
Menggunakan mobil Harry, mereka bertiga menuju salah satu wisata kuliner malam hari, yang cukup terkenal di kota itu.
Suasana ramai menyambut mereka, setengah kilometer dari tempat yang akan mereka tuju.
"Dapet parkir nggak di sana nanti, Ry? Kayak rame banget?" komentar Eby, menyadari padatnya kendaraan yang berlalu lalang.
"Trus gimana donk? Apa kita cari tempat lain aja?"
"Aku maunya di sana. Masa udah jauh-jauh datang, nggak jadi makan di sana?"
"Tadi kamu sendiri yang nanya, apa di sana ada tempat parkir atau nggak?! Gimana sih?" kesal Harry.
"Ya maksud aku, cari tempat parkirnya di luar aja, nggak apa-apa jalan agak jauh dikit, timbang nanti kena macet?"
"Ngomong donk dari tadi." Harry bersungut sembari melihat kiri-kanan, sekiranya ada tempat untuknya memarkirkan mobil.
Tama hanya bisa menggelengkan kepala, menyaksikan perdebatan kakak dengan kakak sepupunya yang seperti tidak akan pernah habis.
Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, mereka turun dan segera menuju pasar yang Eby inginkan.
Harry dan Tama hanya bisa menarik nafas pasrah, saat Eby mengajak keduanya membeli setiap makanan yang menarik mata wanita itu.
"Mba Eby kenapa mas? Kayak beda banget suasana hatinya hari ini?" bisik Tama di telinga Harry.
__ADS_1
"Nggak tau, mungkin dapet pencerahan kali dia, di kostannya si Santi." sahut Harry asal.
"Kemarin aja pas aku ajak dia ke mangrove, wajahnya masih tetep datar. Tapi tadi pas baru pulang dari kostan Santi, wajahnya agak lebih cerah." lanjut Harry lagi.
Mereka merasa aneh dengan sikap yang Eby tunjukkan. Wanita itu seakan tidak memiliki beban pikiran apapun saat ini. Seolah lepas semua masalah yang beberapa hari membelenggu dirinya.
"Ma, kamu mau makan apa?" tanya Eby yang melangkah di depan.
"Eee apa aja lah, mba."
"Kamu, Ry? Mau makan apa?"
"Mmm aku, bebas aja. Terserah kamu mau makan apa."
Dan akhirnya, mereka terdampar di salah satu warung makan khas Bali, yang menyediakan menu nasi campur.
Mereka menikmati hidangan dengan khidmat. Tidak ada satu pun diantara ketiganya yang memulai obrolan.
Setelahnya, Eby masih betah berkeliling membeli beberapa jajanan pasar yang ada di sana.
Ia seolah lapar mata, membeli apapun yang menarik perhatiannya.
Crepes, kebab, sosis bakar, corn dog, Boba, dan beberapa menu penyubur lemak lain, sudah wanita itu kantongi.
__ADS_1
Merasa belum puas, Eby hendak melangkah menuju penjual martabak asin, yang kebetulan ia lewati.
"Mba, mau beli apa lagi?" Tama menahan langkah sang kakak.
"Martabak telor kayaknya enak, Ma. Mba mau beli." sahut Eby sembari menatap gerobak penjual martabak.
"Mba, liat apa aja yang udah kita beli hari ini. Jangan lapar mata, memangnya mba bisa habiskan semuanya nanti?"
Tama menunjuk tentengan plastik yang ia bawa.
Eby meringis, melihat ternyata sudah banyak jenis makanan yang ia bungkus.
"Tapiii, martabak telor ...."
"Masih ada hari esok, mba. Jangan habiskan uangnya malam ini. Kasihan nanti mubazir," nasihat Tama, yang syukurnya berhasil menghentikan niat Eby untuk belanja lagi.
Akhirnya mereka kembali ke dalam mobil, di mana Harry sudah menunggunya. Laki-laki itu tidak mau mengekor di belakang Eby, sebab merasa bosan menunggu di tiap stand makanan.
"Buseeet, By! Kau beli apa aja?"
Harry dibuat melongo dengan tentengan yang dibawa oleh Tama.
__ADS_1