
Eby tidak dapat memejamkan matanya barang sekejap. Meski ia sudah mematikan semua lampu bahkan lampu tidurnya. Pikiran buruk terus menghantui, mengingat ucapan Harry beberapa jam yang lalu.
Bagaimana ia harus menyelesaikan masalah ini? Ini sudah di luar batas. Ia tidak bisa menutup mata lagi. Namun ia masih ragu, membahasnya dengan sang ibu, artinya ia membuka pintu pertengkaran kembali.
Ia meraba ponsel yang tergeletak di atas meja. Membuka aplikasi chat dan mencari nama sang adik. Segera ia menghubungi nomor yang baru setengah jam yang lalu terlihat aktif.
"Halo, Mba, ada apa?" sapa suara dari seberang.
"Ma, lagi di mana?" tanya wanita itu sekadar berbasa-basi.
"Di kost, baru beres bikin tugas. Tumben Mba telepon tengah malem? Ada apa?" tanya Tama terdengar khawatir.
"Nggak. Lagi nggak bisa tidur aja,"
"Kok bisa? Masih kebayang liburan singkatnya ya?" goda sang adik yang tahu dirinya sempat berlibur bersama Murat.
"Apaan sih, biasa aja," sanggah Eby.
__ADS_1
"Ma,"
"Iya,"
"Tadi Harry ke sini, kebetulan pas mba baru sampai ...."
"Ck pasti ngomongin soal Elin, kan? Udah lah, Mba. Biarkan saja maunya dia apa. Ngapain mikirin orang yang lagi senang-senang?" Tama memotong ucapan sang kakak, karena sudah tahu apa yang akan dibicarakan. Dan sebenarnya ia merasa enggan membahas hal yang sama berulang kali. Toh tidak pernah ada solusi yang tepat untuk masalah yang satu itu.
"Jangan gitu, Ma! Biar gimanapun, dia tetap adik kita. Kalau ada apa-apa, kita juga yang repot."
"Dia udah besar, Mba. Udah tamat SMA. Dia mestinya udah tau mana yang baik dan yang nggak baik untuk hidupnya. Yaa, seperti yang dibilang Ibu selama ini,"
Terdengar dengusan dari mulut Tama.
"Urusannya dia lah, Mba. Aku udah nggak mau ambil pusing lagi. Jalani hidup masing-masing aja, toh dia juga nggak mikirin keluarga. Sekarang ini, aku mau fokus sama kuliah aku aja, biar cepet lulus, trus kerja. Aku pengen bantu Mba Eby urus biaya pengobatan Bapak. Itu aja yang ada di kepala aku. Yang lain, biarkan saja mereka dengan jalan hidup yang mereka pilih. Mba juga, jangan terlalu dalam memikirkan orang lain. Belum tentu dia mikirin Mba. Waktunya Mba memikirkan kebahagiaan Mba sendiri," sahut Tama panjang lebar.
"Aku nggak bisa kayak kamu, Ma. Biar gimanapun juga, Elin tetep adik kita. Seburuk apapun tingkah lakunya, dia tetap orang terdekat dalam hidup kita."
__ADS_1
"Iya aku tau, aku juga nggak bilang kalau nggak mengakui dia sebagai adik, kan? Hanya saja, sudah cukup, jangan lagi kita terlalu jauh ikut campur sama urusannya. Apapun yang dia lakukan, dia sudah tau konsekuensinya seperti apa. Bukannya apa-apa, Mba. Sering kali kita berniat membantu, tapi malah dianggap mengganggu oleh orang lain. Bahkan karena niat baik, kita jadi bertengkar dan disalahkan. Mending kalau akhirnya dia berubah, seenggaknya perjuangan kita sampai bertengkar dengan ibu ada hasilnya. Tapi kenyataannya sekarang? Dia malah semakin berani, bahkan pergi ke sana dengan teman-temannya, tanpa peduli resiko yang dia hadapi."
Eby menarik nafas panjang. Benar memang apa yang adik laki-lakinya itu katakan. Ia tidak bisa terlalu jauh mencampuri urusan Elin. Tapi ini menyangkut nama baik keluarga, ia tidak bisa membiarkan begitu saja adik perempuannya berulah sesuka hati.
Bagaimana orang tuanya akan dipandang di masyarakat? Bagaimana dia akan menghadapi gunjingan-gunjingan para tetangga? Belum lagi kesehatan sang ayah yang pasti akan berpengaruh, jika sampai hal ini masuk ke telinganya.
"Ya sudah lah. Kalau gitu mba matiin ya teleponnya. Kamu jaga kesehatan, jangan terlalu memforsir tenaga dan pikiran kamu. Nanti, bukannya lulus cepet malah jadi sakit."
"Iya Mba, tenang aja. Mba juga jaga kesehatan ya, jaga kewarasan juga. Oh ya, kapan-kapan ajak aku ke tempat glamping itu donk," ucap Tama bermaksud menggoda sang kakak.
"Iya, nanti kalau mba ada rejeki lebih, mba ajak kamu ke sana."
Eby menghela nafas ketika panggilan itu berakhir. Obrolan tanpa solusi yang terjalin antara dirinya dengan Tama, hanya menyisakan keresahan yang semakin membuatnya sulit terlelap.
Ia tidak lantas menyimpan kembali benda pipih nan canggih itu. Rasa kantuk yang belum mau menyapa, membuat Eby memilih berselancar ke dunia maya. Hal yang selama ini sangat jarang ia lakukan.
Belum ada sepuluh menit Eby menikmati tontonan di ponselnya, sebuah panggilan masuk merusak kesenangannya. Dan sialnya lagi, ia refleks menggeser tanda hijau di layar itu. Mau tidak mau Eby akhirnya menyapa seseorang dengan nomor yang tidak dikenalnya.
__ADS_1
"Halo," sapa Eby
"Katanya capek, mau langsung tidur sampai aku nggak boleh mampir. Ini kenapa dari tadi aku liat kamu online terus?" suara Murat terdengar dari seberang. Sangat jelas nampak kekesalan menyelimuti nada bicaranya.