Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 59


__ADS_3

Eby baru saja keluar dari ruang massage, ia tersenyum cerah, sebab customer merasa puas dengan pelayanan yang ia berikan, dan mendapatkan tips yang banyak dari customer itu.


Ia lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang yang tersedia khusus untuk para staf. Matanya terpejam, merasa lelah tapi juga bahagia.


"By, dicariin tuh!" salah seorang temannya memanggil.


Belum sempat Eby bertanya, seseorang sudah berdiri di depannya. Pakaiannya lusuh, wajahnya pun lesu. Sorot mata penuh penyesalan jelas nampak dari manik yang terlihat cekung, sebab tulang pipinya begitu menonjol.


Eby terperanjat. Matanya nanar menatap sosok yang ada di depannya. Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan dengan kata, kini meriap memenuhi hatinya.


Kasihan, marah, sedih, kecewa, dan terluka, menjadi satu membuat tubuhnya membeku.


Laki-laki itu meraih tangan Eby, menangkup dengan kedua tangannya yang kurus. Hanya tulang terbungkus kulit, tak ada daging apalagi lemak hingga membuat urat-urat diantara jarinya begitu jelas seperti kabel yang saling berpencar.


Eby tersentak saat merasakan sentuhan dingin itu.


Ia lalu menghempas tangan laki-laki yang dengan lancang telah menggenggamnya.


"Ngapain kamu kesini? Pergi!" titahnya dengan nafas memburu. Tiba-tiba saja emosinya melonjak naik, ia menatap nyalang pada sosok ringkih itu.


"By, maafin aku. Aku menyesal. Kesalahanku sangat fatal hingga---"

__ADS_1


"Kalau sudah tau kesalahanmu itu fatal, untuk apa kamu datang lagi?"


"Aku mau minta maaf, By. Aku mohon, kamu mau kembali. Aku butuh kamu, By."


Eby tersenyum sinis. Melipat kedua tangannya di depan dada, wanita itu menatap tajam sosok ringkih di depannya.


Namun sekelebat ingatan tentang laki-laki itu, menghentikan umpatan yang sudah di ujung lidahnya.


Mata Eby meredup, tanpa terasa bulir kristal menetes satu persatu membasahi pipinya.


"Kamu jahat, Will. Kamu menghancurkan hatiku hingga menjadi debu. Kamu mengkhianati dan membohongi aku dengan begitu kejamnya. Kamu nggak berhak melakukan ini, tapi kamu melakukannya! Apa salahku, Will? Apa kurangku selama ini sama kamu? Kenapa kamu setega ini mematahkan hatiku? Kamu melukai aku, di ujung asakau meraih bahagia, disaat semua sudah ada di depan mata. Kamu kejam Wil, kamu nggak punya hati," Tangis Eby pecah, ia menjatuhkan tubuhnya di atas karpet tempatnya berpijak. Menangis pilu, penuh rasa sakit.


"Aku nggak bermaksud membuat kamu terluka, By. Maafkan aku, terlalu menuruti nafsu. Kini aku mendapatkan karmanya, aku benar-benar menyesal," sahut laki-laki lusuh itu, ikut bersimpuh di depan Eby.


"Nggak, By. Aku nggak mau. Cukup sekali aku kehilangan kamu, aku nggak akan melepasmu untuk kedua kalinya!"


Mata yang semula penuh sesal itu, kini berubah tajam dan menakutkan. Eby sampai bergidik ngeri melihatnya.


"Pergi Will! Aku nggak mau liat kamu lagi!"


"Nggak!" Willi mencengkeram tangan Eby, berniat membawa wanita itu bersamanya.

__ADS_1


"Will aku mohon, pergi!!!" Tolak Eby, berusaha melepas cekalan William yang menariknya begitu kuat. Ia terseret beberapa langkah. Sekuat tenaga ia melepaskan diri, hingga akhirnya ia berhasil lepas, dan ia terhempas.


Eby tersentak kaget. Nafas memburu, peluh membanjiri sekujur tubuhnya, saat ia terjaga dan menyadari semua hanya mimpi. Tapi kenapa seperti nyata rasanya?


Eby berusaha menenangkan diri, mengatur nafas berulang kali, agar detak jantungnya normal kembali.


Ia meraih ponsel yang tergeletak di lantai, samping kasurnya.


"Baru jam tiga," gumamnya pelan. Namun karena mimpi buruk itu, matanya kini tak lagi bisa terpejam. Ia gelisah dan takut. Berkali-kali melihat sekeliling kamarnya, takut ada sesuatu yang mencurigakan. Tidak ada yang aneh. Tapi kenapa rasanya seperti ada yang mengawasi?


Ia bangkit, merapikan kembali sprei polos berwarna hijau Sage itu, menyapunya dan membalik bantal yang ia gunakan, merubah posisi berkali-kali, namun kejadian dalam mimpinya itu terus membayang, mengganggu ketenangannya. Cukup lama ia gelisah, memaksakan diri untuk kembali terlelap, namun sia-sia.


Dan akhirnya ia memilih film dari YouTube untuk menemaninya menghabiskan sisa malam. Hingga ia terlelap kembali dengan tayangan film masih setia menemaninya.


Eby membuka matanya dengan malas, rasa ngantuk masih menguasai hingga ia enggan bergerak. Entah jam berapa ia kembali tertidur.


Kantung kemihnya yang sudah penuh, memaksa wanita itu untuk bangun, dan membuangnya di dalam kamar mandi. Tubuhnya terasa remuk, matanya perih dan berair.


Meski sudah sempat tidur kembali, namun entah kenapa mimpi itu masih terus menari di kepalanya, hingga tanpa sadar Eby kembali mengingat William yang sudah lama terlupakan keberadaannya.


Ia mengintip dari lubang berbentuk kotak di tembok atas kamar mandi, hari sudah terang. Itu berarti ia bangun kesiangan hari ini. Rencana hendak pergi ke pantai saat matahari belum terbit pun urung gara-gara mimpi yang mengganggunya.

__ADS_1


Setelah membersihkan diri, Eby melajukan motornya mencari sarapan. Entah kenapa ia begitu malas hari ini. Enggan melakukan apapun, bahkan sekadar membuat telur dadar untuk mengisi perutnya pun ia enggan.


Bersyukur ini adalah hari liburnya, sehingga ia bisa menikmati rasa malas sepuas hati.


__ADS_2