Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 34


__ADS_3

Dengan takut Elin menuruti ucapan Eby. Tatapan tajam sang kakak, membuat gadis itu benar-benar menciut.


"By,"


"Bu, kali ini biarkan aku bicara. Aku nggak akan memukul atau melukai fisiknya. Ibu boleh ke kamar temani ayah." Eby memotong ucapan ibunya, sebelum wanita itu melanjutkan kalimat.


Dengan berat hati Karina pergi meninggalkan dua anaknya di meja makan.


Setelah kepergian ibunya, Eby kembali fokus pada Elin yang sejak tadi belum berani mengangkat kepala.


"Dari mana saja kamu?" tanya wanita itu. Elin diam, tidak berani menjawab pertanyaan kakaknya.


"Apa kamu tidak bisa bicara?" desaknya lagi, tidak sabar menunggu jawaban sang adik.


"Dari rumah temen, Mba. Ada tugas kelompok."


"Dari pagi?"


"Tugasnya banyak, Mba."

__ADS_1


"Coba liat, bawa ke mari bukunya." titah Eby. Elin tidak bergerak sedikit pun, ia tidak berani menunjukkan buku yang diminta sang kakak. Karena sebenarnya, tugas kelompok itu hanya alasan yang ia berikan. Elin dan teman-temannya tidak mengerjakan tugas apapun, mereka justru bersenang-senang hingga lupa waktu.


"Kenapa diam aja? Mana bukunya, mba liat."


"Mmm masih di rumah temen, Mba." bohong gadis itu.


"Besok bawa pulang ya, kasih tunjuk ke mba, apa aja yang kamu kerjakan."


"Iya, Mba."


"Ya sudah, sekarang istirahat."


"Baik, mba." Elin dengan cepat bangkit dari kursi kayu yang ia duduki. Namun langkahnya terhenti saat mendengar ultimatum dari Eby.


Sementara Elin, dengan langkah gontai gadis itu menuju kamarnya. Entah apa yang akan ia lakukan besok. Masih berbohong, atau akan jujur mengakui kesalahannya?


🌟🌟🌟


Aktifitas di rumah Eby pagi itu berjalan seperti biasa. Setelah selesai membuat sarapan, Karina bersiap ke sekolah tempatnya mengajar. Elin pun sama, gadis itu bersiap untuk berangkat sekolah. Tersisa Eby dan Lingga, yang memang sudah berhenti dari tempat kerjanya setelah serangan struk beberapa bulan lalu.

__ADS_1


"Jangan lupa pesan mba tadi malam, Lin. Bawa pulang buku catatan yang mba minta, dan jangan telat pulang ke rumah." ucap Eby, saat melihat elin tengah memakai sepatu di ruang tamu.


"Iya, mba." sahut Elin pelan.


"Catatan apa?" tanya Karina penasaran.


"Catatan yang ia buat kemarin, sampai lupa waktu. Katanya karena buat tugas. Aku mau liat, seberapa banyak guru ngasih dia tugas setiap hari." sahut Eby, dengan ujung mata melirik ke arah sang adik.


Karina diam, tidak lagi melanjutkan obrolan. Wanita itu memilih sibuk menata bekal yang akan ia bawa, juga menyiapkan keperluan suaminya.Sisanya, Eby yang akan mengerjakan semua. Terkadang dibantu sang nenek yang rumahnya memang berdekatan.


"By, ibu berangkat dulu ya. Jangan lupa nanti sarapan untuk ayah, kurangi micin sama garamnya."


"Iya, Bu. Eby ingat kok. Ibu hati-hati ya."


"Kamu jaga diri ya, jangan terlalu dipikirkan apa yang sudah terjadi."


"Iya, Bu."


Memang, bila di rumah, Eby jarang punya waktu untuk memikirkan masalah pribadinya. Ia fokus mengurus Lingga, atau kadang bercengkrama dengan sang nenek. Sebisa mungkin ia menekan perasaan sakit dan kegamangan di depan keluarganya.

__ADS_1


Itu sebabnya, sering kali ia memilih pergi ke pantai di dekat rumah, bila malam hari, untuk menumpahkan segala sesak dan kesedihan yang menekannya.


Bila dipikir, hidup memang sesadis itu memainkan perasaannya. Dilukai, dikhianati, namun tidak diberi waktu menikmati patah hati. Harus bisa tenang, bisa kuat, sebab keadaan orang-orang di sekitar membutuhkan ketangguhannya.


__ADS_2