya seseorang sudah membersihkan kamarnya saat ia tinggalkan.
"Kau tinggal sama siapa di sini?" tanya Eby penuh selidik.
"Sendiri," sahut Harry.
Eby menganggukkan kepalanya. Meski ia melihat kebohongan dari sepupunya, ia tidak ingin terlalu mendesak. Biarlah itu menjadi urusan pribadi Harry.
"Aku tinggal ya, jangan lupa kunci pintunya dari dalem."
"Oh, iya. Makasih ya Ry."
Harry mengangguk.
"Aku pergi ya, eh nanti jam berapa kita berangkat?" Harry mengurungkan niatnya hendak melangkah keluar.
"Jam tujuh ato setengah lapanan lah,"
"Ok."
Harry benar-benar keluar dari kamarnya.
Setelah mengunci pintu, Eby yang lupa mengambil pakaian di dalam kopernya, terpaksa menggunakan pakaian yang sama yang sudah ia gunakan lebih dari dua belas jam.
__ADS_1
Lelah dan kantuk segera membuainya, saat ia baru merebahkan tubuh di atas kasur empuk milik sang sepupu.
Mimpi indah Eby, semoga setelah ini tidur nyenyak masih bisa kamu nikmati, meski kenyataan pahit datang tanpa permisi.