Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 36


__ADS_3

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Eby memutuskan datang, menemui William. Karena merasa kasihan pada kedua orang tua, serta kakak perempuan mantan kekasihnya, yang terus menghubungi setiap waktu. Dan di sinilah Eby dan Ratih kini. Di salah satu ruang rawat inap kelas 1 dimana William terbaring lemah tak berdaya.


"Kenapa kalian memintaku datang ke sini? Aku bukan dokter ataupun orang pintar yang bisa menyembuhkan Willi. Kalian salah meminta orang untuk datang," ucap Eby sesaat setelah Wilona mempersilahkannya duduk di sebuah sofa panjang, dekat ranjang pasien.


"Maafkan kami, Nak. Berkali-kali kami merepotkan kamu, tapi hanya ini upaya yang bisa kami lakukan demi kesembuhan Willi. Ibu tau. Willi dan kami sebagai keluarganya, sudah banyak mengecewakan kamu. Dan sekarang dengan tidak tahu malunya kami meminta kamu datang untuk menolong." Wanita paruh baya, yang begitu menyayangi Eby dulu, menekuk lutut di hadapan mantan calon menantunya.


Eby terkejut, dan seketika menggeser kakinya, menghindari sentuhan tangan wanita yang usianya bahkan lebih tua dari Karina, sang ibu.


"Bu," ucapnya menghentikan.

__ADS_1


"Ibu mohon sama kamu, By. Maafkan kesalahan Willi. Ikhlaskan semua yang terjadi. Ibu sadar, dosa dia terhadap kamu sangat besar. Mungkin itu yang membuatnya terpuruk seperti saat ini. Setiap saat,dia selalu menyebut nama kamu. Disela erangan sakitnya, selalu nama Eby yang terucap," ucap wanita itu dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya.


Eby yang ikut duduk di lantai, sembari mengusap bahu paruh baya itu, semakin dibuat bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Meski awalnya ia tidak ingin terlalu jauh ikut campur, tapi akhirnya ia tidak bisa menahan rasa penasaran.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Bu? Kenapa bisa jadi seperti ini? Istrinya Willi mana? Bukankah harusnya dia yang merawat Willi sekarang?" cecar Eby penuh rasa ingin tahu.


Wanita itu akhirnya menceritakan semua yang terjadi, yang menimpa anak laki-laki satu-satunya itu.


Lalu diam-diam mereka mencari bantuan ahli agama, menceritakan keresahan yang dialami keluarga. Dan disarankan Willi untuk dibersihkan secara spiritual, sebab orang tersebut merasa curiga jika Willi kena ilmu hitam.

__ADS_1


Lalu akhirnya dimulailah proses pembersihan diri William. Namun rupanya tidak semudah itu menghilangkan pengaruh negatif yang sudah terlanjur melekat di tubuh Willi. Kata orang pintar yang dimintai tolong pembersihan itu, kekuatan gaib yang menguasai Willi, sudah masuk ke darah dan daging laki-laki itu. Hingga sangat sulit untuk melepaskannya.


Orang tua Willi tidak patah semangat, ia kembali mencari bantuan orang pintar lain, yang diharapkan bisa menolong. Dan syukurnya berhasil. Perlahan, Willi kembali ingat dirinya. Sudah bisa mengendalikan diri, dan mulai ingat pada Eby. Disaat itulah ia menyadari kesalahan yang diperbuatnya. Ia kembali terpuruk, dan Amanda tidak melepaskan kesempatan itu untuk menariknya kembali. Bahkan Amanda mengancam akan mencelakai, William bila laki-laki itu tidak kembali padanya.


"Perempuan itu bilang, kalau dia nggak bisa memiliki Willi seutuhnya, maka lebih baik Willi mati. Daripada Willi dimiliki perempuan lain. Di depan mata ibu sendiri dia bilang itu, By. Bagaiman nggak sakit hati ibu?" Eby yang mendengar hanya bisa menarik nafas dalam. Mencoba menetralkan debaran jantungnya yang berdetak dengan cepat. Merasa takut sekaligus miris mendengar rangkain cerita yang keluar dari mulut ibunya Willi.


"Trus sekarang dia dimana, Bu? Lalu anaknya gimana?" tanya Eby lagi.


"Dia kembali ke rumah orang tuanya. Dan itulah, anaknya dijadikan alasan agar Willi terus terikat dengan dirinya. Ibu sudah bilang berkali-kali pada Willi, jangan sembarangan mau datang sendiri menemui perempuan itu, tapi entah kenapa dua hari lalu tiba-tiba Willi menghilang. Kami panik mencarinya, dan akhirnya kamu yang menemukan dia. Ibu belum sempat nanya, apakah dia ke rumah perempuan itu, atau kemana? Tapi ibu yakin, mereka pasti bertemu sebelum ini. Ibu yakin, yang menimpa Willi kali ini pasti karena perempuan itu!"

__ADS_1


Wilona yang menyadari ibunya sudah terbawa emosi, segera menghampirinya. "Bu, jangan diteruskan lagi. Tahan emosi ibu. Jangan terpancing, nanti ibu malah drop. Siapa yang akan jaga Willi kalau ibu sakit?" Bujuk Wilona.


__ADS_2